Mohon tunggu...
Adis Setiawan
Adis Setiawan Mohon Tunggu... Mahasiswa | Penulis Lepas

Ikatlah Ilmu Dengan Tulisan

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Dolar Naik, Apakah Mempengaruhi Produksi Tempe ?

3 Mei 2019   09:12 Diperbarui: 13 Agustus 2020   17:33 37 0 0 Mohon Tunggu...

Karena Dolar naik terhadap rupiah, penulis habis membaca sebuah artikel yang isinya bahwa produksi tempe yang tadinya tebal akan menjadi se-tipis kartu ATM. Tentunya tidak beneran se-tipis kartu ATM, maksutnya mungkin lebih tipis atau lebih kecil dari biasanya --yang di anggap sebelum dolar naik. Berita yang sedang ramai di pekan ini November 2018 tempe setipis kartu ATM. Mungkin maksutnya karena dolar naik harga kedelai, bahan baku tempe dan tahu juga ikut naik harganya.

Sebelum membahas soal produksi tempe, terlepas dari itu semua penulis akan memberitahu bahwa, kalau sudah di olah menjadi tempe goreng tepung (tempe kemul) --seperti mendoan tapi agak kering. Bagi penulis melihat tempe tipis sudah biasa, yang tipis seperti kartu ATM itu apalagi, sering banget lihat di american warteg samping McD Grandwis, bahkan dari dulu sebelum dolar naik tempe goreng setipis kartu ATM. Kalau tak percaya kita ke wartegnya saja tak kasih tunjuk. Kalian tidak bisa membayangkan setipis apa?, pernah makan atau melihat kripik tempe, itu sama tipisnya.

Dulu pada waktu penulis masih kecil "tempe kemul" ini di makan bareng dengan "meniran" --nasi di bungkus daun pisang dalamnya ada urab sayur dan di kukus. Biasanya di nikmati makanan itu pada hari Minggu pada saat libur sekolah, dimakan bareng-bareng dan masih panas. Karena sekolah libur maka teman-teman kumpul di teras rumah Pak Lek Tukiyo --Guru Ngaji. Sambil mainan klereng, adu Gambar dll. Meniran dan tempe tepung goreng itu makanan paling enak bagi penulis, setelah makanan jenis ikan asin kepala dua, sambel Terasi, sayur rebus jenis lobor --mungkin bahasa Indonesianya sawi hijau.


Seadainya harga kedelai benar naik, maka bukan hanya tempe, mungkin Tahu juga Ikut kena imbasnya. Tahu juga makanan yang enak, dulu waktu penulis main di pabrik tahu,  gimana tak sering main kepabrik tahu, tetangga pabrik tahu dan tempe semua. Sering melihat cara bikin tempe atapun tahu. Ada tahu putih ada tahu merah (goreng), biasanya di gorengnya pada malam hari dan penulis membeli langsung di pabriknya biar panas. Walaupun tak ada rasanya, hambar karena memang tak dikasih bumbu, jadi makannya pakai kecap di kasih ulekan cabe jadi enak kalau lagi panas. Tapi kalau sudah pagi tahu merah itu berair atau lembab, kalau dah sampai di pasar. Memang kalau tahu putih sih di kasih air di bungkus kalau di pasaran.








Bagi tetangga penulis --pabrik tahu dan tempe, berita apa pun hastag jkw2 periode kek, hastag 2019gantipresiden kek, belum tentu ikut nimbrung, kecuali berita harga kedelai naik. Karena tetangga pabrik tahu dan tempe semua, ya sensitif banget kalau dengar harga kedelai nai. Seadainya se-kampung tak setuju semua, harga kedelai naik bisa demo tuh --kalau kita kasih racun politik. Hanya penulis yang menikmati bau limbah manyon (air buangan rebus kedelai). Karena samping rumah ada selokan buat jalan buang air limbah, baunya waw hahahha bercanda.


Penulis pernah bertanya kepada pegelolah pabrik tempe dan tahu, bagaimana kalau harga kedelai naik. Apakah ada keuntungan-nya, pada waktu itu lagi produksi tempe dan sedang naburin Ragi pada kedelai yang habis di rebus. ,[''Katanya, apabila menaikan harga tak mungkin. Yang beli di pasar juga tetangga sendiri, itu pun sudah harga pasaran. Mau kedelainya di kurangi, jadi tempenya agak kecil tak mungkin, emak-emak di pasar pasti ngoceh. Ya paling bisa di akali pakai campuran jagung biar kelihatan produksi banyak''], Jadi kedelainya di campur jagung 1 atau 2 Kg, biar kelihatan jadi banyak bungkusan tempenya. Tidak tahu, campuran jagung biar tambah gurih, atau buat akalan biar banyak produksinya.

Waallahu 'Alam

VIDEO PILIHAN