Mohon tunggu...
Leya Cattleya
Leya Cattleya Mohon Tunggu... Asisten Pribadi - PEJALAN

PEJALAN

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Sang Pembangkang

20 November 2019   19:26 Diperbarui: 23 November 2019   02:13 305
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Usai bermandi puji di ketinggian bukit-bukit puja

Lelaki itu dilucuti luka terbuka, dicambuki kemurkaan, diseret-seret penyesalan 

Ia lalu terlempar jatuh ke tumpukan cadas

Dan, akhirnya teronggok kejang di sudut gelap rimba yang tak beralamat dan tak berdaun pintu. 

Lelaki itu bukan lagi si empunya kehidupan. Tapi, tak pula ia mati. 

Bumi pernah berkisah pada garis cakrawala tentang dia, sang pendekar asli. Si penapak jejak. Si pelampau lini waktu.

Tapi...

Tak sedikitpun ada jeda untuk sepasukan huruf angka yang di sana terhampar kisah-kisah manusia dan berabad peradaban. Semua membiar. Menguap. Terbang dan tenggelam di gulungan jaman.

Apa dosa lelaki itu?

Mungkinkah cintanya tergantung pada paku ambisi yang terlalu tinggi? Atau kasih sayangnya ada di bukit yang terlalu gagah  untuk didaki?

Kurasa tidak!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun