Mohon tunggu...
Alip Yog Kunandar
Alip Yog Kunandar Mohon Tunggu... Penulis - Bukan Pemikir, Meski Banyak yang Dipikirin

Dosen Ilmu Komunikasi UIN Jogja, yang lebih senang diskusi di warung kopi. Menulis karena hobi, syukur-syukur jadi profesi buat nambah-nambah gizi. Buku: Memahami Propaganda; Metode, Praktik, dan Analisis (Kanisius, 2017) Soon: Hoax dan Dimensi-Dimensi Kebohongan dalam Komunikasi.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Stalin: (78) Sepucuk Surat

13 Februari 2021   23:44 Diperbarui: 14 Februari 2021   21:42 331
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Hari sudah gelap. Tak ada tanda-tanda adanya seseorang yang datang ke kontrakan si Lado itu. Bahkan suara kereta kuda, yang dibayangkan Soso mengantar Tatiana, juga tak pernah terdengar. Dari tadi siang, ia tak mendengar suara kereta kuda lewat di jalan kecil di depan rumah itu.

Apa gadis itu menemani urusan ibunya dulu, lalu baru akan mengunjunginya besok, Soso juga tak tahu. Ia mulai bosan. Sudah terlalu lama menunggu tanpa ada yang dikerjakannya. Beres-beres rumah sudah selesai dari tadi siang.

Perutnya sudah mulai keroncongan. Dari tadi ia malas pergi mencari makan karena takut Tatiana datang saat rumah kosong.

Dilihatnya kedai Jerman di seberang rumah si Lado itu. Ia pun memutuskan untuk pergi ke sana, mencari makanan apa saja yang bisa dipakai untuk mengganjal perutnya. Kalau ke situ, tak ada masalah. Jaraknya sangat dekat. Ia bisa nongkrong sambil memperhatikan jalanan dan rumah si Lado.

Soso pun segera meluncur ke kedai yang hanya butuh beberapa langkah saja itu. Mungkin karena malam Minggu, kedai itu cukup ramai. Meja-meja banyak terisi oleh pengunjung yang kebanyakan laki-laki, dan umumnya mereka asyik berbincang dengan bahasa yang tak dimengerti Soso. Ia hanya yakin bahwa mereka berbincang dengan bahasa Jerman, karena selain kedai itu kedai milik orang Jerman, daerah itu memang dihuni oleh banyak orang Jerman, baik yang sudah lama berada di Tiflis, maupun yang baru.

Ia tak tahu kenapa banyak sekali orang Jerman di situ, bahkan sampai ada pemukimannya segala layaknya pemukiman orang Rusia yang berada di bagian lain Tiflis. Setahunya, orang-orang Jerman itu banyak datang setelah kedatangan Rusia, sebelum itu, tak ada, hanya satu-dua saja mungkin.

Di sebelah mana negeri Jerman itu, dan seberapa jauh dari Tiflis, ia juga tak tahu. Ia hanya tahu bangsa itu melahirkan banyak filsuf dan pemikir yang karya-karyanya sering ia baca. Salah satunya ya Karl Marx itu. Saking banyaknya para pemikir Jerman yang ia baca karyanya, sampai-sampai ia sempat berpikir untuk belajar bahasa Jerman, agar bisa bisa membaca karya-karya mereka secara langsung, bukan terjemahannya saja, yang mungkin sudah banyak kekeliruan dalam penerjemahannya.

Soso duduk di pojokan dekat jendela. Sengaja ia memilih di situ agar bisa mengawasi jalanan.

Seorang pelayan perempuan yang cukup dikenalnya, karena sering melayaninya saat memesan kopi --tapi ia tak tahu namanya, datang menghampirinya. "Mau ngopi?" tanyanya dalam bahasa Rusia. Selalu begitu, sejak Soso pertama kali berbicara dengannya.

Soso mengangguk, "Tapi aku juga pengen makan... apa yang ada di sini?"

"Sup ayam dan roti, mau?" tanyanya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun