Mohon tunggu...
Anis Contess
Anis Contess Mohon Tunggu... Guru - Penulis, guru

aniesday18@gmail.com. Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. Mari tebar cinta dengan kata-kata.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Lelaki yang Kupanggil Zen

10 Maret 2020   07:41 Diperbarui: 11 Maret 2020   20:13 354
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Padahal aku selalu berkeras menolak ajakannya menikah. Tak ada rasa,  itu yang utama. Selain kemudian kumunculkan deretan alasan masuk akal untuk bisa dia terima agar tak lagi ngotot menikahiku. Dari mulai kebiasaannya merokok, keinginanku bebas pergi ke mana saja tanpa harus ijin hingga penolakan anakku,  bila ibunya menikah lagi.

 Ya,  sejak Sam meninggalkanku dengan perempuan pelosok yang baru dia kenal ketika kunjungan dinas itu,  aku ilfil dengan lelaki.  Makhluk yang mudah menaruh cinta di mana saja. Tak peduli siapa,  asal mau disasar diembat pula. Gugat cerai kulakukan. Tawaran Sam tetap menjadikanku istri tua demi Fatur, buah hati semata wayang yang waktu itu telah remaja, kelas 1 SMP kutolak mentah-mentah.

 Gila apa,  tahu dia berselingkuh saja amarah ingin membunuhnya bergemuruh apalagi dijadikan mbok tuwo,  istri tua. Bisa kusianida dia nanti. Menahan diri,  ibu menyadarkanku,  kalau tak mau ya sudah, pisah saja. Jangan lakukan tindakan konyol apapun. Selain akibatnya tidak baik untuk diriku juga pertimbangan psikologis Fatur.

Kuturuti ibu. Sam kugugat cerai. Tanpa bertemu. Bahkan di pengadilan, kuhadapi hakim dan jaksa. Pengacara mendukungku dengan serangkaian bukti perselingkuhan Sam. Tak ada izin dariku dia menikah lagi. Itu cukup menguatkan alibi yang kuajukan. Surat cerai resmi segera kudapatkan sesudah itu.

 Pengacara kuminta mengatur segala sesuatu tentang hak asuh anak. Meniadakan kemungkinan Sam menemui Fatur pun diriku.  Terkabul. Aku berhasil memenangkan perkara.  Sejak itu selesai  sudah ceritaku dengan Sam.  Over.

Kesumat pada lelaki membuatku menutup diri, dingin. Tak ada celah kubuka hati pada makhluk berjenis kelamin lelaki. Aku galak pada mereka,  senyum ini kujaga,  sampai julukan muka rata untukku kudengar,  kusandang.  Aku tidak peduli. Kalau saja tak ingat nasehat ibu untuk bersikap baik pada siapa saja,  rasanya enggan berteman lagi dengan lelaki. Apalagi dengan yang terlihat antusias mengejarku,  berterus terang ingin menikahiku. Seperti lelaki yang kupanggil Zen ini.

"Lama ya, maaf perutku mulas sesudah sarapan pecel pedas tadi." Sapa Zen padaku usai buang air. Langsung duduk di belakang stirr, mulai melajukan kendaraan,  keluar dari Pom bensin.

Aku diam saja,  tak bereaksi apa-apa. Kubiarkan Zen dengan ocehannya tentang Nasi pecel murah yang dia makan tadi pagi di pinggir jalan sebelum datang menjemputku. Muka kutekuk sedemikian rupa,  manyun pokoknya. Sewot menguasai hati.

"Kau kenapa? belum sarapan ya?"
Tetap tidak kujawab. Kutunjukkan muka paling tidak menyenangkan dengan sedikit dengus dan helaan.

"Ayolah,  aku tahu kau sedang ada pikiran. Jangan begitu, mukamu rata tuh."

Perkataanya membuatku terdorong melihat spion depan,  sedikit senyum kusunggingkan, merasa geli dengan raut wajahku. Muka rata, aih,  inikah dia. Mencair,  aku mulai bisa menguasai keadaan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun