Andika Nugraha
Andika Nugraha

I'm possible, I'm wonderful.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Seperti Apa Rasanya Menderita Depresi Psikotik?

13 Januari 2018   14:13 Diperbarui: 18 Januari 2018   21:19 1726 2 0

Hai teman-teman, saya ingin menceritakan pengalaman saya sendiri mengenai penyakit mental yang saya alami. Jadi, sebelumnya saya menderita gangguan jiwa yang cukup kronis, yaitu depresi berat dengan gejala psikotik. Gangguan jiwa apa itu? Yaitu kondisi di mana seseorang mengalami depresi pada tingkat yang sangat berat juga disertai dengan gejala-gejala psikosis. 

Psikosis sendiri itu yakni seseorang kesulitan membedakan kenyataan dan khayalan, ia bisa mengalami delusi, halusinasi, pikiran tumpul, tidak ada emosi, kesulitan berkomunikasi dengan orang, tidak mampu memperhatikan kebersihan dirinya, gerakan melambat, tidak tertarik untuk melakukan apa pun. Mirip seperti seseorang yang menderita gangguan jiwa Schizophrenia namun disertai dengan mood depresi. Buat yang tidak tahu Schizophrenia itu apa, kalian bisa tonton film berjudul A Beautiful Mind, persis seperti itu. Ya jadi itu lah penyakit yang saya alami. 

Jadi gampangnya saya saat itu menjadi tidak waras alias gila. Ya betul tidak waras. Karena pada saat itu saya tidak mampu lagi berpikir, bahkan untuk merespon pertanyaan dari orang saya tidak mampu dan hanya mampu menjawab dengan terbata-bata dan hanya mengulang-mengulang kata-kata yang diucapkan oleh orang itu.

Tatapan saya kosong, saya tidak dapat merasakan lagi emosi. Saya mengalami kebingungan luar biasa, tidak tahu harus melakukan apa, tidak dapat membuat keputusan, di kepala saya seperti banyak pikiran yang berputar-putar tidak dapat saya hentikan, seperti rasanya dicampur aduk. Yang terparah dari penyakit itu adalah saya mengalami insomnia kronis, saya tidak dapat tidur total, dan di saat saya mencoba tidur saya mengalami delusi-delusi yang menakutkan sehingga saya selalu terbangun dan tidak bisa tidur. 

Delusi itu sendiri adalah keyakinan akan suatu hal yang dianggap benar, walaupun pada kenyataannya belum tentu demikian. Jadi saya saat itu yakin bahwa saya telah melakukan kejahatan besar, sehingga saya sangat ketakutan ditangkap polisi dan dipenjara, kemudian saya yakin bahwa teman-teman saya terutama teman kantor telah menganggap saya orang jahat sehingga saya takut berkomunikasi dengan mereka. Di saat delusi tersebut muncul, saya sangat ketakutan dan di situ terbesit lah pikiran bunuh diri. Seolah-olah saya tidak dapat mengontrol diri saya untuk melakukan bunuh diri, badan saya seperti auto-pilot untuk melakukan bunuh diri. 

Di situ saya tidak bisa diam dan sempat bilang ke orang tua saya mau bunuh diri, kemudian saya naik ke lantai tiga rumah saya, naik ke atas teras untuk melompat. Di situ saya terus berdelusi tidak berhenti sampai saya ingin menaiki genteng, namun akhirnya papa saya menemukan saya ada di atas dan menuntun saya turun dan kemudian mendoakan saya.

Saya bingung harus melakukan apa saat itu, karena berdiam diri di kamar tidak mungkin, pikiran di kepala saya seperti kejar-kejaran tidak berhenti yang saya sendiri tidak tahu mau nya apa. Kemudian saya mencoba untuk melakukan hal lain seperti bermain game, tapi sia-sia, pikiran saya terlalu kacau, saya sempat mencoba bermain game seperti Counter-Strike, namun untuk mengeker musuh saja saya kesulitan. Sehingga bermain game pun tidak mungkin rasa nya. Kemudian saya mencoba menonton video komedi seperti acara Cak Lontong, Waktu Indonesia Bercanda. Sempat saya terhibur sedikit, namun saya tidak dapat menontonnya secara penuh, seperti ada gangguan di otak saya yang menyebabkan saya tidak dapat fokus dan akhirnya pikiran-pikiran negatif itu terus bermunculan di otak saya menyebabkan saya tidak dapat diam menontonnya.

Mau mencoba bersosialisasi juga tidak mungkin, mau ngobrol dengan orang tua saja sulit rasanya, apalagi berinteraksi dengan orang luar, jadi di saat itu saya hanya bisa terdiam sambil mendengarkan apa yang diucapkan oleh orang lain. Bahkan ucapan orang lain itu pun tidak dapat dicerna oleh saya, hanya tiga-empat kata yang masuk ke dalam otak saya, selebih nya lewat begitu saja. Orang tua saya pun bingung dengan apa yang terjadi pada saya. Mama saya sempat kesal dan melihat saya seperti orang yang terkena Alzeimer. Papa saya juga kebingungan dan sedih. Karena saya juga tidak dapat tidur, maka semakin menjadi-jadi lah sakit yang saya derita. 

Kemudian saya pergi ke psikolog di RSPI Puri Indah, di situ saya bertemu dengan psikolog dan saya menceritakan masalah yang saya alami dengan tulisan, karena saya tidak sanggup lagi bercerita membicarakan masalah yang saya alami. FYI, psikolog hanya memberikan konseling tanpa memberikan obat. Saat saya beranjak pergi ke psikolog itu, di tengah jalan saya mengalami delusi lagi, di mana saya yakin bahwa sebentar lagi orang-orang di sosial media akan tahu bahwa saya telah melakukan kejahatan luar biasa, yaitu seperti bom waktu, di mana akhirnya semua orang akan tahu bahwa saya merencanakan kejahatan besar yang akan ketahuan sebentar lagi dan mereka akan tahu bahwa saya telah gila.

Sesampai nya di sana, psikolog tersebut memberikan konseling yang mampu membuat saya sedikit lega, ia bilang bahwa saya tidak apa-apa, dan ia mencontohkan saya dengan memberikan saya bandul yang harus saya pegang, dan saya harus menggerakan bandul tersebut dengan mengucapkan kata-kata seperti bergerak ke kiri, bergerak ke kanan, ke atas dan ke bawah, maka bandul tersebut akan bergerak sendiri nya tanpa tangan saya harus menggerakannya. Ia bilang jika saya tidak dapat menggerakan bandul tersebut, saya harus pergi ke psikiater, namun saya bisa menggerakannya sehingga ia mengatakan saya tidak apa-apa. Ia juga memberikan nasehat-nasehat yang harus saya lakukan untuk dapat berpikir positif. 

Konseling tersebut  mampu membuat saya lebih tenang dan lega sedikit, dan dapat dengan sementara menghilangkan pikiran-pikiran negatif saya. Namun saya masih merasakan hal yang memang benar-benar sulit saya lakukan, yaitu berpikir jernih. Saya benar-benar kesulitan untuk membuat keputusan. Dari situ saya berpikir apa mungkin saya tidak apa-apa, tapi berpikir saja saya sulit. Sampai malam pun tiba, saya pun kembali tidak dapat tidur, dan saya harus tidur ditemani oleh papa mama saya, karena saya terlalu ketakutan. 

Saya juga sempat mencari pertolongan pada teman-teman saya, dan mereka semua langsung membantu  saya. Saya sangat bingung waktu itu, kenapa mereka baik sekali mau menolong saya, sampai malam-malam mau datang setiap hari setelah mereka usai kerja untuk menemani saya. Bahkan dosen yang juga teman saya rela datang jauh-jauh dari Medan ke Lembang waktu itu saya berada untuk menemui saya, mengajak saya jalan-jalan dan menyemangati saya.

Akhirnya, konseling ke psikolog tersebut tidak lagi mempan buat saya, pikiran-pikiran negatif, delusi, dan pikiran bunuh diri kembali menyelimuti saya. Kondisi saya semakin buruk lagi, karena kekurangan tidur. Saya mencoba sekuat tenaga untuk berpikir positif tapi tidak berhasil. Di saat itu yang saya rasa saya butuhkan adalah obat. Akhirnya saya mencoba untuk memberitahukan ke papa saya bahwa saya ingin ke psikiater. FYI, psikiater adalah dokter yang menangani masalah kejiwaan dan dapat meresepkan obat. Tapi saya kesulitan untuk memberitahukan nya secara langsung, sehingga saya memutar video Youtube yang memperlihatkan gangguan depresi dan cemas dapat disembuhkan dengan ke psikiater. 

Kemudian papa saya melihat nya dan kemudian menyuruh saya untuk pergi ke dokter umum dan minta diresepkan obat. Lucu nya saya ke dokter umum tersebut sendiri, dan sesampainya di sana saya kebingungan luar biasa, sampai ditanya oleh dokternya saya bingung. Ia bilang harusnya didampingi ketika berkunjung, ia tidak spesialis di bidang kejiwaan dan hanya dapat meresepkan obat anti depresan. Nah lucu nya saat mau diresepkan saya malah bilang tidak usah, karena saya pikir bahwa nanti saya bakal ke psikiater saja. Ya akhirnya saya pulang dengan tidak membawa apa-apa. Dan terang saja papa saya bingung, dan kemudian papa saya akhirnya membuatkan janji dengan psikiater untuk konsultasi esok harinya.

Sebelumnya saya sudah pernah datang ke klinik tempat psikiater tersebut dan mengisi tes yang dapat mengetahui kondisi mental seseorang, dari situ terdiagnosis lah penyakit saya yakni saya mengalami depresi berat dengan gejala psikotik. Dan hasil dari tes tersebut memperlihatkan kemampuan atau kualitas diri saya sudah sangat-sangat buruk. Saat konsultasi pun, yang konsultasi terlebih dahulu adalah papa saya sendiri dengan dokternya, kemudian saya bertemu langsung dengan dokternya, baru kemudian diresepkan obat. Obat yang diberikan ada dua macam, yakni pertama obat anti-depresan dan kedua obat anti-psikotik. 

Obat anti-psikotik yang diberikan yaitu Clozapine, obat yang digunakan juga untuk orang yang mengalami gangguan jiwa Schizophrenia, gunanya untuk mengurangi efek psikotik yang saya alami, namun saya diberikan dosis yang cukup kecil yakni setengah butir per malam. Obat ini juga memberikan efek ngantuk, sehingga saya dapat tertidur setelah minum obat ini.

Sejak itu saya mulai rutin mengkonsumsi obat itu, dan mulai lah saya dapat tidur akhirnya setelah sebelum-sebelumnya tidak dapat tidur. Namun pikiran-pikiran bunuh diri selalu muncul setiap hari, sehingga saya sangat berusaha keras untuk mengatasi keinginan bunuh diri. Percobaan bunuh diri pun sudah saya lakukan beberapa kali, yang paling sering saya lakukan adalah melakukan percobaan gantung diri di kamar dengan menggunakan seprei yang saya ikat ke teralis jendela. 

Kemudian saya sudah sampai menulis surat wasiat, dan mengirimkan uang tabungan saya ke orang tua saya. Lalu percobaan bunuh diri pun saya lakukan. Saya sudah melilitkan leher saya ke tali dan tinggal menendang kursi yang gunakan untuk menaiki tali gantung tersebut. 

Tapi ketika saya sudah sampai di situ saya selalu tidak berani, karena saya tahu rasanya gantung diri itu sakit luar biasa, dan saya juga takut kalau saya tidak benar-benar mati nanti nya, jadi semakin menyusahkan. Saya ingin mati dengan sekejab, tanpa ada rasa sakit, namun tidak ada opsi lain untuk melakukan hal itu selain gantung diri. 

Pernah terpikir untuk menabrakan diri ke truk, tapi lagi-lagi tidak berani. Melompat dari gedung juga sudah pernah saya pikirkan, namun saya bingung bagaimana mengakses gedung untuk lompat, karena saya sendiri saja tidak bisa keluar rumah, terlalu tidak waras untuk keluar rumah sendiri. Sehingga kamar saya itu pun menjadi tempat mengerikan buat saya, karena di situ saya sendiri, tidak ada siapa-siapa dan suasananya mendukung sekali untuk saya melakukan percobaan tersebut.

Kemudian saya terpikir juga untuk melakukan overdosis obat yang diberikan dokter, tapi itu tidak ada jaminan juga kalau saya bakal benar-benar mati, sehingga saya tidak lakukan. Kemudian menyilet urat nadi, itu tidak saya lakukan karena terlalu lama mati nya. Minum baygon? Sepertinya terlalu menyiksa jadi tidak saya lakukan. 

Jadi karena saya mempunyai prinsip ingin mati tanpa rasa sakit menyebabkan saya bertahan hidup sampai saat ini. Sehingga yang saya lakukan hampir setiap hari adalah membaca-baca berita tentang kasus bunuh diri, bagaimana mereka bunuh diri, penyebabnya kenapa, latar belakang mereka bagaimana. Di situ saya merasa iri kepada mereka yang berhasil bunuh diri, kok mereka sanggup ya melakukan hal tersebut. Karena saya sendiri saja terlalu takut untuk melakukannya.

Pikiran bunuh diri ini selalu ada setiap hari selama dua bulan lebih, bayangkan betapa struggling-nya saya setiap hari dibayang-bayangi keinginan bunuh diri, tapi saya selalu menunda-nunda untuk bunuh diri. Kemudian yang saya sering lakukan juga adalah saya sering mencari dan membaca informasi tentang penyakit mental yang saya alami ini. 

Saya sempat mengira awalnya bahwa saya menderita Schizophrenia, karena gejala-gejala yang saya rasakan sangat mirip dengan penderita Schizophrenia, sehingga saya sempat berpikir bahwa saya tidak akan pulih lagi, saya akan selama nya menjadi tidak waras begini, kalau saya begini terus lebih baik saya bunuh diri saja, daripada malu diketahui oleh semua orang dan tidak dapat hidup normal seperti orang lain. 

Segala macam pikiran tentang kegagalan ada di pikiran saya, seperti saya tidak mampu bekerja lagi, karier sudah hancur, tidak mampu hidup mandiri, tidak mampu berkeluarga, masa depan saya akan suram selamanya, malu dilihat keluarga besar dan teman-teman menjadi orang yang punya kelainan mental, bahkan kegagalan-kegagalan di masa lalu saya ungkit kembali dan itu membuat saya semakin bertekad untuk bunuh diri.

Ketika masa-masa sakit tersebut, saya mengalami peningkatan nafsu makan luar biasa, saya seolah tidak peduli lagi sedang lapar atau kenyang, kalau ada makanan langsung saya makan. Sehingga akhirnya membuat berat badan saya naik signifikan, di mana sebelum sakit berat badan saya sekitar 70 kg, di mana tiga bulan kemudian berat badan saya naik menjadi 92 kg. Kenaikan berat badan itu juga diperparah dengan efek samping dari obat anti-psikotik berikut nya yang diresepkan ke saya yaitu, Risperidone. Efek sampingnya adalah membuat berat badan naik. Sehingga dokter mengkhawatirkan saya mengalami obesitas dan mulai menyuruh saya berolah raga.

Pada saat sakit tersebut saya juga mengalami kondisi-kondisi pikiran yang berubah-ubah, mulai dari perasaan depresi yang mendalam, gejala psikosis akut muncul, tiba-tiba menjadi tidak waras mendadak, pikiran menjadi lumpuh total, muncul keyakinan-keyakinan tertentu seperti delusi, kemudian muncul pikiran normal dalam beberapa jam, kemudian berubah menjadi mania, di mana saya menjadi sangat aktif, bisa jingkrak-jingkrak sendiri, tiba-tiba berbicara menjadi cepat, lebih sering ngelantur.

