Mohon tunggu...
Agus Oloan
Agus Oloan Mohon Tunggu... Membaca adalah kegemaran dan Menuliskan kembali dengan gaya bahasa sendiri. Keharusan

Pengajar yang masih perlu Belajar...

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Anakku Dengan Bakat Seninya

23 Agustus 2017   22:34 Diperbarui: 23 Agustus 2017   23:27 1641 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Anakku Dengan Bakat Seninya
Salah Satu Wujud Karya Seni Dengan menggunakan Teknik Cat Air Diatas Kertas. Sumber: Dokumen Pribadi

"Bukankah setiap manusia diciptakan dengan jiwa seninya?", begitulah Dosenku memulai mata kuliahnya ketika saya Semester V dengan mata kuliah Grafik Komputer. Dosen yang masih muda itu bercerita bahwa pada hakikatnya saat dilahirkan, kita Manusia tercipta dengan jiwa seni yang sudah melekat pada dirinya, tinggal orangtua kita atau orang-orang disekitar kita bisa melihat, merasakan dan mampu mengembangkan jiwa seni yang kita miliki untuk dipoles agar lebih mahir, hingga sanggup melahirkan karya-karya seni lewat jiwa seni yang dimilikinya.

Problem yang dihadapi adalah ketika orangtua atau guru maupun pelatih tidak mampu menemukan dan mengoptimalkan jiwa seni yang dimiliki seseorang karena keterbatasan banyak hal, terutama keterbatasan sarana dan prasarana dan kurangnya pendekatan ilmiah maupun praktikal agar si anak mampu mengoptimalkan jiwa seninya hingga menghasilkan karya seni bernilai jual tinggi. Penghargaan yang kurang terhadap hasil karya seni ternyata berdampak besar terhadap kemampuan seseorang untuk mengeksplorasi kemampuan jiwa seninya sehingga berdampak pada ketidakmampuan dan ketidakmauan untuk kembali mengolah jiwa seni yang dimiliki oleh seorang anak.

Ibarat pelangi berwarna-warni yang menghiasi awan dan munculnya datang tiba-tiba dan menghilang tiba-tiba juga, maka begitu jugalah jiwa seni yang muncul di dalam diri kita. Apabila kita kembangkan? Maka jiwa seni tersebut akan mewarnai dan menghiasi kehidupan kita dengan wujud karya seni terindah! Tetapi apabila kita indahkan? Maka jiwa seni tersebut akan hilang seperti hilangnya pelangi keindahan alam yang membuat warna kehidupan kita monoton alias tidak berseni!

Tidak dapat dipungkiri, terkadang kita menjadi iri ketika melihat teman yang bisa mengeksplorasi jiwa seninya sehingga mahir dalam memainkan alat musik, mampu melukis, ataupun mampu melahirkan karya-karya seni lainnya yang tidak dapat kita lakukan. Ini mungkin tidak terlepas dari masa kecil yang tidak peduli dengan bakat kita dan tidak mau mencoba untuk mengeksplorasinya. Contoh kecil, tidak mau memainkan alat gitar misalnya, walaupun ada alat gitar dirumah? Tetapi terlena oleh waktu dan kesempatan yang sedikit karena kesibukan, kita menjadi tidak tertarik.

Ataupun bisa juga karena orangtua yang tidak mendukung dengan tidak adanya fasilitas bisa menjadi faktor jiwa seni tidak tertularkan. Juga disekolah karena tidak adanya fasilitas pendukung sehingga waktu pelajaran seni musik? Belajarnya hanya teori tanpa pernah praktek.  

Atau seperti yang saya alami, dimana karena kurangnya peduli akan kemampuan dasar membaca not maupun membedakan not, sehingga pendengaran kurang familiar dengan not-not pada gitar ataupun pada alat musik piano, mengakibatkan saya gagal ikut ujian untuk masuk mengikuti pelatihan khusus bagi pengiring organ lagu-lagu Gereja. 

Namun, hal itu bukanlah masalah karena ternyata dalam hal seni tarik suara, ntah karena memang bakat seni alami yang dianugerahi Sang Pencipta, dalam hal bernyanyi lewat paduan suara maupun koor di Gereja, saya masih bisa menyumbangkan suara! Dan itu menjadi kebanggaan saya kepada Sang Pencipta yang menganugerahi kita alam Indonesia yang indah, damai dan penuh karya seni!

Seni Tarik Suara, adalah Jiwa Seni yang pasti dimiliki oleh setiap orang, Tergantung kita mau mengasah atau tidak. Gambar ketika kami Juara III Lomba Koor antar Stasi. sumber: Dokpri
Seni Tarik Suara, adalah Jiwa Seni yang pasti dimiliki oleh setiap orang, Tergantung kita mau mengasah atau tidak. Gambar ketika kami Juara III Lomba Koor antar Stasi. sumber: Dokpri
Mengembangkan Bakat Seni Anak

Jauh sebelumnya, sewaktu mengemban pendidikan tingkat SD dan SMP di tahun 90-an, kita dibekali dan dijejali dasar-dasar seni lukis dan seni pahat yang mengharuskan kita bekerja keras untuk menyelesaikan PR seni lukis dan seni pahat dengan baik. Saya masih ingat ketika tangan saya terluka ketika salah meletakkan posisi tangan saat melakukan kikisan di papan pahat atau ketika tangan tak sengaja terkena tokokan palu, namun tujuannya adalah agar kita paham dan mau bekerja keras untuk menghasilkan karya seni dan tanpa malu menunjukkannya hasil karya seni kita.

Namun, di era kekinian seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, maka kita disuguhi juga dengan perubahan paradigmadalam menciptakan karya seni yang indah. Jika di era tahun 80-an, 90-an, hingga awal tahun 2000-an atau era millenium baru dalam menciptakan karya seni didominasi oleh kanvas, cat, kuas, hingga buku gambar bagi pelajar maupun mahasiswa? Maka sekarang kita disuguhi dengan Aplikasi Komputer dalam mewujudkan karya seni yang bernilai tinggi.

Mau tidak mau, suka tidak suka, sekarang kita sudah harus familiar dengan software pembuat Grafis untuk menggantikan peran perangkat manual, tetapi peran pensil tidak tergantikan oleh waktu karena vitalnya sebagai alat yang praktis untuk menuangkan rancangan ide, gambar, maupun teks yang akan diolah menggunakan Aplikasi Desain Grafis. Baik desainer manapun pasti masih menggunakan pensil! Dan Faber-Castell masih merupakan produsen alat tulis tertua dan terbesar di dunia yang masih menyuplai dan mendorong kemajuan dunia pendidikan serta kreativitas anak Indonesia dalam mengembangkan jiwa seni masyarakat tanah air lewat program-program yang bermanfaat secara berjenjang dan berkelanjutan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x