Mohon tunggu...
@Arie
@Arie Mohon Tunggu... Orang biasa yang mau berfikir luar biasa. that" ist #email : ari.ponty@gmail.com,

Orang biasa, yang mau berfikir luar biasa. Hobi menulis sejak remaja, sayangnya baru ketemu Kompasiana. Humanis, Humoris, Optimis. Menjalani hidup apa ada nya.@ Selalu Bersyukur . Mencintai NKRI. " Salam Satu Negeri,!!" MERDEKA,!!

Selanjutnya

Tutup

Novel

Kusujudkan Cintaku di Mesjid Sultan(Episode 14)

11 September 2019   05:00 Diperbarui: 18 September 2019   17:21 0 1 1 Mohon Tunggu...
Kusujudkan Cintaku di Mesjid Sultan(Episode 14)
Image : kepogaul.com

TRUE Story. Bab.IV .hal.2  Perjuangan

##, Sambil sekolah, mencari nafkah

Kejadian dan pengalaman itu juga menjadi pelecut semangat ku. Tekad dan niat ku untuk mengubah hidup dan mengubah nasib makin berkobar. Apapun caranya, aku ingin berubah.  Bagi ku ,:" Tuhan tidak akan mengubah nasibku, jika aku tidak berupaya mengubahnya!"Segala cara yang mungkin, asal halal, kukerjakan , sambil tetap bersekolah,!  Aku ingin  membangun diri ku, keluarga ku, dan masyarakat ku, suatu hari nanti. Begitu tekad ku. Darah remaja ku bergejolak. Semangat ku membara seperti kobaran api , yang menggerak kan ribuan saraf dan otot ku.  ( lihat ini )

Aku berupaya keras dan berusaha keras untuk mewujudkan hal itu. Pagi sekolah, siang sepulang nya dari sekolah, aku bekerja di pasar, sebagai karyawan toko hingga malam hari jam sembilan, setiap hari, tanpa libur. Penghasilan yang kudapat, sebagian ku simpan sebagai modal, untuk nanti bulan Ramadhan.

Dan di musim bulan Ramadhan, tabungan ku ku gunakan buat modal membuka lapak dengan berjualan  kartu lebaran di beberapa tempat, dan kuserahkan adik - adik ku untuk menjaga nya.  Serta  lapak kopiah, sajadah, dan sebagai nya, yang kujaga sendiri.  Semua yang meghasilkan kujual dan kukerjakan.  Pasar Sudirman adalah saksi, tempat dimana aku mengais rezeki, mencari sesuap nasi, dan biaya sekolah, bagiku dan juga adik-adikku. Sepanjang jalan Tanjungpura, adalah lorong yang aku telusuri tiap kali berangkat dan pulang bekerja atau berjualan  jam delapan pagi sampai jam sepuluh malam, hal itu berlangsung  selama bulan Ramadhan.   (  klik disini )

Sepanjang masa itu, pernah sekali aku bertemu dengan nya.  Tapi ia mengangkat muka, dan bersikap seperti tidak pernah mengenal ku. Sehingga akupun tak punya keberanian untuk sekedar menyapa nya.  Pernah juga, kami satu speed penyeberangan, dia duduk tepat di depanku.  Tapi seperti biasa, aku tak sanggup untuk sekedar mendekat dan menyapa nya.  Sekuat tenaga, aku mencoba untuk menguburnya dalam ingatanku. (Klik  )

Sekuat tenaga, Aku mencoba menganggap itu hanya bagian masa lalu. 

Tapi, apapun upaya yang Ku lakukan, batin Ku tak mau menerima.

Pernah suatu waktu

Kulihat Kamu, tepat di depan Ku

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
KONTEN MENARIK LAINNYA
x