Mohon tunggu...
Arifin BeHa
Arifin BeHa Mohon Tunggu... Penulis - Wartawan senior tinggal di Surabaya

Wartawan senior tinggal di Surabaya. Dan penulis buku.

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Memetik "Buah" Pilpres 2019

14 April 2019   20:08 Diperbarui: 15 April 2019   07:24 131
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Nur Rahmaan Hasyim memotret parcel Lebaran (DokPri)

Teman saya masih muda. Lulusan Strata 1 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik  Universitas Airlangga Surabaya Rumah tinggalnya tak berjauhan dari kediaman saya.

Lulus kuliah bekerja di Bank Jawa Barat Cabang Jawa Timur. Lalu ia tinggalkan. Ikut tes PNS di Komisi Pemilihan Umum. Alhamdulillah lolos, dan ditempatkan di KPUD Kalimantan Utara. Sebuah wilayah perbatasan. Antara Negara Indonesia dengan Malaysia. Saya kira, pilihan ini sudah dipikirnya masak-masak. Sebuah pengabdian untuk Nusa dan Bangsa.

Dia sepantaran anak saya. Pada saat Sekolah Dasar pernah sakit. Orangtuanya menerima ikhlas cobaan itu. Sampai opname di Ruang Syaraf RSU Dr. Soetomo, Surabaya. Tangan dan kakinya sempat diikat. Lantaran bersikeras ingin pulang.

Ujian akhir SD sudah di ambang pintu. Keluarganya minta bantuan saya memotret, untuk keperluan administrasi sekolah. Kedua orangtua tak mungkin membawa anak kecil "pemberontak" ini ke studio foto. Sejak itu dia gemar kamera. Kemudian sama-sama hobi fotografi. Kami jadi dekat. Berkali-kalia tukar pendapat. Terkadang saya selingi candaan. Untuk memompa semangat. Agar dia termasuk insan yang kuat. 

Akhir tahun 2018. Malam hari, persis menjelang libur Hari Natal dia mengirim pesan WhatApps. Membahas macam-macam hal. Termasuk soal Pemilu. Pemilihan Presiden atau Pilpres. Dia 'orang dalam' KPU mestinya lebih tahu dari saya. Sebelum berakhir saya selipkan pesan. Pesan normatif. Tentang kebaikan.

Men..! -namanya Nur Rahmaan Hasyim, tapi saya biasa memanggil: Men). Situasi seperti sekarang perbanyaklah doa. Saya memberi istilah: "doa menyalip di terowongan".

Zaman sekarang. Terlebih jelang Pilpres banyak orang ribut. Gaduh atau kisruh. Tentu saja soal politik. Nah, disaat seperti itu, cepat-cepatlah kita berdoa. Untuk diri sendiri dan keluarga. Pada saat mereka kisruh ruang berdoa sedang kosong. Kita masuk. Menyalip di terowongan.

Dahulu, semasa kecil. Ada permainan. Dua anak saling berhadapan. Masing-masing telapak tangan dipertemukan, membentuk semacam terowongan. Anak-anak lainnya berbaris. Berjalan melewati dua tangan tadi. Seolah-olah menerobos terowongan. Mereka lantas bernyanyi riang. Begini syairnya:

Sapu tangan dikibaskan. 

Terbuat dari kain. 

Bagusnya bukan main. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Analisis Selengkapnya
Lihat Analisis Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun