Mohon tunggu...
@Arie
@Arie Mohon Tunggu... Orang biasa yang mau berfikir luar biasa. that" ist #email : ari.ponty@gmail.com,

Orang biasa, yang mau berfikir luar biasa. Hobi menulis sejak remaja, sayangnya baru ketemu Kompasiana. Humanis, Humoris, Optimis. Menjalani hidup apa ada nya.@ Selalu Bersyukur . Mencintai NKRI. " Salam Satu Negeri,!!" MERDEKA,!!

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Batinku Luka Parah(Eps. 18)

15 September 2019   08:00 Diperbarui: 9 Oktober 2019   15:36 0 2 1 Mohon Tunggu...
Batinku Luka Parah(Eps. 18)
Batinku luka parah - image: episodeku.blogspot.com

True Story : Dari Kisah, Kusujudkan Cintaku di Mesjid Sultan

Bab.V. hal.2 #, Surat - surat tak terkirim, dari tanah rantau

Kadang di sela sela waktu kosong, aku mencoba menulis surat. Disitu ku tumpahkan rasa, segenap jeritan batinku ku curahkan diatas berlembar- lembar kertas.  Disitu aku menjerit, disitu aku menangis, disitu aku tertawa, disitu aku tersenyum, dan disitu aku termenung. ( lihat disini )

Di kertas itu ku tumpahkan segenap rasa, segenap kepedihan, segenap kerinduan, kehilangan, keterasingan.  Tentang cinta yang mengambang, cinta yang tak kesampaian, cinta yang tak kumengerti, cinta yang menyiksa, yang tak kunjung lekah dari jiwa.

Sekali menulis, aku bisa menghabiskan sampai delapan halaman kertas ukuran folio, bolak balik.  Setelah puas ku baca, surat itu kemudian ku simpan rapi, tanpa alamat tujuan, dan ku selipkan diantara tumpukan pakaian di dalam lemari kecil milikku. Dirumah kontrakan kami itu.

Selama sekitar dua tahun aku di Kuching. Tumpukan surat-surat yang tak dikirim itu terkumpul sekitar lima ratus lembar.  Sayang nya , ketika kepulangan terakhir dari sana, aku tak sempat membawa nya, sehingga catatan sejarah hidup ku yang penuh dengan nestapa cinta, duka lara, kerinduan, kepedihan, kehilangan, keterasingan, lenyap bersama hilang nya surat-surat diatas kertas yang tak pernah terkirim, tak pernah sampai, tak pernah dibaca oleh nya, dan tak pernah diketahui. ( klik disini )

Dokpri
Dokpri
##, Batinku luka parah

Akan tetapi, surat-surat itu, Paling tidak, mungkin goresan tinta diatas kertas itu, mewakili upaya ku untuk menghapus kenangan yang mengharu --biru batin ku.  Kenangan tentang perjalanan hidup, dalam waktu yang cukup singkat, aku mengalami pengalaman batin yang luar biasa.

 Kadang aku berfikir, apakah Tuhan punya rencana khusus untukku? Tapi apa?

Apakah aku dilahirkan hanya untuk disiksa?  Sebagai penganut Islam, aku diajarkan bahwa kita harus selalu berprasangka baik kepada Allah, tapi mengapa aku harus menjalani hidup dengan penuh siksa batin, sejak usia sepuluh tahun? Mengapa?   ( lihat disini )

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
KONTEN MENARIK LAINNYA
x