Mohon tunggu...
Apriani Dinni
Apriani Dinni Mohon Tunggu... Guru - Rimbawati

Biarkan penaku menari dengan tarian khasnya, jangan pernah bungkam tarian penaku karena aku akan binasa secara perlahan

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Aku Masih Seperti yang Dulu

18 November 2019   12:00 Diperbarui: 19 Desember 2019   08:03 321
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi: pixabay.com

Sayang, yakinlah aku masih seperti  yang dulu, seperti pertama ketika engkau tersesat diruang mimpiku.

Engkau dan aku memang satu. Karena aku adalah engkau  dan engkau adalah aku.

Maafkan aku sayang  bila engkau masih  mendengar ucapan di bibirku. yang mengatakan; "Seandainya Tuhan itu tidak menciptakan begitu banyak bahasa di dunia ini, mungkin akan terasa lebih mudah bagiku untuk bisa berbicara denganmu."

Betul yang engkau bilang rasamu adalah rasaku dan rasaku adalah rasamu

Maafkan bila aku salah  masih berpikir bahwa kita masih memerlukan ungkapan kata untuk bisa berkomunikasi denganmu.

Terkadang aku lupa bahwa kita bisa berkomunikasi tanpa untaian kata  untuk bisa saling mengerti dan memahami antara satu dengan yang lainnya.

Seperti katamu bahwa aku dan engkau  adalah rasa. Induk dari semua bahasa yang pernah ada di Dunia Seribu Bahasa.

Engkau selalu mengingatkan aku bahwa bahasa kita adalah bahasa yang mampu membuat Setan dan Manusia bisa saling mengerti antara satu dengan yang lainnya.

Aku memahami yang engkau ungkapkan karena bahasaku dan bahasamu adalah bahasa yang bisa di mengerti oleh seluruh anak-anak Manusia yang ada di dunia.

Saat ini para Setan ingin menarik jiwaku kembali, sampai aku merasa kesulitan berkomunikasi denganmu. Api amarah membakar diriku secara perlahan.

Padahal aku berusaha  seperti dulu berkomunikasi  denganmu dengan  bahasa rasa. Percayalah setan tak berhasil menarikku kembali, wajahmu masih ada dalam hatiku setiap memejamkan mata dirimu selalu menemani.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun