HIGHLIGHT

Di Balik Dapur Kompasiana

27 Mei 2012 22:54:41 Dibaca :
Di Balik Dapur Kompasiana
Seorang Admin sedang bertugas

Admin sombong, Admin pilih kasih, Admin gak peka... Min, masak' tulisan HL ga diganti-ganti. Dari dua hari yang lalu, itu-itu aja! Mimin, yang HL kok dia lagi, dia lagi, dia lagi! Min, tulisan gue kok' ga pernah HL? Min, yang bener aja, judul tulisan gue udah bagus kok diganti? Min, inbox gue ga pernah dibales! Tidur ya? Min, masa tulisan melanggar TOS, dibiarin aja? Mimin, foto gue kok dihapus? Padahal udah capek-capek motret juga. Wah, lagi-lagi gue dapet "surat cinta" dari Admin...! Min, bla bla bla... Itulah sebagian protes, sindiran atau "makian" yang berasal dari sebagian Kompasianer, termasuk saya sendiri terhadap Admin selaku pengelola Kompasiana. Sepertinya, apa yang dilakukan oleh Admin, di mata sebagian Kompasianer, tidak (belum) ada baiknya. Judul tulisan diubah, Admin kena semprot. Lalu, ketika tulisan sendiri tidak pernah/ lagi dapat Headlines dan Terekomendasi, kita ngomel-ngomel. Kalimat puitis lantas disenandungkan, entah itu Admin pilih kasih pada beberapa Kompasianer tertentu. Atau juga mencak-mencak waktu melihat di daftar Headlines, Kompasianernya selalu itu-itu saja. Belum lagi, tatkala seorang Kompasianer mengirimkan suatu pertanyaan atau protes terhadap Admin via inbox merasa tidak ditanggapi... Mungkin sebagian dari kita, Kompasianer yang ikut menulis dan berinteraksi di Kompasiana, menganggap Admin sebagai sosok yang sombong, cuek, kurang peka, pilih kasih, dan sebagainya. Namun, tidak mengetahui betapa beratnya tugas dari Admin dalam mengelola Kompasiana. "Lha, itu kan resiko jadi Admin! Siapa suruh, mau jadi Admin?" Sebuah pernyataan logis, mengenai tugas dan tanggung jawab Admin yang katanya berat. Tetapi, benarkah begitu?

*      *      *

Dengan rata-rata 800 tulisan sehari yang diposting Kompasianer, tentunya bukan tugas ringan dari Admin untuk menyeleksi dan memoderasi. Apalagi jumlah Admin sendiri terbatas, hanya sekitar enam atau tujuh orang yang bergantian dalam beberapa shift. Kalau kita menyadari betapa beratnya tugas Admin, pasti akan menerimanya. Tidak mudah menyeleksi 800 tulisan yang masuk untuk kemudian di moderasi, entah itu judul, isi atau gambar ilustrasi. Itu belum termasuk menanggapi keluhan atau protes yang dilayangkan Kompasianer, baik dalam postingan maupun inbox langsung. Seperti kasus pergantian tampilan baru Kompasiana dan juga tentang tulisan yang menembus satu juta pembaca. Saat ditanyakan mengenai hal tersebut, Admin menjawabnya dengan lugas. "Kami sibuk. Bukannya kami tidak ingin menjawab, namun butuh waktu untuk melayani Kompasianer satu-persatu. Namun, sejatinya kami akan melayani pertanyaan, keluhan, protes dan juga saran dari rekan-rekan Kompasianer untuk membuat Kompasiana lebih baik lagi." Sebagai seorang manusia, Admin pun terkadang bisa saja berbuat kesalahan entah itu sengaja maupun tidak disengaja. Seperti halnya beberapa hari lalu, ketika saya dan Kompasianer Zulfikar Akbar berkunjung ke kantor Kompasiana di Palmerah, Jakarta Barat. Kami sempat berdiskusi dengan dua orang Admin yang sedang bertugas, mengenai seluk-beluk Kompasiana dan sisi lainnya. Dengan mata kepala sendiri, saya menyaksikan Admin memoderasi puluhan tulisan yang masuk saat itu juga. Setiap tulisan yang masuk lalu dibaca satu persatu, dilihat judulnya, tepat atau kurang tepat  serta mengenai tanda baca. Lalu oleh Admin, tulisan tersebut akan ditempatkan dalam sebuah kolom, untuk dijadikan pertimbangan layak atau tidaknya untuk dimasukan sebagai Headlines. Sudah selesai? Tentu saja belum, karena ada beberapa tahap lagi seperti apakah tulisan itu orisinil, yakni opini pribadi, reportase atau karya fiksi. Dengan hati-hati, ditelusuri lagi keberadaan tulisan tersebut apakah mencantumkan sumber yang valid atau tidak. Kemudian mengenai gambar ilustrasi, apakah memang menyebutkan nama sumber dari pengunggah foto tersebut, atau hanya menuliskan singkat, dari Mbah Google. Nah, terkadang ada Kompasianer yang secara sadar dan tidak sadar kerap lupa mencantumkan sumber dari tulisan atau gambar ilustrasi. Bahkan tak jarang, malah mengakui tulisan di situs/ blog lain sebagai tulisan sendiri. Disinilah Admin mulai memperingati dengan mengirimkan "surat cinta" atau peringatan kepada Kompasianer yang bersangkutan melalu inbox. Hal serupa terjadi juga bila ada isi tulisan yang sudah jauh melenceng dari visi Kompasiana, terutama melanggar TOS yang menyangkut agama dan isu-isu yang dilemparkan oleh pihak tak bertanggung jawab (hoax). Itu baru satu tulisan yang dimoderasi Admin, bagaimana dengan rata-rata sehari masuk 800 tulisan? Jadi, sebenarnya wajar bila Admin sendiri kadang kesulitan dalam menangani permasalahan di Kompasiana. Bukan berarti Admin cuek-bebek, namun butuh proses untuk menguraikannya agar dapat diterima semua pihak. Seperti seorang Kompasianer yang dihapus akunnya hingga beberapa kali oleh Admin, karena dinilai sudah melenceng terlalu jauh dari jalurnya sebagai pewarta warga. Seorang Admin harus berpikir objektif, dan tidak memandang "ia siapa, dan siapa ia dibaliknya". Dan lagi, beberapa tulisan yang sedang ramai diperbincangkan saat ini mengenai kasus kecelakaan pesawat. Banyak yang beranggapan bahwa tulisan tersebut layak dihapus oleh Admin sebagaiaman sebuah tulisan mengenai tewasnya seorang bayi akibat kelalaian sang Ibu. Tetapi hingga sekarang tulisan tersebut masih bertengger dengan dibaca lebih satu juta orang, kemudian banyak orang mengatakan bahwa Admin tebang pilih. Hanya karena tulisan tersebut mendapatkan rekor terbanyak di klik orang, hingga terkesan mempertahankannya. Admin sendiri menjawab bahwa tulisan tersebut berbeda dengan kasus meninggalnya seorang bayi, yang memang hanya karangan belaka dari penulisnya (imajinasi menjurus fiksi). Sedangkan tentang kecelakaan pesawat, kejadian itu adalah fakta dengan adanya pesan positif yang dimasukan si penulis sendiri, meski kebenaran isinya masih simpang siur dan masih menjadi perdebatan hingga kini. Namun, ada alasan tersendiri dari Admin, mengapa hingga kini tidak menghapusnya saat banyak Kompasianer melayangkan nada protes. Karena Admin telah terlebih dahulu mempelajari isi dari tulisan dengan banyak pertimbangan termasuk bertanya pada orang yang lebih paham dengan seluk beluk pesawat.

*      *      *

Admin mengenal dari tulisannya, bukan berdasarkan penulisnya. Ketika disinggung mengenai adanya kecenderungan memilih tulisan untuk dimasukan dalam kolom Headlines atau Terekomendasi. Admin mengatakan bahwa itu semua tergantung dari tulisannya, apakah bermanfaat bagi pembaca, memberikan inspirasi, serta keakuratan isinya. Bukan serta merta melihat dari nama si penulis sendiri, atau juga latar belakangnya karena di mata Admin semua Kompasianer adalah sama. Selain itu, Admin juga menerima dengan tangan terbuka semua kritik dan saran yang datang, untuk kemudian ditanggapi lebih lanjut. Bahkan, mempersilahkan bagi Kompasianer yang ingin bertandang ke kantor Kompasiana untuk berdiskusi secara mendalam apabila merasa ada suatu masalah yang kurang terselesaikan. Jadi, tidak benar apabila kita mengatakan bahwa Admin itu cuek, sombong, dan sebagainya...

*      *      *

1338151529962507896
Proses pengelompokan beberapa tulisan yang akan dimoderasi

*      *      *

13381516211697557820
Salah satu tulisan yang sedang dimoderasi

*      *      *

*      *      *

1338151771692420651
Kata siapa Admin sombong?

*      *      *

Jakarta, 28 Mei 2012

Choirul Huda

/roelly87

TERVERIFIKASI (BIRU)

Penulis di Kompasiana (Kompasianer) yang hobi reportase untuk menulis catatan harian, musik, olahraga, fiksi, dan sebagainya. @roelly87 (www.roelly87.com)
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?