Mohon tunggu...
Nur Alawiyah
Nur Alawiyah Mohon Tunggu... Administrasi - There is no elevator to success. You have to take the stairs.

a Girl who likes to read and write about her mind, especially reviewing movies or books.

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Penggunaan Diksi Aku atau Saya?

12 Juli 2020   21:47 Diperbarui: 4 Juni 2021   13:36 1481
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Banyak masyarakat kita, terutama saat masih atau sedang duduk di bangku sekolah, bahasa yang kita pelajari adalah bahasa Indonesia. Ya jelas dong, wong kita orang Indonesia. 

Saat kecil atau sampai saat ini mungkin juga masih banyak yang mempertanyakan, "Ngapain sih belajar bahasa Indonesia? Kan kita tinggal di Indonesia. Bahasa Indonesia udah jadi alat komunikasi sehari-hari". 

Padahal nyatanya, orang-orang yang berdalih dengan kalimat itu gak pernah mendapatkan nilai sepuluh, sembilan pada pelajaran bahasa Indonesia. Jadi, sepakat ya, kalau pelajaran bahasa Indonesia sejatinya gak mudah? 

Tapi, apalah arti sebuah angka. Nyatanya bahasa yang digunakan sehari-hari gak sebaku saat kita belajar bahasa Indonesia di kelas. Padahal belajar bahasa Indonesia enggak hanya tentang kalimat puitis yang enggak semua orang bisa rangkai. 

Baca juga :Semangat Pemuda Melestarikan Bahasa Indonesia

Belajar bahasa Indonesia lebih dari itu. Dewasa ini, masyarakat Indonesia lebih bangga untuk belajar bahasa asing. Bercakap menggunakan bahasa Inggris misalnya, katanya terlihat keren. Biar bisa ngobrol sama orang bule, katanya. 

Bahasa Indonesia itu sendiri sifatnya dinamis, yang artinya berubah-ubah mengikuti perkembangan zaman. Makanya KBBI hingga saat ini sudah memasuki versi kelima. Karena banyak kata-kata baru yang masuk di dalamnya. 

Bahasa Indonesia yang dipelajari di Sekolah dengan bahasa Indonesia yang menjadi alat komunikasi masyarakat sehari-hari memang berbeda. 

Tentu karena bahasa Indonesia yang dipelajari di Sekolah sifatnya adalah formal. Jadi, kalimat serta pembahasan di dalamnya juga berisi kata-kata yang terkadang kurang umum di dengar oleh telinga masyarakat Indonesia sehari-hari dalam berkomunikasi. Begitupun sebaliknya.

Baca juga : Mengukuhkan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Internasional

Seperti penggunaan deiksis dalam bahasa Indonesia. Deiksis yang ingin saya bahas di sini adalah deiksis persona, yaitu kata ganti orang. Dalam deiksis persona kajian pragmatik dalam ilmu linguistik, contoh kata ganti deiksis persona adalah aku dan saya. Aku dan saya sama-sama mempunyai arti yang sama, yaitu kata ganti orang pertama (yang berbicara). Lalu, yang ingin saya bahas adalah perbedaannya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bahasa Selengkapnya
Lihat Bahasa Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun