"Pejabat" Minta Setoran

10 Juni 2012 17:24:09 Dibaca :

Seorang teman, yang juga seorang PNS di sebuah instansi di Surabaya, beberapa hari ini  mengeluh tentang gangguan dari para "pejabat" yang minta setoran.

Kejadian ini selalu berulang di kantornya, terutama setelah ada acara pelantikan pejabat di instansinya. Setelah acara pelantikan pasti telepon kantor berdering dan "pejabat" yang dilantik selalu minta setoran.

Kebetulan di instansinya baru saja ada pergantian pimpinan kantor, dimana pimpinan kantor yang lama dipindah ke instansi lain dan digantikan pimpinan baru yang kebetulan dulu juga pernah bertugas di instansi yang sekarang dipimpinnya.

Sebelum pimpinan baru datang melakukan serah terima jabatan, telepon di kantor berdering, dan dari ujung telepon terdengar suara yang mengatakan kalau beliau adalah pimpinan yang akan menempati pos di instansi tersebut, kemudian "pejabat" tersebut meminta untuk disambungkan ke bendahara kantor atau kepala keuangan.

Untungnya teman saya kenal sekali dengan logat pimpinan barunya yang dulu juga pernah bertugas di instansi teman saya itu. Dan untungnya pula logat pimpinan baru itu medok Jawa banget, sedangkan "pejabat" yang menelepon tersebut terlihat sekali aksen Jakarte nya. Langsung saja teman saya tersebut 100% yakin kalau "pejabat" itu palsu.

Setelah gagal dengan upaya pertamanya, "Pejabat" tersebut kembali lagi dengan mengatasnamakan "pejabat" dari kementerian anu atau badan anu, dalihnya pun macam-macam, berkedok akan mengadakan pelatihan, atau akan melakukan inspeksi. Tetapi ujung ujungnya minta disambungkan ke bagian bendahara kantor ataupun kepala keuangannya.

Tak kurang akal teman saya tersebut pun minta untuk segera dikirimkan surat resmi berkaitan dengan permintaan tersebut dan tentu saja dijawab dengan suara "klik", dan telepon pun ditutup.

Setelah saya tanyakan ke teman saya tersebut, mengapa dia melakukan hal seperti itu, kalau itu ternyata memang pejabat sungguhan, bisa berakhir karir PNS nya.

Ternyata menurut teman saya, ada kejadian di instansi lain beberapa tahun sebelumnya dimana pejabat keuangannya tertipu oleh "pejabat" baru di instansi tersebut. "Pejabat" itu minta disetorkan uang ke rekeningnya dengan dalih untuk menyiapkan kepindahannya ke instansi tersebut. Karena yang meminta adalah calon "atasannya" maka dengan segera di transfer ke rekening "Pejabat" tersebut.

Baru ketahuan kalau itu semua adalah bentuk penipuan model baru dengan memanfaatkan ketaatan para PNS terhadap pimpinannya atau bahkan baru calon pimpinannya, setelah pejabat sebenarnya mengatakan kalau dia tidak pernah menelepon bahkan meminta setoran. Dan itu terbukti dengan aksen suaranya berbeda dengan orang yang di telepon.

Teman saya mengambil resiko dia akan mendapat marah besar bila ternyata itu adalah pejabat sesungguhnya daripada dia harus mengganti uang kantor yang diminta "pejabat" abal abal tersebut.

Penipuan model seperti itu ternyata juga marak di daerah daerah lain, entah sudah berapa korbannya. Tetapi hal ini juga dikarenakan perilaku beberapa birokrat nakal yang meminta ataupun meminjam uang kantor untuk kepentingan pribadi. Sudah banyak kasus di mana bendahara suatu instansi harus mempertanggung jawabkan uang kantor yang digunakan pimpinan kantornya untuk kepentingan pribadi.

Perilaku inilah yang dijadikan peluang bagi sindikat penipuan ini untuk melancarkan aksinya terhadap instansi pemerintah yang baru saja melaksanakan mutasi pejabat. Apalagi bila korbannya adalah tipe orang yang tidak mengkonfirmasi dahulu benar tidaknya permintaan setoran tersebut dengan alasan "SUNGKAN"

Mental para PNS memang sudah harus diubah bila memang bersungguh sungguh melaksanakan Reformasi Birokrasi. MENTAL MELAYANI PIMPINAN HARUS DIUBAH MENTAL MELAYANI MASYARAKAT, sedangkan seorang pimpinan harus memilah mana untuk kepentingan pribadi  dan mana untuk kepentingan masyarakat.

Bila mental tersebut tidak berubah baik dari sisi bawahan maupun pimpinan, maka modus penipuan di atas akan kembali berulang, karena bawahan akan berlomba lomba untuk melayani pimpinan bahkan masih calon pimpinan bukan untuk melayani masyarakat.

Octa Vitriadi

/denmas.octa

Tukang ketik surat di sebuah kantor, bergabung di berbagai milis untuk menunjukkan eksistensi "Aku ngeBlog maka Aku ada."
Suami yang hingga saat ini memiliki seorang istri dan seorang putri yang sama-sama manis.

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?