Mohon tunggu...
Afif Auliya Nurani
Afif Auliya Nurani Mohon Tunggu... Guru - Pengajar

Semakin kita merasa harus bisa, kita harus semakin bisa merasa

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Aku, Kepompong, dan Seribu Patahan Hati

27 April 2018   23:58 Diperbarui: 28 April 2018   00:24 1290
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: Steve Greer Photography

"Kenapa?"

"Karena muka-mu mirip Anis, jadi aku melihatmu seakan melihat dia! Hehe... Jangan marah, ya! Namamu juga mirip. Sani, anagram dari Anis. Jangan-jangan... kalian anak kembar! Hahaha"

Sungguh itu adalah candaan terburuk se-dunia. Tidak lucu sama sekali.

Belum selesai aku membalut luka, tiba-tiba dia mengatakan hal yang setiap malam menjadi ketakutanku.

"San..."

"Hm?"

"Besok aku akan ke rumah Anis"

"Ngapain?"

"Ngajakin nikah lah"

Itulah yang membuatku pergi sejauh ini, tanpa pamit. Hatiku sudah terlanjur patah jadi seribu bagian. Empat ratusnya karena dia menjadikanku sahabat dan memperlakukanku dengan amat sangat manis hanya karena wajahku mirip dengan pujaan hatinya, dan enam ratus patahan karena dia memutuskan untuk menikahi perempuan itu. Lalu, untuk apa lagi aku ada di hidupnya?

"Oh... Ternyata itu yang membuat kamu murung di saung ini setiap malam"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun