Mohon tunggu...
Yanpatar Pandiangan
Yanpatar Pandiangan Mohon Tunggu... Mahasiswa - Pengembara

Penikmat kopi

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Muklis yang Taat

11 Februari 2020   15:16 Diperbarui: 11 Februari 2020   16:09 1248
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Jangankan satu, seratus pun kalau saya sanggup akan saya lakukan asalkan istri dan anak saya bisa kembali! Katakan lah sekarang tuan, tidak usah berbasa-basi layaknya sales pupuk" jawab Muklis dengan muka loyo.

"Kau adalah hamba yang sangat taat Muklis, tapi dari yang kulihat, Tuhan mu sangat lambat untuk me read doa mu! Jika sekali di read, Dia hanya me read dan tidak membalas! Ibarat gebetan, Dia hanya memberimu harapan palsu Muklis! Kalau bahasa manusianya, PHP!. Oleh karena itu tinggalkan lah Tuhan mu itu Muklis, dan ikut lah dengan tuhan ku. Aku punya tuhan yang akan cepat menjawab doa mu Muklis! Kau tidak akan kesusahan lagi".

Muklis yang malang mempertimbangkan tawaran laki-laki itu. Dia tiba-tiba teringat akan segala kepahitan dalam hidupnya. Gak lulus ASN, gaji sedikit, sering dihina orang-orang, akhirnya dia pun memutuskan.

"Tuan, aku sangat menghargai tawaran tuan! Tapi, sekalipun aku kehilangan, istri, anak, harta, bahkan jiwa dan kehidupan ku, aku tidak akan pernah mengganti Tuhan ku! Karena ketika aku kehilangan semuanya itu, hanya Tuhan ku lah yang kupunya. Jikalau aku juga kehilangan Dia, maka hilang lah aku untuk selama-lamanya! Jadi tuan, silahkan anda cari orang lain yang bersedia memuji tuhan tuan!" Muklis menjawab dengan wajah tegang.

"Kasihan yah pak para korban itu! Beruntung lah kita gak jadi pergi".

Suara itu memisahkan Muklis dengan laki-laki sales itu.

Dia ahkirnya terbangun kemudian melihat istri dan anaknya duduk disampingnya dengan semur jengkol panas kesukaanya.

"Ohhhh, Puji Tuhan, hanya mimpi rupanya" Gumam Muklis dalam hati sambil tersenyum melihat istri dan anaknya.

Setelah selesai makan, istrinya bercerita bahwa mal yang akan mereka kunjungi itu baru saja runtuh dan menelan banyak korban jiwa.

Mereka tidak jadi pergi, karena dari tadi Muklis ketiduran dan tidak bisa di banguni, dan itu jugalah yang membuat mereka selamat.

Satu minggu setelah kejadian itu, terbitlah peraturan nasional bahwa honorer penyuluh pertanian yang sudah mengabdi minimal 5 tahun akan diangkat langsung jadi ASN. Sementara di desa itu, hanya Muklis yang sudah mengabdi selama itu dan otomatis dia diangkat jadi ASN.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun