Mohon tunggu...
Sri Wintala Achmad
Sri Wintala Achmad Mohon Tunggu... Penulis - Biografi Sri Wintala Achmad

SRI WINTALA ACHMAD menulis puisi, cerpen, novel, filsafat dan budaya Jawa, serta sejarah. Karya-karya sastranya dimuat di media masa lokal, nasional, Malaysia, dan Australia; serta diterbitkan dalam berbagai antologi di tingkat daerah dan nasional. Nama kesastrawannya dicatat dalam "Buku Pintar Sastra Indonesia", susunan Pamusuk Eneste (Penerbit Kompas, 2001) dan "Apa dan Siapa Penyair Indonesia" (Yayasan Hari Puisi Indonesia, 2017). Profil kesastrawanannya dicatat dalam buku: Ngelmu Iku Kelakone Kanthi Laku (Balai Bahasa Yogyakarta, 2016); Jajah Desa Milang Kori (Balai Bahasa Yogyakarta, 2017); Menepis Sunyi Menyibak Batas (Balai Bahasa Jawa Tengah, 2018). Sebagai koordinator divisi sastra, Dewan Kesenian Cilacap periode 2017-2019.

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Elegi Gadis Desa Teluk Cikal

3 Maret 2018   22:40 Diperbarui: 3 Maret 2018   22:53 1758
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"He! Siapakah gerangan?" gertak Kakang Pranacitra dari keremangan ."Langkah dan gerak-gerikmu benar-benar mencurigakan. Apa kau ingin mencuri titihan Kangjeng Sultan?"

Tak ada sepatah kata terucap dari mulutku yang membeku bukan lantaran dinginnya malam, melainkan terbelenggu oleh perasaan cinta dari lubuk jiwa.

"He! Jawab pertanyaanku!" bentak Kakang Pranacitra lantang. Apakah kau Tuan Pangeran? Atau punggawa Mataram yang belum aku kenal namanya?"

"Aku bukan Pangeran," jawabku terbata-bata. "Aku juga bukan punggawa Mataram. Aku seorang pewarta yang dilindungi tujuh dewa."

"Warta apa yang kau bawa padaku?" tanya Kakang Pranacitra."Katakan sebelum prajurit menconangi dan menjebloskanmu ke dalam kerangkeng besi yang dijaga pasukan bertaring singa."

"Datanglah esok pagi di arena sabung ayam. Di luar Pasar Gede tak jauh dari kotapraja Mataram! Di sana kau akan menemukan kembali bunga cintamu."

Bintang-bintang di angkasa mendadak tak berpijar, manakala Kakang Pranacitra menahan napas di dada. Manakala aku harus pulang ke puri katumenggungan. Dengan langkah gundah .

/18/

Pasar Gede digegerkan keributan dari arena sabung jago. Botoh-botoh berkelahi dengan taruhan nyawa. Tiga di antara mereka terkapar di tanah. Dada tertebas pedang hingga bersimbah darah.

Di tengah kebingungan tuk menyelamatkan barang dagangan. Seorang bercadar menyambarku segesit burung sikatan. Membawaku ke arah tlatah Gandu. Desa perawan yang lugu.

/19/

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun