Mohon tunggu...
Akbar Pitopang
Akbar Pitopang Mohon Tunggu... Guru - Belajar Sambil Mengajar | Pendidikan Sepanjang Hayat

Bukan Sensasi Tapi Esensi. Alam takambang jadi guru | Pernah menjadi relawan KSR PMI Jogja, Chief storekeeper di Lombok, Operational-admin staff di MNC Payakumbuh | Pemerhati dunia edukasi, pendidikan agama, parenting dan psikologi anak, sosial budaya dan lifestyle | Bagian dari buku kolaborasi Kompasiana: Cinta Indonesia Setengah dan Jelajah Negeri Sendiri | Let inspired to inspiring πŸ‘

Selanjutnya

Tutup

Worklife Pilihan

Menepis Quiet Quitting dan Quiet Firing dengan Prinsip "Simbiosis Mutualisme"

26 September 2022   10:05 Diperbarui: 26 September 2022   10:20 375 42 10
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi dunia kerja yang kondusif (Foto via www.hcrlaw.com)

Alotnya pembicaraan mengenai fenomena quiet quitting dan quiet firing di dunia kerja, membuat kami sedikit merenung sekaligus agak merasa heran tentang mengapa kedua hal tersebut bisa terjadi.

Untuk memahami secara ringkas, quiet quitting ini dilakukan oleh para pekerja. sedangkan quiet firing dilakukan oleh atasan atau pihak perusahaan dan atau tempat kerja.

Toksik quiet quitting sendiri menjangkiti para pekerja, dimana ketika pekerja telah terkena toksik yang satu ini maka mereka akan bekerja sesuai jobdesc saja, tidak lebih dari itu.Β 

Karena adanya quiet quitting, pola kerja yang diamalkan oleh pekerja yakni: berangkat kerja, menyelesaikan pekerjaan, lalu pulang. begitu saja secara terus-menerus, membuat suasana kerja terasa sangat monoton.

Akibatnya pula bahwa dalam berperilaku pekerja yang terkena quiet quitting menunjukkan sikap seperti "hidup malas, mati tak mau".Β 

Bisa anda bayangkan betapa membosankan menjalani hari-hari di dunia kerja yang dirasakan oleh pekerja yang menanam benih quiet quitting dalam dirinya.

Ketika seorang pekerja mengalami quiet quitting, biasanya ia akan lebih "itung-itungan" mengenai tenaganya yang terpakai oleh perusahaan. Ia bahkan lebih banyak menolak tawaran pekerjaan yang diberikan kepadanya.

Bagi pekerja yang mengalami quiet quitting ini, bagi mereka bekerja yang sebuah proses untuk memperoleh gaji atau uang sebagai upah atas keringat dan tenaga yang telah dikeluarkannya saat bekerja.

Pola pikir dan tindakan pekerja yang terkena quiet quitting adalah, "do your job, take your pay, and go home" atau lakukan pekerjaanmu sesuai jobdesc, pulang tenggo, lalu ambil penghasilanmu, bye!

Jika kita bisa mengumpamakan perilaku pekerja dengan quiet quitting seperti gambaran di atas, maka ibaratnya pekerja tersebut bagaikan robot yang sudah di-setting untuk melakukan rutinitas pekerjaan tertentu yang ada pada database.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan