Sri Wintala Achmad
Sri Wintala Achmad penulis

SRI WINTALA ACHMAD menulis puisi, cerpen, novel, roman, cerita rakyat dalam bahasa Jawa, Indonesia, dan Inggris. Karya-karyanya dimuat di media masa lokal, nasional, Malaysia, dan Australia; serta diterbitkan dalam berbagai antologi di tingkat daerah dan nasional. Nama kesastrawannya dicatat dalam "Buku Pintar Sastra Indonesia", susunan Pamusuk Eneste (Penerbit Kompas, 2001) dan "Apa dan Siapa Penyair Indonesia" (Yayasan Hari Puisi Indonesia, 2017). Sebagai anggota Dewan Kesenian Cilacap periode 2017-2019. https://indonesianromanticpoetry.blogspot.com/

Selanjutnya

Tutup

Novel

Sepasang Pendekar Rajawali dan Pedang Cinta (Bag 1)

13 Maret 2018   18:22 Diperbarui: 13 Maret 2018   18:48 439 0 0

PURNAMA DI DESA KARANGLO

BANYAK orang bilang, Karanglo adalah desagemah ripah karta tata tur raharja[1] di tlatah Panjer[2]. Desa yang dilingkungi dengan pesawahan subur. Desa dialiri sungai yang menjadi urat nadi bagi para petani. Di musim kemarau terpanjang, pesawahan dan sumur-sumur di desa itu tak pernah kerontang. Hingga orang-orang bilang, Karanglo adalah sekeping pecahan surga yang dilempar dewa pilihan dari langit ke salah satu titik di planit bumi.

Bila pagi, Karanglo selalu sepi dari penghuninya. Sebagian mereka pergi ke sungai untuk memandikan kerbau dan sapi. Sebagian lain pergi ke tanah lapang untuk merumput buat ternaknya. Sebagian terakhir pergi ke sawah untuk merawat tanaman padinya. Menjelang siang, mereka selalu pulang untuk mengisi perut bersama keluarga. Selepas siang, mereka kembali membanting tulang. Membasuh tubuh mereka dengan keringat.

Sebagaimana sekawanan blekok yang terbang ke timur dengan membentuk anak panah saat ambang senja, orang-orang pulang ke rumah. Berkumpul dengan keluarga di ruangan depan. Bersantap malam. Sesudah mereka mandi di sumur. Menutup pintu dan jendela rumahnya rapat-rapat. Menyalakan lentera minyak jarak.

Malam bulan penuh dan bertaburankan bintang. Jarana dan Jureni isterinya yang telah selesai mengisi perutnya dengan nasi gaga sayur lodheh keluar dari rumah Ki Ageng Karanglo. Duduk di depan pendapa sambil menyaksikan anak-anak tengah bermain jaranan di pelataran. Anak-anak yang menunggang kuda-kudaan dari blungkang sambil berjalan membentuk lingkaran dan menyanyikan lagu Jaranan. Anak-anak yang berhandai-handai sebagai pemuda gunung, pengiring Kuda Kawung milik Tuan Tumenggung. Anak-anak yang berhandai-handai sebagai para mantri, pengiring Tuan Bei pemilik Kuda Teji.

Menyaksikan tingkah-polah anak-anak yang bermain jaranan di pelataran, Jarana dan Jureni tertawa terpingkal-pingkal hingga air matanya membasahi sudut bola mata. Terlebih saat mereka menyaksikan Bagus Badranaya yang menari sambil berjalan di belakang anak-anak itu tanpa kuda mainan. Gerak tarian anak yang memiliki sepasang tangan gendhewa pinenthang[3] itu tak hanya terkesan naf dan lucu, namun pula sangat luwes.

"Tarian Gus Badra sungguh memikat hati, Ramane!" Jureni yang merupakan orang kepercayaan Ki Ageng Karanglo untuk mengasuh Bagus Badranaya sejak bayi bersama Jarana itu membuka pembicaraan. "Kalau melihat gerak tariannya, Gus Badra memiliki kelebihan dari anak-anak lainnya. Keluwesannya melampaui keluwesan Rinten anak kita. Anak bekas seorang ledhek tayub."

"Biyunge!" Jarana melontarkan kata-kata setengah berbisik dari mulutnya yang berbau tembakau. "Kalau keluwesan Gus Badra melebihi keluwesan Rinten, itu wajar. Apa kamu sudah lupa? Gus Badra itu putra Gusti Ayu Pembayun. Ledhek kondang Mataram yang dapat meruntuhkan hati Ki Ageng Mangir?"

"Oh, ya. Aku hampir lupa. Padahal aku tak pernah makan brutu."

"Tetapi, lebih baik kamu lupa."

"Maksud, Ramane?"

"Kalau tak lupa, mulutmu nanti bisa nerocos pada tetangga. Mengatakan kalau Gus Badra bukan anak kita. Tapi, putera Gusti Ayu Pembayun. Itu sangat berbahaya!"

"Bahaya?" Jureni bertanya pada Jarana dengan nada lantang hingga anak-anak yang masih bermain itu menoleh ke arah mereka. "Apanya yang berbahaya?"

"Apakah kamu lupa dengan pesan Ki Ageng Karanglo, sewaktu beliau memerintahkan pada kita untuk merahasiakan kalau Gus Badra sebagai putera Gusti Ayu Pembayun?"

"Sebentar, Ramane! Aku ingat-ingatnya dulu pesan Ki Ageng!" Jureni yang tengah memikirkan tentang pesan Ki Ageng Karanglo itu tampak samar-samar mengernyitkan dahinya di bawah cahaya purnama.  Selang tiga hembusan napas, Jareni mengangguk-anggukkan kepala. "Ya..., ya..., ya.... Aku ingat sekarang apa yang dipesankan oleh Ki Ageng."

"Coba katakan apa pesan beliau!"

"Pesan beliau: 'Jarana dan kamu Jureni, rahasiakan kalau Thole Badra adalah putera Gusti Ayu Pembayun. Bila kalian dapat merahasiakannya, aku akan kasih kalian hadiah yang setimpal.' Bukankah begitu pesan Ki Ageng?"

"Bukan pesan itu yang aku maksud!"

"Lantas.... Pesan yang mana lagi?"

"Pesan yang menyatakan kalau kita tak dapat melaksanakan perintah Ki Ageng, kepala kita yang akan menjadi taruhannya. Apakah kamu masih ingat dengan ancaman Ki Ageng itu?"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6