Mohon tunggu...
Apriani Dinni
Apriani Dinni Mohon Tunggu... Rimbawati

Biarkan penaku menari

Selanjutnya

Tutup

Novel

Aku dan Harimau Jantan

31 Oktober 2019   09:19 Diperbarui: 31 Oktober 2019   09:56 0 23 10 Mohon Tunggu...
Aku dan Harimau Jantan
aku-dan-harimau-jantan-adsn1919-jpg-5db47bf1d541df76367ff582.jpg

<< Sebelumnya 

****

Setelah Datuk Garang Bamato Merah dan Nenek tua berkerudung bergo panjang warna merah marun itu pergi,  meninggalkan aku dan  Lelaki sampan yang saat ini telah menjadi seekor Harimau jantan.

Harimau jantan di hadapanku itu terus mengaum pelan, entah apa yang ingin disampaikan oleh lelaki sampan yang telah berubah menjadi harimau itu kepadaku. Aku menatap mata harimau jantan di depanku itu, di sana aku melihat mata lelaki sampan. Aku kembali menangis sambil memeluk erat leher harimau jantan yang terus mengaum sambil mengibas-ibaskan ekornya itu.

"Aku mencintaimu mas, sangat mencintaimu, dan untuk meninggalkanmu di hutan larangan ini  aku tidak tega.

Mas, aku tak akan meninggalkanmu di hutan ini seorang diri, biarkan aku terkurung bersamamu di sini," aku berbisik pelan di telinga harimau jantan jelmaan Lelaki Sampan di hadapanku.

Harimau jantan itu seperti paham ucapanku, ia mengaum lebih keras sambil kembali mengibas-ngibaskan ekornya. Dalam sendu aku memeluk erat leher harimau jelmaan lelaki yang baru saja membuatku merasa begitu takut kehilangan dirinya itu.

Sambil menyeka air mata, tanpa sadar aku berjanji pada diriku sendiri, bahwa aku tidak akan meninggalkan harimau jelmaan Lelaki yang telah mengorbankan dirinya demi aku itu.

Kutatap mata harimau yang begitu mirip dengan lelaki yang dulunya aku takut melihat tatapan matanya itu, lelaki yang pada awalnya aku tidak mau naik ke atas sampannya karena merasa tidak enak hati pada Mirna, anak kepala desa tempatku tinggal selama ini yang aku tahu diam--diam menyukai lelaki pendiam itu, tapi setelah kebersamaan kami di hutan larangan, aku merasakan debaran lain yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, jujur saja, saat bersama lelaki itu aku terasa begitu nyaman,  tidak seperti di saat aku tengah bersama  tunanganku, lelaki pilihan orangtuaku itu terasa begitu hambar di hatiku.

Jujur saja aku sering bertengkar dengan lelaki pilihan orang tuaku itu karena di mataku pikirannya seperti anak-anak.  

Kebetulan bapakku dan bapaknya dulu satu angkatan waktu kuliah, mereka bersahabat  dan sama-sama menjadi pejabat di Pulau Jawa. Kata mamaku, dahulu ketika masih kuliah, bapakku dan bapak lelaki yang menjadi tunanganku itu bernazar, bila punya anak laki-laki dan perempuan akan mereka jodohkan menjadi suami istri.

Dan akhirnya aku dan lelaki yang menjadi tunanganku itulah yang menjadi korban nazar orang-orang tuanya, aku ingat, dulu bila ada teman lelakiku yang main ke rumah, bapak langsung marah dan melarang mereka datang lagi ke rumah  dan setelah teman lelakiku itu pulang, biasanya aku langsung dimarahi habis-habisan. Otomatis semenjak sekolah dan kuliah tak ada lelaki yang berani bermain ke rumahku.



****
Aku melihat tas kerjaku yang tergeletak di pinggir makam keramat, aku ambil dan aku buka retsletingnya untuk mencari  handphone, aku bermaksud menelepon bapakku di kota.


Ternyata handphoneku mati total, aku tidak bisa menghubungi kedua orangtuaku untuk datang ke hutan larangan tanpa aku harus meninggalkan hutan larangan ini.

Aku menangis histeris karena kesal tak tahu harus berbuat apa, tak mungkin aku meninggalkan hutan larangan, bagaimana caranya?

Harimau jantan jelmaan Lelaki sampan itu seperti tahu apa yang ada di dalam pikirkanku. Tiba-tiba dia bangkit dari duduknya, lalu berjalan di depanku, sepertinya dia mengajakku ke tepian sungai, tempat dimana sampan di tambatkan tadi.

Aku mengikuti langkah demi langkah Harimau jantan itu, masih dengan nafas tak beraturan, kulirik jam tangan di pergelangan tangan kiriku, ternyata hampir satu jam kami berjalan untuk bisa sampai ke tepian sungai ini, tempat dimana sampan yang dulu kami tinggal dengan mengikat tali di pohon yang tumbang itu.

Tangisku kembali pecah, saat menyadari ternyata sampan yang kami tumpangi itu hilang terbawa arus.

Aku terduduk sambil menangis saat menyadari satu-satunya jalanku untuk membebaskan kutukan nenek tua berkerudung bergo berwarna merah marun itu telah hilang terbawa arus.

Teringat perkataan nenek tua berkerudung merah marun itu sebelum pergi meninggalkanku, bahwa restu kedua orangtuaku, sebelum 40 hari itulah satu-satunya jalan bagi lelaki sampan itu untuk menghilangkan kutukan yang saat ini masih melekat di tubuhnya itu.

Aku dan Harimau jantan jelmaan Lelaki sampan itu terduduk di tepian Sungai Tapa, jujur saja saat ini aku begitu mencintai lelaki yang telah berubah menjadi harimau itu. Sambil terisak, di bawah langit yang menghitam, di pinggiran sungai yang airnya tengah pasang, aku tatap mata Harimau yang juga sedang menatapku itu.

"Bersabarlah aku akan membantumu menghilangkan kutukan itu," bisikku sambil mengusap bulu-bulu halus di wajah harimau jantan itu. Apapun yang terjadi, aku akan membawa kedua orangtuaku ke hadapanmu dan kita menikah agar hilang semua kutukan yang melekat di tubuhmu. Jika sampai batas waktu mereka tidak datang, maka aku bersumpah akan korbankan hidupku untuk menemanimu, di Hutan Larangan ini selamanya."

-Bersambung-

Catatan : Di buat oleh, Apriani Dinni dan Warkasa1919. Baca juga Aku dan Wanita Cantik Berkacamata yang di buat oleh, Warkasa1919. Cerita ini hanya fiksi belaka, jika ada kesamaan Foto, nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan



VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x