Hal tersebut bisa saya rasakan hampir setiap hari. Kemudian hal yang terparah juga ialah saya tidak mampu memperhatikan kebersihan diri saya, saya tidak memiliki kesadaran kalau saya harus mandi, ganti baju, cuci muka, gosok gigi dan sebagainya. Sehingga sering saya dalam sehari tidak mandi, tidak mengganti baju, dan penampilan saya saat itu sangat buruk.

Kemudian gerakan saya juga menjadi sangat melambat, ketika saya berjalan dengan orang pasti saya akan jauh tertinggal di belakang, kemudian untuk melakukan gerakan seperti naik turun dari angkutan umum itu rasanya sulit sekali, respon saya juga sangat lambat, apabila saya dipanggil orang kemungkinan besar saya tidak akan menengok atau merespon. Terkadang badan saya suka menjadi kaku, tidak bergerak sama sekali, suka berada dalam posisi yang agak aneh.

Kemudian saya juga menjadi luar biasa pelupa, hal-hal yang baru dibicarakan ke saya dalam sekejap bisa langsung saya lupakan. Saya ingat ketika saya berada di area parkir, saya mengalami kebingungan, disorientasi lokasi, saya benar-benar tidak ingat jalan yang harus saya tuju ke mana, untungnya dituntun oleh orang tua saya.

Dampak buruk dari penyakit yang saya alami adalah saya menjadi takut berkomunikasi dengan orang lain, saya menghilang dari sosial media, tidak mau membalas chat, bahkan pada awal-awal sakit saya tidak sanggup menulis pesan chat karena saking kacaunya pikiran saya, saya sering merasa paranoid dan takut dilihat dan diperhatikan oleh orang lain. Padahal yang saya butuhkan adalah bantuan dari teman-teman, tapi karena gangguan jiwa tersebut menyebabkan saya sendiri merasa lebih nyaman sendiri tidak bertemu dengan siapa-siapa. Sehingga saya lebih sering mengurung diri di kamar.

Jadi sehari-sehari saya bermain dengan game di smartphone, bermain game-game yang sederhana yang tidak terlalu membutuhkan banyak berpikir, karena masih dalam kondisi pikiran yang tumpul sehingga saya sulit untuk mencerna instruksi yang rumit. Saya mulai menerapkan goal-goal kecil pada saat itu, pikiran saya kira-kira seperti ini: Sebelum saya mati coba ah tamatin game Hungry Shark Evolution, pengen dapetin hiu yang paling besar. Setelah itu tercapai saya buat goal baru berikutnya, coba ah tamatin game ini, coba ah tamatin game itu, dan seterusnya.

Ketika kondisi mulai membaik, saya mulai membiasakan diri untuk rutin jalan pagi, melakukan olahraga ringan seperti SKJ, dan malamnya rutin membaca alkitab. Dukungan keluarga menurut saya sangat penting, mereka tetap mendukung saya, mengajak saya berlibur, mendoakan saya agar dapat pulih dan merawat saya sebaik mungkin sehingga saya akhirnya bisa benar-benar pulih.

Kemudian ketika sudah mulai mendekati masa-masa pulih, masih ada satu hal yang membuat saya terhambat dari pemulihan, yaitu motivasi, di mana gejala dari depresi ini, membuat saya tidak ada tujuan dan motivasi dalam hidup, merasa hidup sudah tidak layak dijalani lagi. 

Dari situ saya mulai kembali melanjutkan hobi saya melakukan workout angkat beban yang sebelum nya sempat terhenti karena sakit, dan kemudian saya mulai mempelajari Yoga, karena sangat baik untuk memulihkan kesehatan mental, sampai akhirnya sekarang saya selalu rutin jalan pagi dan workout hampir setiap hari. Saya merasakan dampaknya luar biasa untuk mengurangi depresi, sejak rutin berolahraga, pikiran-pikiran negatif, perasaan depresi semakin lama semakin menghilang, dan bahkan saya mulai mendapat motivasi kembali dan dapat berpikir positif.

Sekitar enam kali saya berkunjung ke psikiater dalam kurun waktu tiga bulan sampai akhirnya saya mulai pulih dan tidak memerlukan obat lagi. Total jenis obat anti-psikotik yang diberikan adalah Clozapine, Aripiprazole, dan Risperidone. Masing-masing memiliki efek samping nya sendiri, dan beberapa obat tersebut harus diganti apabila efek sampingnya dirasa terlalu mengganggu. Insomnia total yang saya alami juga terus muncul selama saya pengobatan, pada akhir-akhir masa pulih saya perlahan mulai dapat tidur kembali dengan normal, di situ saya sangat senang sekali akhirnya mulai bisa tidur, karena saya khawatir bahwa saya masih tidak bisa tidur dan harus kembali mengkonsumsi obat.

Kemudian saya ingat titik di mana saya mulai kembali bisa meng-coding program sekitar dua bulan lebih setelah penyakit tersebut mulai menyerang saya, karena latar belakang saya adalah orang IT yang sehari-hari melakukan coding. Betapa putus-asanya saya waktu itu sebelumnya, bahwa passion saya di dunia IT dan menciptakan program, namun kemampuan saya hilang begitu saja, dan saya tidak tahu harus melakukan apa lagi di luar itu. 

Maka saya sangat senang sekali dan begitu terharu ketika saya tahu bahwa saya mulai pulih dan mulai bisa berpikir dengan normal kembali. Akhirnya saya membuat proyek kecil yakni membuat game untuk mengisi waktu luang saya, dan menjadi sumber motivasi buat saya. Game tersebut pun akhirnya jadi dan sudah dirilis di Play Store. Dan juga pada akhirnya saya mulai pulih total ketika saya tidak sengaja bertemu seseorang yang begitu sempurna di mata saya dan akhirnya ia menjadi pasangan saya sampai saat ini. Berkat dia lah, saya mulai menjadi terbuka, bisa bercerita tentang berbagai hal, keluh-kesah, bercanda tawa sepanjang hari, tidak lagi merasa kesepian dan saya dapat merasakan diri saya kembali lagi seutuhnya.

Saya juga teringat oleh acara televisi yang tidak sengaja saya dengar, di mana waktu itu temanya adalah mengenai depresi. Yaitu acara IM_POSSIBLE di stasiun televisi MetroTV yang berjudul Thank you for Staying Alive. Waktu itu papa saya yang menyetel televisi tersebut. 

Saya masih ingat akan diskusi para host dan kisah para survivor yang masih tetap bertahan hidup bagaimana mereka bisa melanjutkan hidupnya sampai sekarang, dan yang membuat saya sangat terkesan adalah ketika sang host mengucapkan kata-kata untuk mengapresiasi para orang-orang yang tetap bertahan hidup dalam menghadapi masalah, ia meminta semua pemirsa untuk mengucapkan kata-kata berikut: "Thank You For Staying Alive". Di situ saya sangat terharu, dan akhirnya menjadi kata-kata yang selalu saya ingat dan sering saya ucapkan untuk diri saya sendiri ketika menghadapi saat-saat berat tersebut sampai sekarang.

Sekarang saya sudah pulih, dan saya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya bahkan sebelum saya sakit. Dari yang sebelumnya tidak waras, tidak memiliki harapan hidup, ingin bunuh diri, kini saya telah menjadi orang yang sangat luar biasa, terbuka dengan orang lain, mau bergaul dengan siapa saja, tidak ada rasa takut dan kecemasan, punya badan atletis, ingin mencapai impian-impian saya berikutnya, bahkan pasangan saya sampai bilang "kamu orang yang paling perfect buat aku sampai saat ini". 

Jadi buat kamu yang tidak yakin kalau depresi itu tidak bisa disembuhkan, saya sudah membuktikannya kalau depresi bisa disembuhkan bahkan dari depresi yang terberat sekalipun, dan saya yakin ketika kamu sembuh nanti kamu akan menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya.

Saya ingin berterima kasih sebesar-besarnya kepada papa, mama, kakak, teman-teman dan dokter yang tetap membantu, mendukung, menemani dan menyelamatkan hidup saya ketika saya menghadapi masa-masa sulit tersebut. Tanpa mereka saya mungkin tidak akan bertahan dan pulih sampai saat ini.

Thank you for staying alive.