Mohon tunggu...
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Mohon Tunggu... Penulis, Penyunting.

Novel terbaru: Kita, Kata, dan Cinta (Diva Press, 2019). Lakuna (Diva Press, 2021). Twitter/IG: @1bichara.

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Mengulik Akurasi Data dan Atribusi dalam Artikel

20 Maret 2021   07:07 Diperbarui: 20 Maret 2021   11:46 455 76 24 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengulik Akurasi Data dan Atribusi dalam Artikel
Periksa data dan atribusi sebelum Anda agihkan artikel ke hadapan pembaca (Foto: Unsplash/Trent Erwin)

Apa kabar, Kompasianer? Moga-moga kalian, tanpa kecuali, senantiasa sehat dan bahagia. Pagi ini saya ingin mengajak Anda bertamasya ke taman kata. Mari bersenang-senang bersama data dan atribusi.

Kita mulai dari erti data. Dalam sebuah tulisan, data memiliki posisi yang sangat strategis. Jika kita salah menerakan data, keabsahan tulisan kita patut dipertanyakan. Secara sederhana, data dapat kita maknai sebagai informasi atau keterangan yang benar dan nyata.

Selanjutnya, kita ulik dulu arti atribusi. Dalam satu tulisan, kita mesti memberi tahu pembaca dari mana data kita dapatkan. Ketika informasi yang kita cantumkan ke tubuh tulisan berasal dari pernyataan atau perkataan seseorang, atribusi narasumber harus jernih dan terang.

Berikutnya, kita selami makna akurasi. Definisi kata akurasi adalah ‘kecermatan, ketelitian, atau ketepatan’. Dengan demikian, data dan atribusi dalam tubuh tulisan harus memenuhi tiga syarat itu. Ketika memuat data dan atribusi, kita mesti cermat, teliti, dan tepat. Harus akurat!

Tiga hal itu yang akan saya udar sepagi ini. Semoga Anda tidak terberati. 

Periksa, catat, dan sunting (Foto: Shutterstock)
Periksa, catat, dan sunting (Foto: Shutterstock)

Kaidah memuat data dan atribusi

Belakangan ini karantina massal atas artikel Kompasianer kerap terjadi. Pelakunya jelas, mesin penguji akurasi. Operator mesinnya, Administratur Kompasiana. Kuasa mesin penguji akurasi amat dominan. Dalam menguji naskah, mesin penguji cenderung berlaku tiran, condong otoriter, dan naga-naganya sewenang-wenang.

Tidak bisa kita mungkiri, Kompasianer yang tulisannya sempat terjerat perangkap mesin penguji datang dari berbagai kalangan. Termasuk akademisi dan praktisi. Ajaibnya, kita tidak mengerti “kata” apa saja yang tergolong ranjau di "benak" robot penguji.

Meskipun sempat mangkel tak tepermanai, saya tidak akan mengulas hal itu. Bosan. Seberapa sering pun saya agihkan tulisan macam itu, mana ada tanggapan dari pengelola Kompasiana. Cuek bebek. Jika terus begitu, lama-lama Kompasianer di mata Kompasiana dipandang macam anak kos-kosan belaka. Hiks!

Jadi, mari kita teliti sendiri data dan atribusi kita sebelum menayangkan tulisan di Kompasiana. Sebelum tayang, ayo kita periksa dulu tulisan kita. Ajukan lima pertanyaan berikut sebagai alat periksa.

  1. Apakah pijakan gagasan dan bingkai opini sudah sesuai dengan tema tulisan yang kita sajikan?
  2. Apakah tulisan kita sudah bersih dari kata, frasa, klausa, atau kalimat yang menyerang tanpa alasan atau menyakiti tanpa sebab atas satu atau beberapa pihak?
  3. Apakah data dan atribusi yang kita sajikan sudah benar, tepat, dan sesuai dengan kebutuhan gagasan?
  4. Apakah data dan atribusi yang kita kutip ke dalam tulisan sudah sesuai dengan sumber asal dan pas dengan opini yang kita suguhkan?
  5. Apakah kita sudah memeriksa kebenaran data, serta ketepatan penulisan nama dan jabatan narasumber?

Lima pertanyaan itu mesti menemukan jawaban “ya” sebelum kita tayangkan. Harus bersih dari bias, harus bebas dari hoaks. Itu kalimat kuncinya. Khusus untuk pertanyaan kelima, upayakan mengonfirmasi data atau kutipan kepada narasumber.

Saran Deborah Howel (dalam Kovach dan Rosentiel, 2004) patut kita indahkan ketika kita memuat kutipan. Howel melarang kita memuat atau menggunakan narasumber yang anonim. Atribusi mesti akurat. Anonimitas melemahkan argumentasi kita.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN