Mohon tunggu...
Adis Setiawan
Adis Setiawan Mohon Tunggu... Mahasiswa STIT Nusantara Bekasi

Yang sering memberi teori akan kalah dengan yang sering kasih aksi.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Dolar Naik, Apakah Mempengaruhi Produksi Tempe di Desa Sukorejo?

3 Mei 2019   09:12 Diperbarui: 3 Mei 2019   09:56 0 0 0 Mohon Tunggu...
Dolar Naik, Apakah Mempengaruhi Produksi Tempe di Desa Sukorejo?
Foto dok pribadi

Dolar Naik Apakah Mempengaruhi Produksi Tempe Di Desa Sukorejo ?

Karena Dolar naik terhadap rupiah, Berita ini saya dapat dari membaca sebuah artikel bahwa produksi tempe yang tadinya tebal akan menjadi se-tipis kartu ATM, Tentunya tidak benar setipis kartu ATM. Maksutnya lebih tipis atau lebih kecil dari biasanya produksi pada saat sebelum dolar naik , Mungkin maksutnya adalah karena dolar naik terhadap nilai rupiah jadi harga Kedelai bahan baku tempe dan tahu harganya ikut naik.

Sebelum membahas soal produksi tempe saya akan memberitahu bahwa kalau sudah di olah menjadi tempe goreng tepung (tempe kemul)/(kaya mendoan tapi lebih kering), Bagi saya melihat tempe tipis sudah biasa malah yang tipis seperti kartu ATM itu, Sudah sering banget lihat di American warteg samping Em Ce De Grandwis Bekasi. 

Bahkan dari dulu sebelum dolar naik mereka membuat tempe kemul tipis se kartu ATM itu jadi seperti kripik tempe, Kalau tidak percaya kita ke wartegnya terus saya kasih tunjuk , Bagaimana kalian tidak bisa membayakan setipis apa? Pernah makan atau melihat kripik tempe ya itu sama tipisnya jadi bukan seperti tempe kemul/mendoan, jadi malah seperti kripik tempe.

Dulu pada waktu saya kecil "tempe kemul" ini di makan bareng dengan "meniran"( nasi di bungkus daun pisang dalamnya ada kaya urab sayur di kukus) , Biasanya dinikmati makanan itu pada hari minggu saat masih anget, Karena sekolah libur teman teman kumpul di teras rumah Pak Lek Tukiyo.(Guru Ngaji) sambil mainan (setinan) klereng, Adu Gambar dll. 

Tempe kemul dimakan bareng meniran adalah makanan paling enak bagi saya, Tapi ada yang lebih enak lagi sebagai anak jawa pedalaman makanan ikan asing +sambel+ sayur rebus lobor (kayaknya bahasa indonesianya sawi hijau deh) itu mantoop gaes.

Seadainya harga kedelai benar naik maka bukan hanya tempe , Mungkin Tahu akan Ikut kena imbasnya , Tahu ini juga makanan yang enak sebetulnya, Dulu waktu saya main di pabrik tahu bagaimana tidak sering main karena tetangga saya pabrik tahu tempe semua, Sering melihat cara bikin tempe dan tahu , Ada tahu putih ada tahu merah coklat (goreng) biasanya gorengnya pada malam hari.

Pada waktu itu saya membeli langsung di pabriknya biar panas habis goreng, Walapaun tidak ada rasanya, Karena memang tidak di beri bumbu rasanya jadi tawar, Terus di makan pakai kecap di kasih cabai, enak kalau lagi panas , Tapi kalau sudah pagi hari tahu merah itu berair atau lembab coba lihat kalau di pasar, Memang kalau tahu putih sih di kasih air di bungkus plastik.

Lah ini bagaimana tho malah isi tulisanya curhat bukan argumentasi tentang tempe, Ya sudah mau di baca silahkan tidak juga silahkan

Bagi tetangga saya yang pabrik tempe dan tahu berita apa pun tentang politik elektoral belum tentu nimbrung, Kecuali berita harga kedelai naik tetangga saya yang pabrik tahu tempe semua ya bisa sensitif banget kalau dengar harga kedelai naik tambah mahal , Seadainya 1 kampung tidak setuju dengan naiknya harga kedelai, Kalau ada provokatornya bisa demo itu apalagi kalau kita kasih racun politik elektoral, Hanya saya yang menikmati bau limbah manyon gaes hehe.bercanda

Saya pernah bertanya bagaimana kalau harga kedelai naik perlu siasat apa ?,  Pada waktu itu pas banget lagi produksi tempe saat menabur Ragi pada kedelai yang habis di rebus , Kesempatan bertanya ini, Apakah kalau kedelai naik terus harga tempenya juga naik ?  "Apabila menaikan harga tidak mungkin yang beli di pasar juga tetangga sendiri itu pun sudah harga pasaran", Terus bagaimana mensiasatinya apakah tempenya di kecilkan ? , "Mau kedelainya di kurangi dan jadi tempenya lebih kecil tidak mungkin emak emak di pasar pasti ngoceh ini, Ya paling bisa di akali pakai jagung , Jadi kedelainya di campur jagung 1 atau 2 Kg biar gurih ujarnya,  atau hanya buat akalan pabrik biar banyak produksinya, heheh bercandaan

Mungkin pabrik tempe tahu di Sukorejo tidak perlu pakai akal akalan mensiasati kenaikan harga, Mereka mempunyai rasa tidak enak terhadap sesama tetangga harus saling berbagi, Sopan satunya tingkat tinggi, Di wilayah perantauan tidak seperti itu ada kala nya Loe Loe , Gua Gua, Yang di pikirkan hanya untung, uang, untung laris, Itulah kenapa budaya tanah Njawi harus di lestarikan, Tiada tanding soal toleransi, saling menghormati,  

Waallahu 'Alam

Adis Setiawan
Anak Jawa Pedalaman