Mohon tunggu...
Aqida Izza
Aqida Izza Mohon Tunggu... resolusi 2020 menulis minimal 200 kata sehari

Wirausaha yang hobby membaca dan menulis

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Berdamai dengan Diri Sendiri?

7 April 2020   12:29 Diperbarui: 7 April 2020   12:51 59 0 0 Mohon Tunggu...

Barusan saya membaca buku "Rentang Kisah" karya Gita Savitri. Saya merasa relate dengan kebanyakan apa yang dirasakan Gita dan dari buku ini saya jadi tahu kalau ternyata kehidupan seseorang itu juga banyak lika-likunya nggak seperti yang sering saya asumsikan dari luarnya saja. 

Pertama, saya sering merasa orang tua seharusnya begini begitu.. seperti yang saya lihat di TV-TV atau at least di sekitar saya, seperti teman-teman, atau saudara-saudara. Orang tua saya memang bukan tipe yang sweet seperti gambaran orang tua di drama-drama terutama ibu saya yang dari kecil dididik dengan cara tradisional oleh kakek nenek saya sehingga ibu saya memiliki pemikiran yang kolot dan menurutnya apa yang dulu diterapkan oleh kakek saya kepadanya perlu diterapkan ke anak-anaknya sehingga terkadang hal ini menjadi cekcok antara saya, adek saya dan ibu saya. 

Namun hal yang saya berusaha untuk mengerti saat ini adalah bahwa setiap orang tua memiliki background sendiri yang mempengaruhi cara mendidik anak-anaknya apalagi dengan adanya gap cara berpikir anak dan orang tua yang terkadang memperkeruh suasana. I mean Saya tahu kalau terkadang ibu saya masih berkutat di pemikiran pada eranya dahulu jadi sekarang yang saya pikirkan adalah bagaimana cara memberikan respon terbaik untuk hal ini. Daripada merasa iri pada kehidupan keluarga orang lain yang notabene useless sekarang saya mencoba berpikir realistis dan berdamai dengan diri sendiri.

Kedua, dalam hal pertemanan terkadang saya berpikir apakah saya termasuk orang yang tidak mudah bergaul? Saya bahkan tidak bisa mendefinisikan diri saya ini seorang introvert atau ekstrovert karena sebenarnya saya menikmati bergaul dengan orang-orang bahkan saya merasakan ada energi yang masuk ketika saya berdiskusi dengan orang-orang, namun adakalanya saya merasa terasingkan dengan suatu topik yang menurut saya bisa menjadi toxic jika kita tidak melakukan apa-apa tapi juga berujung pada percekcokan jika kita melawan arus. 

Adakalanya saya merasa kalau sebagai orang Indonesia kita dituntut untuk memiliki pendapat yang sama dengan kelompok kita kalau nggak mau dikucilkan, I don't know it is probably just my thought. Apalagi saya bukan tipe orang yang bisa menyembunyikan kegelisahan saya di depan orang-orang.

Ketiga, ketika Gita menyebutkan di salah satu tulisannya bahwa orang Indonesia itu termasuk pemalas, malas untuk cari tahu meskipun sekarang adalah era informasi yang notabene informasi ada dimana-mana, mudah dan murah diakses, bahkan bisa muncul dalam beberapa detik saja, saya sendiri tidak bisa tidak setuju dengan pendapat ini karena saya mengalaminya sampai sekarang. 

Saya adalah pedagang online yang berusaha untuk menyebarkan marketing bisnis saya di banyak platform, namun adakalanya calon customer berpikir kalau pembeli adalah penguasa walaupun penjual sudah menyediakan informasi sejelas-jelasnya calon pembeli masih akan menanyakan hal yang sama dan inilah watak customer Indonesia yang tidak bisa saya elak karena bisnis saya berbasis di Indonesia. 

Saya pernah mendengar cerita seorang pengusaha yang memiliki based customer di luar negeri, yang perlu mereka lakukan adalah menyediakan informasi sejelas-jelasnya dan calon customer tidak akan menanyakan apa yang sudah tertera di sana. So as long as you want to continue your business here you need to cope with it.

Kembali ke topik awal tentang berdamai dengan diri sendiri. Suatu hari saya pernah sangat-sangat depressed dengan keadaan saya dan saya mulai menyalahkan apapun yang bisa disalahkan sampai akhirnya saya ingin sekali mencari apa yang salah pada diri saya ini dan setelah Googling akhirnya saya menemukan kata "Berdamai dengan diri sendiri" yang kalau nggak salah di-posting oleh channel YouTube ruang guru. Intinya berdamai dengan diri sendiri adalah berusaha untuk menerima kekurangan/kondisi yang tidak bisa kita ubah/di luar kontrol kita seperti bentuk tubuh kita atau kondisi keluarga kita yang jika kita ubah itu lebih sulit atau membutuhkan effort diluar kemampuan kita dari pada ketika kita menerimanya. 

Di saat itulah kita harus mengalihkan pemikiran untuk bagaimana cara kita merespon kekurangan tersebut. Namun ada juga kondisi/kekurangan yang masih bisa kita ubah melalui upaya-upaya tertentu seperti jika kamu memiliki postur tubuh yang pendek dan kamu masih dalam masa pertumbuhan tentunya kamu masih bisa banget untuk meningkatkan tinggi badan kamu seperti dengan olahraga dan memberikan asupan gizi yang dibutuhkan. 

So in short, Saya semakin berpikir bahwa kecerdasan emosional itu sangat penting dan tidak boleh disepelekan dalam menghadapi masalah-masalah kehidupan baik itu dalam pekerjaan, pertemanan, keluarga, dan lainnya. Karena tidak semua orang mampu berdamai dengan dirinya sendiri. I still need to learn a lot.

VIDEO PILIHAN