Mohon tunggu...
Abdul Azis
Abdul Azis Mohon Tunggu... Belajar menulis

Mencoba belajar dengan hati-hati, seorang yang berkecimpung di beberapa seni, Tari (kuda lumping), tetaer, sastra.

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Kisah Putra Anjani kepada Dewi Shinta

29 November 2020   19:38 Diperbarui: 29 November 2020   19:49 88 30 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kisah Putra Anjani kepada Dewi Shinta
Pentas Wayang Orang Anoman dan Dewi Shinta (dokpri)

Aku putra Anjani. Lahir dari selembar daun asam di tengah telaga. Namaku harum di tengah bara api.

Aku Anoman, tercipta dari air mani Bathara Guru yang melintasi telaga. Akulah putra Bhthara Bayu, yang besar di goa Kiskenda. Junjunganku adalah Sugriwa. Tapi, pada Rama aku mengabdi untuk menemukan belahan jiwanya.

Maka detik itu, aku memimpin para Wanara untuk menyisir seluruh belahan dunia. Menemukan Shinta adalah keniscayaan, bagiku tak ada jalan pulang sebelum Shinta ditemukan.

Takdirku bertemu Shinta di taman Asoka, di kedalaman taman-taman diseluruh Alengka.

Seorang perempuan, yang menjauh dari riuh bahagia beribu perempuan cantik yang tinggal di dalamnya. Satu-satunya perempuan yang bermuram durja di relung istana yang memuliakannya.

Aku melihat kesedihan yang mendalam dari raut mukanya, kesedihan yang mampu menggelapkan sekitarnya. Matanya sayu dengan mendung menggantung, seakan badai siap membuncah melantakkan dunia.

Harinya kelam tanpa cahaya, kegelapan yang membuatnya kian waspada dan enggan memejamkan mata.

"Cahaya seluruh dunia berada dalam genggamanmu Dewi, dan jangan padamkan duniamu.


Kamulah muara cinta terbaik bagi para kesatria di jagad raya ini. Meski bagimu, hanya Sang Rama yang menguasai seluruh bilik hatimu."


Aku melihatnya mendongak ke arahku. Matanya menyimpan telaga yang siap menumpahkan air di dalamnya.

"Apa yang kau inginkan dariku?"
Dalam suaranya yang bergetar, tak kutangkap sedikitpun gentar di sana. Sang Dewi tetap tangguh dalam kesunyiannya.

"Aku Anoman. Akulah penolongmu. Akulah hambamu yang diutus penguasa hatimu."

Kuulurkan tanganku kepadanya dan kubuka genggamanku seketika. Pendar cahaya dari cincin Sang Rama segera menyilaukan matanya. Aku melihat air telaga yang menganak sungai di pipinya. Membuncah bahagia terpancar dari senyum tipisnya.

"Pergilah denganku Junjunganku. Hadirmu sudah ditunggu Sang Rama."


Dia kembali menatapku dan menyimpan lagi senyumnya. Ada luka yang terbuka di hatinya.

"Hanya Rama yang bisa membawaku pergi dari sini Anoman. Dia yang harusnya menemukanku di sini. Dialah yang akan datang dan menghancurkan para pecundang yang sudah menculikku ke sini! Kesatria sejati akan menjemput cintanya sendiri, dia akan berjuang, mempertahankan dan melawan segalanya untuk memenangkan cintanya. Kau pergilah. Katakan pada Junjunganmu, Aku akan tetap di sini untuk menunggunya."


Aku tidak lagi melihat Shinta yang merana karena penculikannya. Tapi aku sedang melihat Perempuan yang terluka dan kecewa. Hingga kesedihan kembali menenggelamkannya. Aku melihat Perempuan dengan sayatan dan puing-puing di hatinya. Hatinya membiru, gelap dan beku, hingga tak ada cahaya yang mampu menembusnya.

Dialah Perempuan yang berulang kali menguji cinta junjunganku, Perempuan dengan telaga di matanya yang mampu menengelamkan seluruh kesatria dalam dekapannya.

Aku terbang meninggalkannya dalam palung pilu yang di buatnya sendiri. Melanjutkan tugasku, membuat gentar seluruh isi Alengka.

Kediri, 29 November 2020

Buah Karya: Abdul Azis Le Putra Marsyah

Catatan:

Dewi Anjani adalah istri raja kera bernama Ramona, ibu bagi Anoman. Konon ia adalah reinkarnasi bidadari bernama Punjikastala. Sebelum memiliki putra, ia melakukan tapa untuk mendapatkan keturunan. Atas saran dari Resi Matangga, ia bertapa di Wenkatacala.

Anoman adalah tokoh yang sangat terpopuler di Pewayangan dalam kisah Ramayana.  

#salamBudaya

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x