Mohon tunggu...
Ari Budiyanti
Ari Budiyanti Mohon Tunggu... Guru - Lehrerin

Sudah menulis 2.750 artikel berbagai kategori (Fiksiana yang terbanyak) hingga 26-02-2024 dengan 2.142 highlight, 17 headline, dan 105.962 poin. Menulis di Kompasiana sejak 1 Desember 2018. Nomine Best in Fiction 2023. Masuk Kategori Kompasianer Teraktif di Kaleidoskop Kompasiana selama 4 periode: 2019, 2020, 2021, dan 2022. Salah satu tulisan masuk kategori Artikel Pilihan Terfavorit 2023. Salam literasi πŸ’– Just love writing πŸ’–

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Tak Pernah Gelap Dunia

5 November 2023   09:16 Diperbarui: 5 November 2023   14:50 172
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi dari FB Page Angels Feathers Insights

Malam telah usai. Langit kembali berteman mentari. Pagi telah datang. Ada asa yang bergelimang. Sebenarnya begitu, apakah kau tahu?Β 

Lalu aku bertanya pada awan di langit yang mulai terkadang mendung. Hujan berkawan dengan awan. Mengapa?Β 

Baca juga: Tak Pernah Sendiri

Apakah karena sudah waktunya tiba, kau datang dengan segala pesona? Mengapa juga mempertanyakannya bila sudah ada pengaturnya.Β 

Memahami dan menerima betapa terkadang gejolak yang membara itu tak perlu ada. Seperti waktunya tak ada cahaya, maka itulah yang terjadi.

Gelap, pekat, hitam, kelam, kala malam. Tak ada pelita bersinar. Lenyap dalam senyap. Tak ada secercahpun cahaya. Namun hidup tetap terasa lengkap.

Mengapa ragu, mengapa berdesir rasa, mengapa gulana? Itu tak perlu lama jika ada kesadaran betapa semuanya tak berguna. Hanya menambah sejengkal kekuatiran di jiwa. Menyebalkan saja.

Baca juga: Tak Pernah Sendiri

Tetap melangkah, pergi menjauh dari gelap yang pekat itu. Meski terkadang terantuk batu karna nir nur. Jangan berhenti seolah gelap dunia sekitar membuat segala pudar.Β 

Semua ada masanya bahkan yang dengan rela ditinggalkan terkadang tak perlu dirindukan. Hanya menjadi sebuah memori manis di sudut jiwa. Tak perlu terjadi kedua kalinya.Β 

Tak perlu gelap dunia hanya karena sebuah petaka menimpa. Sudah ada Pemelihara semesta, berjalanlah tak pernah jauh dari-Nya.

.....

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun