Sri Wintala Achmad
Sri Wintala Achmad penulis

SRI WINTALA ACHMAD menulis puisi, cerpen, novel, roman, cerita rakyat dalam bahasa Jawa, Indonesia, dan Inggris. Karya-karyanya dimuat di media masa lokal, nasional, Malaysia, dan Australia; serta diterbitkan dalam berbagai antologi di tingkat daerah dan nasional. Nama kesastrawannya dicatat dalam "Buku Pintar Sastra Indonesia", susunan Pamusuk Eneste (Penerbit Kompas, 2001) dan "Apa dan Siapa Penyair Indonesia" (Yayasan Hari Puisi Indonesia, 2017). Sebagai anggota Dewan Kesenian Cilacap periode 2017-2019. https://indonesianromanticpoetry.blogspot.com/

Selanjutnya

Tutup

Novel

Sepasang Pendekar Rajawali dan Pedang Cinta (Bag 1)

13 Maret 2018   18:22 Diperbarui: 13 Maret 2018   18:48 232 0 0

PURNAMA DI DESA KARANGLO

BANYAK orang bilang, Karanglo adalah desagemah ripah karta tata tur raharja[1] di tlatah Panjer[2]. Desa yang dilingkungi dengan pesawahan subur. Desa dialiri sungai yang menjadi urat nadi bagi para petani. Di musim kemarau terpanjang, pesawahan dan sumur-sumur di desa itu tak pernah kerontang. Hingga orang-orang bilang, Karanglo adalah sekeping pecahan surga yang dilempar dewa pilihan dari langit ke salah satu titik di planit bumi.

Bila pagi, Karanglo selalu sepi dari penghuninya. Sebagian mereka pergi ke sungai untuk memandikan kerbau dan sapi. Sebagian lain pergi ke tanah lapang untuk merumput buat ternaknya. Sebagian terakhir pergi ke sawah untuk merawat tanaman padinya. Menjelang siang, mereka selalu pulang untuk mengisi perut bersama keluarga. Selepas siang, mereka kembali membanting tulang. Membasuh tubuh mereka dengan keringat.

Sebagaimana sekawanan blekok yang terbang ke timur dengan membentuk anak panah saat ambang senja, orang-orang pulang ke rumah. Berkumpul dengan keluarga di ruangan depan. Bersantap malam. Sesudah mereka mandi di sumur. Menutup pintu dan jendela rumahnya rapat-rapat. Menyalakan lentera minyak jarak.

Malam bulan penuh dan bertaburankan bintang. Jarana dan Jureni isterinya yang telah selesai mengisi perutnya dengan nasi gaga sayur lodheh keluar dari rumah Ki Ageng Karanglo. Duduk di depan pendapa sambil menyaksikan anak-anak tengah bermain jaranan di pelataran. Anak-anak yang menunggang kuda-kudaan dari blungkang sambil berjalan membentuk lingkaran dan menyanyikan lagu Jaranan. Anak-anak yang berhandai-handai sebagai pemuda gunung, pengiring Kuda Kawung milik Tuan Tumenggung. Anak-anak yang berhandai-handai sebagai para mantri, pengiring Tuan Bei pemilik Kuda Teji.

Menyaksikan tingkah-polah anak-anak yang bermain jaranan di pelataran, Jarana dan Jureni tertawa terpingkal-pingkal hingga air matanya membasahi sudut bola mata. Terlebih saat mereka menyaksikan Bagus Badranaya yang menari sambil berjalan di belakang anak-anak itu tanpa kuda mainan. Gerak tarian anak yang memiliki sepasang tangan gendhewa pinenthang[3] itu tak hanya terkesan naf dan lucu, namun pula sangat luwes.

"Tarian Gus Badra sungguh memikat hati, Ramane!" Jureni yang merupakan orang kepercayaan Ki Ageng Karanglo untuk mengasuh Bagus Badranaya sejak bayi bersama Jarana itu membuka pembicaraan. "Kalau melihat gerak tariannya, Gus Badra memiliki kelebihan dari anak-anak lainnya. Keluwesannya melampaui keluwesan Rinten anak kita. Anak bekas seorang ledhek tayub."

"Biyunge!" Jarana melontarkan kata-kata setengah berbisik dari mulutnya yang berbau tembakau. "Kalau keluwesan Gus Badra melebihi keluwesan Rinten, itu wajar. Apa kamu sudah lupa? Gus Badra itu putra Gusti Ayu Pembayun. Ledhek kondang Mataram yang dapat meruntuhkan hati Ki Ageng Mangir?"

"Oh, ya. Aku hampir lupa. Padahal aku tak pernah makan brutu."

"Tetapi, lebih baik kamu lupa."

"Maksud, Ramane?"

"Kalau tak lupa, mulutmu nanti bisa nerocos pada tetangga. Mengatakan kalau Gus Badra bukan anak kita. Tapi, putera Gusti Ayu Pembayun. Itu sangat berbahaya!"

"Bahaya?" Jureni bertanya pada Jarana dengan nada lantang hingga anak-anak yang masih bermain itu menoleh ke arah mereka. "Apanya yang berbahaya?"

"Apakah kamu lupa dengan pesan Ki Ageng Karanglo, sewaktu beliau memerintahkan pada kita untuk merahasiakan kalau Gus Badra sebagai putera Gusti Ayu Pembayun?"

"Sebentar, Ramane! Aku ingat-ingatnya dulu pesan Ki Ageng!" Jureni yang tengah memikirkan tentang pesan Ki Ageng Karanglo itu tampak samar-samar mengernyitkan dahinya di bawah cahaya purnama.  Selang tiga hembusan napas, Jareni mengangguk-anggukkan kepala. "Ya..., ya..., ya.... Aku ingat sekarang apa yang dipesankan oleh Ki Ageng."

"Coba katakan apa pesan beliau!"

"Pesan beliau: 'Jarana dan kamu Jureni, rahasiakan kalau Thole Badra adalah putera Gusti Ayu Pembayun. Bila kalian dapat merahasiakannya, aku akan kasih kalian hadiah yang setimpal.' Bukankah begitu pesan Ki Ageng?"

"Bukan pesan itu yang aku maksud!"

"Lantas.... Pesan yang mana lagi?"

"Pesan yang menyatakan kalau kita tak dapat melaksanakan perintah Ki Ageng, kepala kita yang akan menjadi taruhannya. Apakah kamu masih ingat dengan ancaman Ki Ageng itu?"

"Ehm...." Jureni berteriak. "Ya! Aku ingat sekarang."

"Ingat, ya ingat. Tapi jangan berteriak! Lihat! Anak-anak sampai menoleh ke arah kita."

"Ya, Ramane. Maaf! Maaf!"

"Tak perlu minta maaf! Yang penting kamu dapat menyimpan rahasia besar kalau Gus Badra adalah putera Gusti Ayu Pembayun. Dengan menyimpan rahasia itu, kepala kita tak akan lepas dari raga."

Sebelum Jureni melontarkan kata-kata dari celah setangkup bibir yang memerah lantaran warna gambir dari kinang yang dikunyah, Bagus Badranaya dan Rinten telah berdiri di depannya. Seusai anak-anak yang bermain di halaman itu bubaran; Jureni, Jarana, Bagus Badranaya, dan Rinten memasuki rumah. Lantaran kelelahan bermain, Bagus Badranaya dan Rinten bergegas membaringkan tubuh di amben kayu beralas tikar mendong sesudah mencuci tangan, kaki, dan wajah di sumur. Sementara Jarana dan Jureni yang belum kantuk masih menghabiskan malam purnama. Duduk di kursi kayu di ruangan ndalem jero yang biasanya digunakan untuk melaras malam oleh Ki Ageng Karanglo yang tengah pergi ke Desa Banaran di tlatah Mataram. Desa, dimana arwah Ki Ageng Mangir disemayamkan.

Jureni memalingkan wajahnya ke arah Jarana yang menghela napas panjang dengan wajah tampak bercadarkan duka. Pandangan sepasang mata yang serupa bintang kembar dari lelaki paruh baya itu tampak berselimutkan awan tipis, menerawang jauh hingga menembus dinding kayu. Ia seperti tengah memikirkan sesuatu yang tersimpan di benak paling dasar.

"Ramane!" Jureni memecah keheningan suasana malam di ruangan ndalem jero yang terasa hampir membeku itu. "Sesungguhnya kamu ini tengah memikirkan apa? Sebagai isteri yang bukan hanya sebagai kanca wingking[4], aku wajib meringankan beban di dalam pikiranmu itu. Apakah kamu tengah memikirkanku yang hanya dapat memberikanmu satu anak? Apakah persoalan rumah tangga kita yang sejak dulu hingga sekarang hidup dalam kekurangan?"

"Bukan itu yang aku pikirkan."

"Lantas?"

"Aku tengah memikirkan bagaimana nasib Gus Badra kelak, sesudah hidup tanpa seorang ayah dan jauh dari kasih sayang seorang ibu. Apakah ia akan dapat hidup bahagia?"

"Ramane! Ramane!" Jureni cengengesan. "Aku sekarang tahu, kalau Ramane tak pernah menyimak, saat Ki Ageng Karanglo memberi wejangan. Bukankah Ki Ageng selalu bilang, kalau kebahagian itu hanya permainan rasa. Nasib Gus Badra akan ditentukannya sendiri. Meskipun orang-orang di sekitarnya memiliki pengaruh dalam menentukan nasib itu. Selain drajat, jodho, pati[5]; setiap manusia dapat mengubah nasib yang digariskan di tapak tangannya sendiri. Jadi, Ramane tak perlu menggelisahkan nasib Gus Badra!"

"Kali ini, kata-katamu dapat aku rasakan kedalaman maknanya. Kamu sungguh hebat, Babune!"

"Apa?" Jureni kembali cengengesan. "Ramane! Yang hebat itu bukan aku si burung beo, namun Ki Ageng yang selalu mengisi celah-celah waktu kesibukannya dengan merenungkan tentang apa sesungguhnya makna di balik kehidupan manusia."

Jarana terdiam. Sepasang telinganya menangkap ketukan pintu kayu pendapa rumah Ki Ageng Karanglo yang digerendel dari dalam. Tanpa ragu, Jarana beranjak dari kursi kayu. Meninggalkan Jureni yang masih duduk di kursi lainnya. Melangkah menuju pendapa untuk membuka pintu. "Heh, kamu Maruta! Ada apa? Kamu tampak sangat cemas?"

"Paman Jarana, ijinkan aku masuk ke pendapa! Aku ingin menghadap Ki Ageng buat menyampaikan kabar penting."

"Kalau kamu ingin menghadap Ki Ageng, beliau tak ada di padepokan. Sejak matahari setinggi tombak di langit timur, beliau pergi ke Desa Banaran. Sebelah barat Kotapraja Mataram."

Mahisa Maruta yang merupakan salah seorang murid Ki Ageng Karanglo itu tampak kecewa. "Sesungguhnya aku kecewa, karena tak bisa menghadap Guru. Tapi, tak apalah. Kabar penting ini perlu aku sampaikan pada Paman Jarana. Ini demi keselamatan Gus Badra dari orang-orang Mataram. Cecunguk-cecunguk Panembahan Senapati yang menghendaki kematian Gus Badra."

"Baiklah, Maruta."Jarana gugup. "Cepatlah masuk ke pendapa!"

Mahisa Maruta bergegas memasuki ruangan pendapa berlantai tanah. Jarana menutup pintu pendapa dari dalam. Keduanya melangkah ke arah empat kursi yang masing-masing menghadap setiap sisi meja kayu di sudut ruangan pendapa. Mereka duduk dengan berhadapan wajah yang tampak tegang.

Suasana di ruangan pendapa hening dan kaku. Tak ada suara yang terucapkan dari mulut mereka, selain derik jengkerik dan nyanyian serangga di luar. Namun tak lama kemudian, keheningan itu pecah. Manakala Jarana mendehem dan membuka pembicaraan. "Maruta, kabar penting apa yang ingin kamu sampaikan padaku?"

"Paman Jarana!" Mahisa Maruta sejenak terdiam. "Sewaktu menggarap sawah tadi sore, aku melihat dua lelaki asing memasuki Desa Karanglo. Lantaran curiga, aku memerintahkan Kakang Mahisa Geni, Kakang Mahisa Bumi, dan Adhi Mahisa Tirta untuk mengawasi gerak-gerik kedua lelaki asing itu."

"Ehm...." Wajah Jarana tampak semakin tegang. "Lantas?"

"Dari laporan Kakang Mahisa Geni, kalau kedua lelaki berlogatwetanan[6] dan sekarang menginap di rumah Nyi Wisanti itu dicurigai tengah mencari petunjuk keberadaan putera Gusti Ayu Pembayun."

"Apa?" Jarana terkejut saat mendengar penuturan Mahisa Maruta. "Jadi.... Mereka mata-mata Mataram?"

"Mungkin ya, mungkin tidak!"

"Hei, Maruta! Kamu jangan membuatku bingung. Kalau kamu masih ragu apakah kedua orang itu mata-mata Mataram atau bukan, sebaiknya kamu tak perlu datang ke padepokan! Lebih baik, pergilah ke rumah Nyi Wisanti sekarang! Buktikan! Apakah mereka mata-mata Mataram atau bukan!"

"Kalau Paman tahu, bagaimana caranya aku dapat membuktikannya?"

"Culik mereka dari rumah Nyi Wisanti! Bawa mereka ke luar Desa Karanglo! Uji kesaktian mereka! Bila sanggup mengatasi kesaktianmu dan kesaktian Mahisa Geni, Mahisa Bumi, dan Mahisa Tirta; mereka pasti mata-mata Mataram."

"Gagasan cemerlang!" Mahisa Maruta mengangguk-anggukkan kepala. "Baiklah, Paman. Aku mohon pamit. Tak akan aku kembali ke padepokan, sebelum dapat membuktikan siapakah sejatinya kedua lelaki itu."

"Bagus! Sekarang pergilah! Mumpung malam belum mendekati fajar." Mahisa Maruta beranjak dari kursi. Meninggalkan rumah Ki Ageng Karanglo. Meninggalkan Jarana yang kemudian menutup dan mengunci pintu pendapa dari dalam. Menuju ruangan ndalem jero. Dimana Jureni masih duduk di kursi dengan pandangan mengarah lurus pada Bagus Badranaya dan Rinten yang pulas tertidur di amben kayu berlapis tikar mendong. "Kalau mendengar suara dan cara bicaranya, apakah Mahisa Maruta yang datang, Ramane?"

Tanpa sepatah kata, Jarana meletakkan pantatnya di kursi semula untuk sejenak meredam kegelisahan yang dirasakan. Kegelisahan yang diakibatkan kabar dari Mahisa Maruta tentang keberadaan dua lelaki berlogat wetanan di rumah Nyi Wisanti. Seorang janda berusia tigapuluhan yang baru setahun tinggal di Desa Karanglo. Seorang janda kaya yang seminggu sekali selalu pergi ke kotapraja Mataram untuk berdagang aneka perhiasan dari perak.

"Hei, Ramane!" Jureni mengharu-biru kegelisahan Jarana. "Apakah kamu tak mendengar kata-kataku? Apakah yang baru saja datang, Mahisa Maruta?"

"Ya, benar."

"Lantas kenapa sesudah kedatangan Mahisa Maruta, kamu tampak gelisah?"

"Kamu tak perlu tahu tentang masalah ini. Satu hal yang perlu kamu tahu, Gus Badra tengah dalam bahaya. Karenanya kamu harus menjaganya. Jangan lupa pula, kamu harus melarangnya agar tidak keluar dari rumah! Apakah kamu dapat menangkap pesanku ini?"

"Ya, Ramane. Tapi...." Jureni mendadak cemas, sebelum tahu benar alasannya. "Memangnya ada apa dengan Gus Badra?"

"Simpan pertanyaanmu, Biyunge!" Jarana beranjak dari kursi. "Aku harus pergi malam ini."

"Kemana?"

"Tak perlu kamu tahu! Yang penting, kamu melaksanakan pesanku tadi. Menjaga Gus Badra dengan sebaik-baiknya."

"Ya sudah, Ramane. Jaga dirimu baik-baik!"

Jarana meninggalkan ruangan ndalem jero. Meninggalkan rumah Ki Ageng Karanglo. Berjalan setengah berlari menuju rumah Jagabaya. Hasrat hati, Jarana ingin meminta bantuan pada petugas keamanan Desa Karanglo. Turut menangkap dua lelaki asing di rumah Nyi Wisanti.

***

PURNAMA telah jauh oleng ke langit barat. Langit yang tak berawan masih serupa lautan bagi bintang-bintang. Bintang Panjer Rina sudah mulai tampak di langit timur dengan sinar terang berwarna kuning keemasan. Sementara derik jengkerik dan nyanyian ribuan serangga masih tertangkap gendang telinga.

Dari balik rumpun bambu petung di samping rumah Nyi Wisanti; Mahisa Bumi, Mahisa Geni, dan Mahisa Tirta masih memantau dua lelaki yang menginap di rumah janda itu. Ketiga murid Ki Ageng Karanglo yang terkenal sakti mandraguna itu saling berpandangan manakala menangkap suara cekikikan Nyi Wisanti dengan diselingi kata-kata jorok pembakar hasrat berahi.

"Benar-benar anjing!" Mahisa Bumi memaki-maki dengan nada setengah tertahan. "Tak hanya Nyi Wisanti, namun juga kedua lelaki itu sudah sama-sama gilanya. Bagaimana mereka bisa berkelakar soal kelamin dengan bebas. Apakah dunia yang sudah pikun ini hampir kiamat?"

"Kita dobrak saja pintu rumah perempuan brengsek itu!" Mahisa Geni berang. "Kita hajar kedua lelaki asing itu beramai-ramai!"

"Sabar! Sabar!" Mahisa Tirta meredam amarah Mahisa Geni. "Kita ini bukan preman pasar! Kita adalah murid-murid Ki Ageng Karanglo. Dari beliau, kita diajarkan untuk selalu menjadi kusir jiwa yang bijaksana. Sang pengendali empat kuda nafsu yang menarik dokar kehidupan di sepanjang lurung waktu."

"Sebagai murid Ki Ageng aku bisa sabar. Tapi, sebagai seorang warga Desa Karanglo yang memiliki tanggung jawab untuk menjaganya dari sikap pelecehan kedua orang asing itu, rasanya kepalan tanganku ini ingin segera meninju muka mereka. Kedua orang itu lebih biadab dari seekor anjing. Tak sabar aku ingin membetot lidah mereka yang busuk."

Mahisa Tirta hanya menghela napas. Namun sebelum Mahisa Tirta kembali berusaha meredam amarah Mahisa Geni, muncullah Mahisa Maruta dari balik tikungan jalan. Melihat kemunculan Mahisa Maruta, ketiga murid Ki Ageng Karanglo itu sontak terdiam seperti orong-orong yang lubangnya terinjak kaki manusia.

"Kenapa kalian memandangku seperti tengah melihat hantu?" Mahisa Maruta mencairkan suasana yang sedikit tegang. "Bagaimana dengan tugas kalian untuk memantau kedua lelaki asing yang tinggal di rumah Nyi Wisanti? Apakah mereka masih tinggal di rumah itu?"

"Mereka masih tinggal di dalam rumah Nyi Wisanti." Mahisa Tirta melontarkan jawaban dengan nada rendah. "Lantas bagaimana dengan perintah guru Karanglo? Apakah kita harus menangkap kedua lelaki yang kita curigai sebagai mata-mata Mataram itu?"

