Mohon tunggu...
Si Murai
Si Murai Mohon Tunggu... Editor - Itu, burung kecil berekor panjang yang senang berkicau!

“Do not ask who I am and do not ask me to remain the same. More than one person, doubtless like me, writes in order to have no face.” ― Michel Foucault

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerita untuk Tuan

15 Oktober 2019   12:26 Diperbarui: 15 Oktober 2019   13:01 128
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Mengapa kita melaut?" tanya Gatta lagi.

"Karena begitulah yang diajarkan nenek moyang kita. Lagi pula, kau tahu, Gatta? Luas perairan Nusantara lebih besar daripada daratannya."

Angin laut membawa malam yang dingin. Sayup-sayup keduanya berdendang, sambil menikmati bintang-bintang.

            Nenek moyangku orang pelaut

            Gemar mengarung luas samudra

            Menerjang ombak, tiada takut

            Menempuh badai, sudah biasa

            ...

***

Puluhan tahun lamanya aku tinggal di sini, laci meja kerja Pak Salman. Entah bagaimana rupaku sekarang. Mungkin lapuk, penuh debu. Tapi, aku percaya seseorang akan mengeluarkanku dari laci meja kerja ini, seperti yang kemudian terjadi.

Sebuah tangan mungil menyentuh tubuhku. Jemari kecil meraba-raba, menyapu debu. Itu bukan tangan Pak Salman. Si pemilik kulit halus itu adalah cucunya, Andra.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun