Mohon tunggu...
Aji NajiullahThaib
Aji NajiullahThaib Mohon Tunggu... Pekerja Seni

Hanya seorang kakek yang hobi menulis

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Pilihan

Kecerdikan Anies Baswedan dan Berbagai Kontroversinya

16 Februari 2020   10:00 Diperbarui: 16 Februari 2020   10:59 1149 11 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kecerdikan Anies Baswedan dan Berbagai Kontroversinya
Foto: Tempo.co

Salah besar kalau menyematkan Anies Baswedan sebagai 'Gebernur Terbodoh', seperti berbagai tagar yang berseliweran di twitter, hampir setiap hari. 

Kenapa saya bilang salah besar, karena pada kenyataannya, Anies sangat cerdik dalam menciptakan berbagai kontroversi, yang memang sepintas memperlihatkan kelemahannya, namun kalau diteliti lebih jauh, justeru terlihat sangat cerdik dalam memanfaatkan situasi.

Seorang Abu Nawas, sepintas memang perilakunya terlihat sangat bodoh dan konyol, tapi pada kenyataannya dia selalu berhasil memperdaya orang lain dengan kecerdikannya, begitu juga dengan Anies.

Bagi Anies, berbagai kontroversi yang dilakukannya adalah bagian dari investasi elektoralnya untuk menghadapi Pilpres 2024, selalu menjadi pembicaraan publik dan media, adalah bagian dari strateginya untuk menaikkan 'branding' sebagai Calon Presiden yang populer, meskipun saat ini terlihat lebih banyak negatifnya.

Kontroversi soal revitalisasi Monas, yang pada awalnya terkesan melanggar aturan, karena tanpa sepengetahuan Setneg, pada akhirnya Setneg mempersilahkan Pemprov DKI Jakarta melanjutkan revitalisasi Monas, meskipun dengan berbagai catatan.

Kontroversi izin penyelenggaraan Formula E, yang pada awalnya Setneg begitu garang menolak penyelenggaraannya di wilayah Monas, pada akhirnya Setneg juga memberikan izin kepada Anies untuk tetap diadakan diwilayah Monas.

DPRD DKI yang pada awalnya terlihat begitu garang, sekarang pun tidak berkutik menghadapi Anies Baswedan, selalu ada cara Anies untuk menghadapi, orang-orang yang akan menghambat kerjanya. Bagi Anies, biarkan anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.

Kontroversi soal normalisasi dan naturalisasi kali ciliwung, dengan cerdik Anies bisa melepaskan pelaksanaan proyek penanggulangan banjir Jakarta kepada Pemerintah pusat, meskipun sepintas terkesan, penanggulangan banjir Jakarta diambil alih pemerintah pusat, tapi secara beban dan tanggung jawab, sangat mengurangi porsi pemprov DKI Jakarta secara tidak langsung.

Dengan mengubah berbagai diksi yang umum dipakai oleh pendahulunya, Anies mengubah imej-nya bukan sebagai pengekor. Kalau rumah susun itu diksi lama, maka Anies cukup memgubahnya menjadi 'rumah lapis', meskipun perwujudannya tetap sama.

Diksi 'menggusur' cukup diubah Anies dengan 'menggeser', agar tidak terkesan ekstrim, meskipun pada eksekusinya tetap sama, tapi setidaknya Anies tidak mengekor pendahulunya. Itulah kenapa Anies tidak ingin adanya Normalisasi, karena normalisasi adalah produk pendahulunya, kalau Anies cenderung naturalisasi.

Berbeda dahulu dan menjadi kontroversi, adalah sesuatu yang begitu memiliki nilai tersendiri bagi Anies, soal bagaimana eksekusinya, itu soal lain.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x