 "Ketahuilah, Adhi Tirta! Guru Karanglo telah meninggalkan padepokan se pagi tadi. Aku hanya bertemu dengan Paman Jarana. Menurut Paman Jarana, kita harus menculik kedua lelaki yang tinggal di rumah Nyi Wisanti. Bila mereka dapat kita lumpuhkan dengan mudah, berarti mereka bukan mata-mata Mataram yang tersohor karena kesaktiannya itu. Namun bila kesaktian mereka melampaui kita, berarti mata-mata Mataram. Menang cacak kalah cacak[7], kita harus menculik dan membawa mereka ke luar Desa Karanglo. Disana kita beradu kesaktian dengan mereka. Aku sepakat dengan pendapat Paman Jarana itu...."

"Aku tidak sepakat." Mahisa Tirta memenggal perkataan Mahisa Maruta. "Sebaiknya kita menunggu guru Karanglo pulang. Dari beliau, kita akan dapat mengambil langkah apa yang terbaik untuk kita lakukan."

"Aku tak setuju dengan pendapatmu, Adhi Tirta," sambung Mahisa Geni. "Sebaiknya kita jebol saja pintu rumah Nyi Wisanti. Kita seret kedua bajingan itu ke luar dari Desa Karanglo. Disana kita beradu kesaktian dengan mereka. Aku sependapat dengan pendapat Paman Jarana."

"Bagaimana pendapat Kakang Mahisa Bumi?" tanya Mahisa Maruta. "Apakah kamu sepakat dengan pendapat Paman Jarana?"

"Ya! Aku sepakat."

"Baik! Karena yang tidak sepakat hanya Adhi Tirta, maka kita harus segera bertindak. Mendobrak pintu rumah Nyi Wisanti. Menyeret kedua lelaki asing itu ke luar Desa Karanglo."

Tanpa berpikir panjang, Mahisa Geni dan Mahisa Bumi beranjak dari balik rumpun bambu. Diikuti Mahisa Maruta, mereka berlari menuju pintu pendapa rumah Nyi Wisanti. Dengan kesaktian yang dimiliki, mereka mendobrak pintu itu hanya sekali gebrakan. Brak! Pintu kayu yang terbelah itu terlempar ke dalam.

Ketiga murid Ki Ageng Karanglo memasuki pendapa rumah Nyi Wisanti. Sesampai ndalem jero dimana Nyi Wisanti dan kedua lelaki asing itu masih berbincang di atas dipan dengan kasur bertilam kain cinde, mereka cepat bertindak. Mahisa Geni menyeret salah seorang lelaki asing itu. Mahisa Bumi menyeret lelaki asing lainnya keluar dari ndalem jero. Lantaran ingin berteriak, Mahisa maruta mendekap kencang tubuh Nyi Wisanti dan membungkam mulutnya rapat-rapat dari belakang. Hingga janda itu kesulitan bernapas.

"Jangan mencoba berteriak, bila kamu masih menginginkan nyawamu tinggal di dalam tubuhmu!" Mahisa Maruta mengancam pada Nyi Wisanti yang sudah tidak berdaya. "Aku akan membebaskanmu, bila kamu berjanji untuk tidak berteriak hingga seluruh tetangga terbangun dari tidurnya. Apakah kamu sanggup memenuhi permintaanku ini, Nyi?"

Nyi Wisanti mengganggukkan kepala tanpa memalingkan wajahnya ke samping. Seusai membebaskan Nyi Wisanti, Mahisa Maruta meninggalkan ndalem jero. Bersama Mahisa Tirta yang semula hanya mematung di halaman, Mahisa Maruta mengikuti Mahisa Geni dan Mahisa Bumi yang menyeret kedua lelaki asing itu. Menuju Ara Ara Karangcuri yang jarang diinjak kaki manusia.

Selepas Mahisa Maruta, Jagabaya Desa Karanglo berserta Jarana tiba di halaman rumah Nyi Wisanti. Tanpa mengucapkan salam, mereka melintasi pendapa yang tak lagi berpintu dan menyelonong masuk ke ndalem jero. "Wisanti! Menurut laporan Jarana, benarkan kamu menerima dua tamu lelaki asing?"

"Ehm.... Tidak, Ki."

"Jangan bohong!" bentak Jagabaya. "Apa aku harus melapor pada Ki Lurah untuk mengusirmu dari Desa Karanglo?"

"Jangan, Ki. Jangan!"

"Karenanya, katakan terus terang! Benarkah kau barusan menerima tamu dua lelaki asing?"

"Benar, Ki."

"Siapa mereka? Dari mana asal mereka?"

"Maaf, Ki. Aku belum bertanya tentang asal mereka. Aku pun belum sempat bertanya siapakah nama mereka."

"Sekali lagi, jangan berbohong!"

"Sungguh, Ki. Bila aku berbohong, lidahku menjadi taruhannya."

"Baik. Tapi pesanku padamu, jangan sekali-kali menerima lelaki asing saat malam hari! Tak baik jadinya. Untuk kali ini, aku maafkan." Jagabaya mengerdipkan mata pada Nyi Wisanti yang maknanya dapat dibaca oleh setiap perempuan. "Lantas.... Dimana kedua lelaki asing itu? Apakah mereka kamu sembunyikan?"

"Tidak, Ki. Mereka dibawa paksa oleh murid-murid Ki Ageng Karanglo."

Jagabaya mengalihkan pandang pada Jarana. "Bagaimana ini, Jarana? Murid-murid Ki Ageng telah membawa kedua pemuda asing itu dari rumah Nyi Wisanti. Selamatkan mereka! Aku tak ingin terjadi pertumpahan darah di desa ini."

Tanpa melontarkan sepatah kata, Jarana meninggalkan rumah Nyi Wisanti untuk mencari murid-murid Ki Ageng Karanglo yang membawa kedua lelaki asing itu. Selepas Jarana, Jagabaya meletakkan pantat teposnya di samping Nyi Wisanti yang telah duduk di atas dipan.

"Nyi!" Jagabaya perlahan-lahan melepaskan konde yang menancap di gelungan Nyi Wisanti, hingga rambut janda itu bergerai. "Seharusnya kamu mendapat hukuman berat dariku karena berani memasukkan dua lelaki asing di rumahmu. Namun aku memaafkanmu. Bukankah kamu tahu apa arti kerdipan mataku tadi?"

"Ya, Ki. Aku dapat menangkapnya dengan jelas artinya. Bukankah Ki Jagabaya meminta suap dariku agar tak mendapatkan hukuman itu?"

"Tepat, Nyi."

"Apakah Ki Jagabaya yang telah berkubang dengan harta-benda masih membutuhkan kepeng emas dariku?"

"Bukan itu yang aku butuhkan." Jagabaya tersenyum mesum. "Masak kamu tak tahu apa yang dibutuhkan lelaki setiap ambang dini hari."

Mendengar ungkapan polos dari Jagabaya, Nyi Wisanti tersenyum tipis. Janda kaya yang gagal bercinta dengan dua lelaki asing itu merebahkan pasrah tubuhnya di atas dipan. Jagabaya yang sekian lama menyimpan hasrat untuk dapat bercinta dengan perempuan itu segera hanyut ke dalam pagutan asmara yang kian bergejolak, sebelum menyerupai perahu yang digoncang-goncangkan badai hingga karam ke dasar lautan.

[1]     Desa yang sangat subur, tertata, dan makmur.

[2]     Nama Kebumen sebelum Perang Kendang (Perang Mangkubumi).

[3]     Bentuk tangan yang menyerupai bentangan busur. Bagi masyarakat Jawa, seorang yang memiliki tangan gendhewa pinethang akan luwes apabila menari.

[4]     Teman di belakang (seorang isteri yang bertugas memasak di dapur atau tukang cuci di sumur).

[5]     Derajat, jodoh, dan kematian.

[6]     Berlogat orang timur, atau berlogat orang yang tinggal di wilayah Mataram (Yogyakarta atau Surakarta).

[7]     Berspekulasi.