Cintaku adalah Bahagianya...(Part II)

22 Juni 2013 00:48:16 Dibaca :
Cintaku adalah Bahagianya...(Part II)
-

Huh! Akhirnya sampai juga di rumah. Hiruk pikuk jalanan sore ini membuatku pening. Kurebahkan tubuhku di kamar kecil ini. Kupandangi langit-langit kamar sambil membayangkan wajahmu. Kenapa ya, aku kok mikirin kamu terus? Kamu bukan kekasihku lagi. Ah, kucoba pejamkan mata, berharap bayangmu ikut menghilang. Tapi tak bisa. Bahkan rasanya semakin jelas. Senyummu, candamu, kenangan bersamamu dulu. Ya Tuhan, kenapa aku ini? Kucoba memutar radio untuk mengalihkan pikiranku. Tak terasa alarm hpku berbunyi. Jam 5. Bergegas aku bangun. Mandi, sholat, selanjutnya nongkrong di depan tv bersama teman-teman kos yang lain. Jam menunjukkan pukul 7. Aku masih di depan tv. Satu persatu temanku pergi, maklum, malam minggu, pada diapelin kekasihnya. Sedangkan aku, siapa yang mau ngapelin? Yah, sendirian juga gak pa-pa. Biasanya juga sendirian. Ketemu denganmu beberapa hari yang lalu sebenarnya penuh harap kamu masih jomblo dan mau kembali padaku. Tapi nyatanya, beberapa hari lagi kamu akan melangsungkan pertunangan. Pupus sudah harapanku. Mungkin memang itulah yang terbaik untukku dan untukmu. "La..." Adin berteriak memanggilku. "Ada yang nyari tu..." "Sapa?" tanyaku balas berteriak. Maklum, posisiku ada di lantai 2, sedangkan Adin di bawah. "Gak tau...gak boleh bilang." "Ya...tunggu sebentar." Hah, sapa sih? Bergegas kuganti celana pendekku dengan celana panjang, dan kaos oblong ini kuganti dengan kaos yang lumayan pantas untuk menerima tamu. Segera ku turun ke bawah. Kulihat seorang yang membelakangi pintu. "Ya...? Sia..." tak kuteruskan kata-kataku ketika melihatmu berpaling ke arahku. Prima. Deg! "La..." sapamu sambil mengulurkan setangkai mawar. Kau genggam tanganku. "Makasih mawarnya, Prim. Kok kamu kesini? Gak ngapel ke tunanganmu?" Aku berusaha kelihatan tegar. "Aku gak boleh ke sini?" "Boleh dong. Untukmu, semuanya boleh" jawabku sambil tersenyum. Senyum yang rasanya agak kupaksakan. Karena sebenarnya hatiku pengen nangis, ingat sebentar lagi kau akan bersanding dengan orang lain. "Duduk sini aja ya? Di dalam penuh." Kupersilahkan kamu duduk di kursi teras ini. "Ok!" jawabmu singkat. "Mau minum apa?" "Gak usah lah, La, trima kasih. Sini, duduk dekatku." Kau tarik tanganku supaya aku bisa duduk di sisimu. Dekat banget. Aduh! Serasa mau copot jantungku, degupnya luar biasa cepat. Kami terdiam agak lama. Sibuk dengan perasaan kami masing-masing. "La..." kamu tidak meneruskan ucapanmu. "Hemmm..." kubalas dengan menggumam. Aku masih blingsatan mengatur gemuruh yang mendadak menyerbu dada ini. Masih terasa banyak getaran untukmu. Kau raih tanganku. Kau genggam erat. Aku tak kuasa menolaknya. Karena sungguh luar biasa rasa ini. Rasa yang selama ini begitu aku rindukan. Yang selama ini aku mimpikan. "La...aku bingung harus mulai dari mana." "Ada apa?" tanyaku singkat, takut getaran di suaraku ketahuan. "Maukah kau menemaniku melamar Fitri besok?" Deg! Serasa berhenti jantungku. "A...apa? Menemanimu?" tanyaku sambil terbengong-bengong. Gila! Mau buat aku pingsan di sana? Mau buat aku nangis di hadapan banyak orang? Huh! "I ya. Mau ya?" tanyamu lagi. Aku diam tak bergerak. Bingung harus jawab apa. Menemanimu, berarti harus siap sakit hati. Tidak menemanimu, berarti aku tak rela kau bahagia. Aduh...bagaimana ini, aku harus jawab apa? "La...kok malah nglamun?" "Eh...enggak kok. Ya...ya...pasti ku temani." Akhirnya kujawab juga. Walau berat, aku akan lakukan demi bahagiamu. "Makasih ya La." Kau dekap aku, kau cium rambutku. Duh! Getaran ini terlalu kencang. Degup jantungku semakin tak karuan. "Ya." Jawabku singkat dan lirih. Kucoba sembunyikan gejolak dalam dada ini. Segala rasa berkecamuk tidak karuan. Suka cita karena aku dalam pelukanmu saat ini. Patah hati karena aku akan menyaksikanmu melamar orang lain besok. Duh, Gusti, kuatkanlah diriku. "Aku pamit dulu ya?" Katamu sambil melepas pelukanmu. Ingin ku menahan, tapi untuk apa. Toh hatimu sudah tak tertambat padaku lagi. Patah sudah sayap-sayap cintaku. Akhirnya, harus kurelakan kamu pergi, pergi untuk tak kembali singgah di hati ini lagi. "Ya. Sekali lagi makasih mawarnya." Tanpa kusadari, ciummu mendarat di pipiku. Aduuuhhhh! Semakin sesak dada ini. Tapi aku tak berani beranjak sedikitpun. "Besok kujemput jam 7 malem." "Oke." Kusaksikan dirimu berlalu. Aku tetap terpaku di sini. Tubuhku lemas, tak mampu kugerakkan lagi. Sakit hati ini begitu menusuk. Dengan sempoyongan kucoba melangkah ke kamarku. Kujatuhkan diriku di atas kasur berbarengan dengan meledaknya tangisku karenamu. Pedih, perih. Sesal, sesak. Berpadu jadi satu. Mengapa, Gusti, kau pertemukan kami kembali jika hanya untuk berpisah lagi? Kuatkanlah aku, Gusti! Aku tetap ingin melihatnya bahagia. Walau apapun rasanya, kuinginkan bahagianya.

Btari Ayu Larasati

/ayularasati

seorang yang selalu merindukan sang rembulan
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?