Surat Terakhir...

06 Maret 2013 16:22:54 Dibaca :
Untukmu kekasihku............

Aku telah menorehkan luka dalam hatimu, kasihku!

Aku yang telah membuat kau hancur berkeping-keping, dan......

Aku telah menancapkan belati pada ulu hatimu

Maafkan aku sayangku .........

Tak pernah terbayang dalam benakku

bukan kau yang menyematkan cincin di jari manisku

Semua bagaikan mimpi di siang bolong

ketika aku berdiri di depan altar tidak bersamamu

Mengapa penyesalan  datangnya selalu terlambat?

Delapan tahun pernah kita lalui bersama

dalam suka dan duka

Kini harus berakhir karena kesalahanku, sayang!

Kau dan aku pernah meniti jalan bersama

pernah ada di suatu masa di mana kita saling menikmati

musim cinta yang terindah.

Sekarang kita telah berada dipersimpangan jalan

dan aku memutuskan untuk berjalan seorang diri

untuk memilih jalanku sendiri.

Tahukah kau......

air mata ini tak berhenti mengalir

ketika juru rias menggambar wajahku

aku terbayang dirimu ......

Aku akan melanjutkan hidupku

menempuh bahtera bersamanya

aku pun tak tahu, ke mananakah bahtera ini berlayar

Mungkin sudah waktunya aku harus melupakanmu

Namun cintaku tetap untukmu......

Aku pun tidak akan melawan waktu jika harus bertemu

denganmu lagi dipersimpangan selanjutnya.

Tuhan, mengapa dengan cara ini kita harus berpisah?

mengapa bukan karena maut saja yang  memisahkan kita?

Seandainya waktu bisa di putar kembali,

aku ingin berada di masa ketika cinta kita bersemi

Semoga kita bisa bertemu di persimpangan selanjutnya,

kita bisa bersama lagi, saling mengisi, dan dapat berjalan beriringan

Namun......, untuk saat ini

biarkanlah aku melangkah seorang diri

untuk dapat menghargai apa arti cinta dan lebih mengenal

apa itu cinta.

Aku berdoa semoga kau baik-baik saja dan tidak membenci diriku

Sekali lagi maafkan aku, kasihku!

inilah surat terakhirku untukmu........(Anggit Pradipta)

Dari kekasihmu yang telah menyakiti hatimu


(Yogyakarta, 6 maret 2013)
KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?