ita DK
ita DK penulis travel

pecinta traveling dan kuliner

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Jembatan Multiguna Tanah Abang Tidak Mengubah Perilaku

19 April 2019   15:26 Diperbarui: 20 April 2019   14:06 721 12 5
Jembatan Multiguna Tanah Abang Tidak Mengubah Perilaku
Jembatan multiguna Tanah Abang (dok asita)

Sudah enam bulan saya tidak berbelanja di Pasar Tanah Abang. Sabtu minggu lalu sengaja saya datang ke Tanah Abang dengan naik kereta api agar bisa mengakses jembatan multiguna Tanah Abang yang bisa mengakses langsung pejalan kaki mulai keluar pintu Stasiun Tanah Abang sampai ke  Blok F Pasar Tanah Abang.

Keluar dari Stasiun Tanah Abang saya sudah tidak perlu menginjakkan kaki lagi di trotoar Jalan Jatibaru tapi langsung menyusuri jembatan toko yang disebut jembatan multiguna atau skybridge tersambung langsung sampai Blok F. 

Di atas jembatan, semua kios yang berjualan aneka ragam seperti baju muslim, jilbab, baju anak-anak terisi penuh. Transaksi jual-beli saya lihat cukup ramai. Baju-baju yang dijual tergolong murah untuk baju blus wanita sekitar Rp 35.000 sampai Rp 50.000. Baju anak ada yang berharga Rp 25.000. Sambil berjalan, kita bisa cuci mata melihat baju-baju yang dipajang.

Dari atas penyebrangan jalan, saya memperhatikan di bawah bagian trotoar ternyata masih banyak juga pedagang kaki lima yang berjualan. Perilaku pedagang kaki lima tidak berubah. Padahal Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melarang pedagang kaki lima  untuk menggunakan jalan dan trotoar di Jalan Jatibaru Raya.

Pejalan kaki dipaksa menggunakan skybridge atau jembatan penyeberangan multiguna. Para pejalan kaki dari arah Pasar Tanah Abang yang hendak menggunakan KRL harus melintas melalui skybridge menuju Stasiun Tanah Abang. Sehingga yang berjalan kaki di trotoar bukan pengguna kereta api tetapi masyarakat penghuni sekitar Tanah Abang.

Suasana toko di jembatan multiguna (dok asita)
Suasana toko di jembatan multiguna (dok asita)
Sementara itu, pengguna transjakarta yang hendak melanjutkan perjalanan menggunakan KRL, bisa langsung menuju stasiun melalui tangga dekat halte transjakarta.

Pagar pembatas setinggi 1 meter telah dipasang di tengah Jalan Jatibaru Raya dan di sepanjang trotoar sehingga mempersulit para pejalan kaki untuk melompatinya. Kebijaksanaan ini sempat membuat protes dari Koalisi Pejalan Kaki yang  mengkritik Pemprov DKI mematikan fungsi trotoar yang sudah dibangun untuk pejalan kaki.

Seharusnya akses awal dan utama pejalan kaki di kawasan itu adalah trotoar dan zebra cross. Ia meminta keberadaan skybridge tidak menghilangkan aktivitas menyeberang di jalan. Diharapkan Pemprov DKI mengedepankan pejalan kaki. Ia mengusulkan pembangunan pelican crossing atau zebra cross yang memudahkan pejalan kaki.

Petunjuk arah di jembatan multiguna (dok asita)
Petunjuk arah di jembatan multiguna (dok asita)

Hampir satu tahun sejak Gubernur DKI, Anies Bawesdan menjabat, Jalan Jatibaru Raya sengaja akses jalannya ditutup untuk penampungan pedagang kaki lima. Akibatnya jalan-jalan seputar Tanah Abang bertambah macet dan perilaku pedagang kaki lima selama hampir satu tahun menguasai jalan raya mengakibatkan susah mengubah perilakunya untuk tidak berjualan di trotoar.

Ditambah, sikap para satpol yang kurang keras dan disiplin menghadapi pedagang kaki lima yang jualan di trotoar. Akibatnya sekarang trotoar seputar Tanah Abang tidak ada yang steril dari kaki lima.

Tampak jembatan multiguna dari Jl Jatibaru (dok asita)
Tampak jembatan multiguna dari Jl Jatibaru (dok asita)

Saya beberapa kali tidak terhitung datang ke Pasar Tanah Abang dan melihat perkembangannya selama 10 tahun terakhir. Saya kira, jembatan multiguna perlu diberi apresiasi.

Selain memudahkan pengguna kereta api untuk mengakses jembatan menuju Pasar Tanah Abang tanpa berjalan kaki di trotoar. Juga pejalan kaki tidak perlu kepanasan dan kehujanan serta mengurangi kemacetan di Jalan Jati Baru Raya, karena mengurangi jumlah pejalan kaki yang berjalan di trotoar dan menyebrang jalan.

Tetapi dilemanya hal ini mengurangi penghasilan sopir bajaj dan angkutan kota. Memang mengatur tata kota tidak mudah. Tetapi Tanah Abang harus tetap dibenahi agar trotoarnya bebas dari pedagang kaki lima dan memberi kenyamanan bagi pejalan kaki. Disiplin lalu lintas dan kebersihan juga harus terjaga.