Mohon tunggu...
Adri Wahyono
Adri Wahyono Mohon Tunggu... Penulis - Freelancer

Pemimpi yang mimpinya terlalu tinggi, lalu sadar dan bertobat, tapi kumat lagi

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cerpen | Sebotol Racun Suram

25 Desember 2022   18:49 Diperbarui: 25 Desember 2022   19:06 262
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik


Suram memegangi botol plastik berwarna hijau. Tangannya gemetaran dan wajahnya basah oleh keringat. Semalam ia sudah yakin akan keputusannya, siang ini tinggal melaksanakannya saja, dan selesai. 

Tadi ia masih mantap dan malahan semakin mantap ketika melangkah ke toko di ujung jalan desa. Tapi ketika ia tiba kembali di rumah dengan botol hijau di tangannya, ia bimbang.

Ia merasa mual dan rasanya seperti mengambang. Tidak menginjak bumi. Rasa takut mulai mencampuri rasa bimbang, sedikit demi sedikit. Dan dalam pikirannya ia mulai memikirkan sekaligus teringat akan banyak hal.

'Aku tak takut mati,' pikirnya. Ya, ia memang sudah mantap mengenai hal itu. Menurutnya itu pilihan terbaik yang bisa diambil saat ini. Tapi bagaimana jika tak mati? Racun dalam botol hijau itu hanya membuatnya sekarat dan tersiksa?

Orang-orang akan mengerubunginya dan tahu ia mencoba mengakhiri hidupnya, tapi gagal. 

'Mereka akan menolongku,' pikirnya. Bukan hanya agar ia tetap hidup semata-mata, tapi agar mereka masih tetap punya harapan hutang mereka dibayar. Suram semakin bimbang. Keputusannya sekarang menggantung karena ia takut racun itu tak sanggup membunuhnya tapi malah mempermalukan dirinya.

Sudah banyak cerita tentang orang yang gagal mengakhiri hidup, karena racun yang kurang mematikan. Hasilnya, mereka ditolong dan tetap hidup dengan menanggung malu.

'Aku tetap pada keputusanku,' pikir Suram, 'tapi aku tak mau malu, aku harus berhasil!'

Ia lalu ingat berita menghebohkan tentang seorang perempuan yang mati seketika karena, menurut berita, di dalam kopi yang diminumnya diam-diam diberikan racun sianida oleh temannya sendiri. Kata berita pula, seseorang bisa mati tanpa perlu menunggu dirinya sadar bahwa ia keracunan, bahkan jika ia hanya menelan sedikit saja sianida. 

Sianida. Ya, aku membutuhkan jenis racun yang seperti itu, sedikit langsung mati, tak perlu harus minum hingga sebotol banyaknya. Suram kembali mantap dengan keputusannya. Ia harus mendapatkan sianida itu, dan kalau bisa, segera.

'Tapi, di mana aku bisa mendapatkan sianida jika tak pergi ke kota?' pikirnya lagi. Manakala hal itu disadarinya, rasa bimbang kembali lagi. Hari-hari ini pergi ke kota adalah satu masalah jika kau tak memiliki motormu sendiri. Angkutan  sekarang sama sekaratnya dengan hidup Suram. Lagipula, di toko yang mana ia bisa mendapatkan sianida? 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun