Mohon tunggu...
Angelita Zefanya J
Angelita Zefanya J Mohon Tunggu... Student

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UAJY'19

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Persepsi: Standar Ketampanan Korea Selatan

28 September 2020   22:05 Diperbarui: 28 September 2020   22:09 496 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Persepsi: Standar Ketampanan Korea Selatan
Potret Kim Taehyung, anggota grup boyband  Korea Selatan, BTS. (Sumber: pinterest.com/)

Apakah pendapat Anda bila melihat gambar laki-laki Korea Selatan di atas?. Mungkin bagi mereka yang sudah mengenalnya, atau dengan kata lain merupakan bagian dari komunitas pecinta music Kpop, pasti dapat langsung menjawab bahwa dia adalah Kim Taehyung (member dari BTS). Bagi orang-orang yang merupakan penggemar musik kpop, mereka akan mengatakan bahwa lelaki di foto tersebut berwajah tampan, wajahnya putih dan mulus tanpa goresan apapun. Tatapan dari laki-laki tersebut memancarkan aura yang memukau, kira-kira begitu pendapat mereka. Tetapi bagaimana dengan pendapat orang-orang yang bukan merupakan penggemar musik kpop? Tidak menutup kemungkinan mereka akan memiliki pendapat yang berbeda, atau bahkan berlawanan terhadap standar ketampanan Korea Selatan..

Tak jarang ditemui pendapat-pendapat negatif terhadap standar ketampanan laki-laki Korea Selatan. Kritikan mengenai standar ketampanan itu sering dilontarkan oleh masyarakat, yang mayoritas memang bukan orang Korea selatan dan bukan penggemar Kpop. Bagi orang-orang yang bukan merupakan bagian dari komunitas pecinta Kpop, bukanlah suatu hal yang asing untuk menganggap bahwa laki-laki Korea Selatan terlihat terlalu feminim. Hal ini diperkuat dengan adanya ‘kebiasaan’ ketika idola laki-laki Korea Selatan tampil di panggung, mereka akan memakai make-up, yakni hal itu sebanding dengan rutinitas yang dilakukan wanita sebelum bepergian.

Kedua pendapat mengenai standar ketampanan Korea Selatan tidak salah dan juga tidak benar. Pendapat-pendapat tersebut merupakan persepsi, di mana persepsi ini bersifat subjektif. Budaya dan persepsi saling berkaitan, karena budaya yang mempengaruhi realitas subjektif seseorang. Menurut Adler dan Gunderson (dalam Samovar, 2017, hal. 201) persepsi memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut:

1.  Persepsi bersifat selektif: Seseorang hanya fokus kepada informasi yang dipilih dan difilter dari semua rangsangan yang ada.

2.  Persepsi itu dipelajari: Pengalaman hidup seseorang mengajarkan mereka untuk melihat dunia dalam cara tertentu.

3.  Persepsi ditentukan oleh budaya: Budaya mengajarkan arti dari segala pengalaman yang dialami oleh seseorang.

4.  Persepsi itu konsisten: Ketika seseorang melihat sesuatu dengan cara tertentu, interpretasi tersebut biasanya sukar untuk berubah.

5.  Persepsi bersifat tidak akurat.: Seseorang melihat dunia melalui lensa subjektif yang dipengaruhi oleh budaya, nilai-nilai, dan pengalaman pribadi.

Berdasarkan uraian di atas mengenai karakteristik persepsi, kita mengetahui bahwa persepsi terhadap standar ketampanan Korea Selatan (dilihat dari sudut pandang penggemar maupun non-penggemar Kpop) tentu dipengaruhi oleh budaya. Jika menempatkan diri kita di posisi mereka, yang merupakan non-penggemar Kpop, pandangan kita terhadap standar ketampanan mengarah kepada maskulinitas. Di Indonesia, berdasarkan pengalaman pribadi, sejak kecil lelaki pasti sudah dibiasakan menjadi seseorang yang harus terlihat tangguh. Maka dari itu, pandangan mayoritas yang menganut nilai-nilai tersebut akan memandang bahwa standar ketampanan adalah mereka yang berotot, memiliki janggut, dsb. Pemakaian make-up kepada idola laki-laki Korea Selatan dianggap tidak menunjukkan nilai maskulinitas mereka, di mana riasan sendiri identik dipakai oleh kaum hawa. Secara fisik, orang-orang yang memiliki pandangan seperti demikian, menjunjung tinggi nilai maskulinitas.

Lalu apakah anggapan mengenai idola lelaki Korea Selatan tidak maskulin dibenarkan? Tentu saja tidak, seperti apa yang telah diuraikan persepsi itu bersifat tidak akurat. Berbeda dengan pandangan non-penggemar Kpop, para penggemar atau bagian dari komunitas tersebut tidak memandang maskulinitas seorang lelaki dalam bentuk fisik sedemikian rupa. Mungkin saja, para penggemar menganggap bahwa menjadi laki-laki seutuhnya tidak perlu menumbuhkan janggut, memiliki tubuh berotot, dan mengikuti standar maskulinitas lainnya. Pada dasarnya, dewasa ini anggapan tersebut memang mengarah kepada toxic masculinity, di mana orang-orang menjadi kontra terhadap penilaian segala bentuk fisik maskulinitas. Orang yang merupakan bagian dari komunitas Kpopers mewajarkan apabila idola lelaki Korea Selatan memakai riasan saat mereka tampil, yakni hal tersebut untuk tetap menjaga image wajah mereka terlihat segar dan menawan walaupun menampilkan pertunjukkan yang menguras tenaga. Hal tersebut sesuai dengan citra idola Korea Selatan yang mengutamakan penampilan visual mereka. Saat sekarang pun di Indonesia, tak jarang anak muda laki-laki memakai produk perawatan kulit yang berasal dari Korea Selatan. Di mana tujuan penggunaan produk-produk skincare adalah untuk membuat penampilan visual mereka layaknya idola Korea Selatan. Betapa ironi hal tersebut. Akhir kata, persepsi setiap orang tidak ada yang benar maupun salah, perlu digaris bawahi lagi bahwa persepsi bersifat subjektif. Begitu pula dengan standar kecantikan dan ketampanan, tak ada ukuran mutlak yang dapat menentukannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x