Mohon tunggu...
Nurdin Taher
Nurdin Taher Mohon Tunggu... Administrasi - Keberagaman adalah sunnatullah, karena itu pandanglah setiap yang berbeda itu sebagai cermin kebesaran Ilahi. Surel : nurdin.en.te.70@gmail.com0

Lahir dan besar di Lamakera, sebuah kampung pesisir pantai di Pulau Solor, Flores Timur. Menempuh pendidikan dasar (SD) di Lamakera, kemudian melanjutkan ke SMP di Lamahala, juga kampung pesisir serta sempat "bertapa" 3 tahun di SMA Suryamandala Waiwerang Pulau Adonara, Flores Timur. Lantas "minggat" ke Ujung Pandang (Makassar) pada Juli 1989. Sejak "minggat" hingga menyelesaikan pendidikan tinggi, sampai hari ini, sudah lebih dari 30 tahun berdomisili di Makassar. Senantiasa belajar dan berusaha menilai dunia secara rasional dengan tanpa mengabaikan pendekatan rasa, ...

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Jika Seseorang Bisa Belajar Untuk Membenci, Seharusnya Bisa Belajar Untuk Mencintai

5 September 2017   06:43 Diperbarui: 6 September 2017   07:12 3344
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Rocky Gerung, pakar filsafat yang hadir sebagai Narasumber (dokumen pribadi)

Ayat tersebut menjelaskan tentang 'perjanjian manusia akan ketauhidan yang menggambarkan eksistensi Tuhan. Bahwa Allah SWT adalah Tuhan yang tiada Tuhan selain Dia. Secara theologis, kesaksian seorang anak manusia ketika masih di alam rahim, menunjukkan bahwa sejak awal, manusia itu secara fitrah mengenal akan keesaan Tuhan. 

Hanya saja karena faktor lingkungan, sehingga setelah si jabang bayi lahir ke bumi, kemudian mulai 'bertingkah'. Berbagai pengaruh lingkungan, termasuk orang tuanya, menyebabkan sang anak terkontaminasi dan terpapar kefitrahannya. Karena itu, Nabi Muhammad SAW pernah berpesan, bahwa 'intervensi' lingkunganlah yang membuat seorang anak Adam kemudian harus mengingkari keesaan Tuhan dengan berpaling dari fitrahnya. "Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah", kata Nabi.  

Fitrah dalam Relasi Kemanusiaan 

Sejak awal manusia diciptakan Allah dalam keadaan tauhid, mengakui keesaan Tuhan, dan berpembawaan baik dan benar. Fitrah manusia itu cenderung kepada ajaran tauhid dan meyakininya. Ajaran tauhid pada hakekatnya sejalan dengan nalar (yang benar) dan senantiasa membimbing kepada pola pikir dan pola tindak  yang konstruktif.

Dengan begitu fenomena 'kelompok bangsat' (sebagaimana Ade Armando menyebut Saracen) yang secara sadar menebarkan cara pikir dan pola tindak yang destruktif dengan mengangkangi nalarnya, hanya untuk memenuhi syawat ekonomi-politik sesaat, merupakan anomali nyata dari hakekat kefitrahannya sebagai manusia. Tidak hanya mengingkari nilai ketauhidan, tapi sekaligus memberangus secara kasar nilai-nilai kemanusiaan yang cenderung menginginkan dan mengharapkan kedamaian.

Sri Rahayu Ningsih, salah satu koorwil dari Kelompok Saracen (dokumen pribadi)
Sri Rahayu Ningsih, salah satu koorwil dari Kelompok Saracen (dokumen pribadi)
Maka jika ada sekelompok 'bajingan' berhati iblis yang tega mengorbankan kerukunan (toleransi) dengan mengobarkan kebencian SARA hanya untuk mencabik-cabik keberagaman, seperti saat ini terjadi di Inodnesia, karena sebuah kontestasi politik, membuat kita menjadi miris. Apalagi motifnya hanya untuk mendapatkan keuntungan finansial dan kepuasan semu atas kepentingan politik kelompok.

Belajar Mencintai (dari) Nelson Mandela 

Mantan Presiden AS, Barack Obama, seperti diungkapkan Grace Natalie dalam acara ILC itu, pernah membuat tweet melalui akun twiternya. Tweet Obama itu dilakukan sesaat setelah terjadi kerusuhan rasial di AS beberapa waktu lalu.

Rupanya ketika terjadi kerusuhan rasial itu, Obama teringat akan pernyataan seorang tokoh dunia, pejuang penghapusan sistem Apartheid yang pernah berlangsung (dari 1948 sampai dengan 1991) di Afrika Selatan. Sebuah sistem pemerintahan yang menerapkan perbedaan perlakuan (diskriminasi) atas dasar warna kulit, antara warga negara kulit putih dan warga negara kulit hitam. Tokoh tersebut adalah Nelson Mandela.

Sosok Nelson Mandela tidak hanya dikenal sebagai Bapak Afrika Selatan, melainkan juga menahbiskan dirinya sebagai seorang tokoh kemanusiaan yang sangat kharismatis. Karena itu, pernyataan yang keluar dari lisan Nelson Mandela sering menjadi referensi banyak tokoh dunia lainnya. Salah satu tokoh dunia, yang terpesona dengan kharisma Nelson Mandela itu adalah mantan Presiden AS, Barack Obama.

Sumber : http://indiatoday.intoday.in/story/barack-obama-most-liked-tweet-story-behind-nelson-madela-words/1/1027606.html
Sumber : http://indiatoday.intoday.in/story/barack-obama-most-liked-tweet-story-behind-nelson-madela-words/1/1027606.html
Jejak langkah dan pengaruh Nelson Mandela dalam persepektif kemanusiaan sangat besar dan menyejarah. Maka apapun yang yang berkaitan dengan Nelson Mandela, termasuk ucapan dan tindakannya senantiasa menjadi 'rujukan'. Karena itu, wajar Obama mengingat dan mengenang kembali Bapak Afsel itu, ketika menyaksikan kejadian kerusuhan rasial di negaranya. Obama pun merasa perlu mengangkat dan mengutip salah satu pernyataan Nelson Mandela, kemudian dituliskan kembali melalui akun twiternya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun