Mohon tunggu...
Zein Maestro
Zein Maestro Mohon Tunggu... Pria bersahaja dengan segala kesederhanaan

Sukses tanpa penderitaan laksana perahu di atas daratan

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Dilema Kang Santri

11 Mei 2020   00:09 Diperbarui: 13 Mei 2020   18:50 63 1 0 Mohon Tunggu...

Semua tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya, alih-alih punya banyak teman dan pengalaman baru, justru malah menimbulkan masalah baru. Semua mulai terasa saat peristiwa itu terjadi, di mana ada rahasia yang belum sempat terungkap. Mungkin, memang inilah skenario yang sengaja dibuat Tuhan dan tentu saja ini tidak akan melewati batas dari kemampuan hamba-Nya. Tak ada pilihan lain selain berusaha untuk selalu menikmatinya.

Menjalani sesuatu yang menjadi pilihan diri sendiri adalah hal yang sangat diinginkan banyak orang, tak akan ada beban yang dapat menghambat laju dari apa yang sudah dipilih. Sebesar apa pun kendalanya dan seberat apa pun resikonya, tidak akan mampu menghentikan semuanya. Kesadaran akan sebuah pilihan itulah yang membuat segalanya menjadi indah untuk dijalani dan dinikmati.

Namun, itu semua tak pernah tampak dalam kehidupan Kang Zein. Ia selalu mengalah dan mengikuti pilihan dari orang tuanya dalam segala hal, termasuk masa depannya. Apa pun yang diinginkan orang tuanya, selalu diwujudkan. Ingin rasanya bisa seperti teman-temannya yang selalu dikabulkan segala permintaannya. Sampai suatu ketika ia berjanji dalam hatinya, "Setelah lulus nanti, aku harus kuliah seperti teman-temanku meski belum mendapat izin dari orang tuaku."

Tepat di akhir bulan April, ujian akhir sekolah telah selesai dilaksanakan. Ini berarti, tinggal menunggu beberapa bulan saja untuk bisa mengetahui hasil pengumumannya. Dengan penuh semangat, Kang Zein berusaha mencari informasi seputar dunia perkuliahan, mulai dari bertanya kepada kakak kelasnya, sampai mencarinya lewat internet. Pencarian pun membuahkan hasil dengan masuknya dua nama kampus ke dalam daftar incarannya.

"Nak, nanti setelah lulus. Kamu mau 'kan lanjut sekolah di tempat yang khusus mendalami kitab kuning?" pinta Ibunya sebelum pengumuman kelulusan.
"Ngga, Bu. Aku mau langsung kuliah. Mau cari pengalaman dan teman baru." Jawabnya seraya menolak permintaan Ibunya.
"Kenapa, Nak? Bukankah di sana juga dapat pengalaman dan teman baru?" lanjut Ibunya untuk lebih meyakinkannya.
"Iya, sih. Tapi 'kan sulit sekali, Bu. Belajar kitab kuning itu, banyak banget yang harus dihafalkan." Sahutnya sembari menolak dengan cara yang halus.
"Sulit itu, karena belum terbiasa. Kalau sudah terbiasa, semua akan jadi mudah kok." Nasihat Ibunya seraya menutup obrolan itu.

Harapan yang sudah di depan mata, kini telah sirna. Bayangan bisa kuliah bersama teman-temannya pun musnah, semua bagai angin yang berlalu. Satu hal yang membuatnya rela mengorbankan harapannya adalah kebahagiaan orang tuanya. Ia sadar betul bahwa untuk saat ini, belum ada yang bisa diberikan kepada orang tuanya, selain membahagiakannya dengan mewujudkan apa yang menjadi keinginannya.

Setalah ia dinyatakan lulus ujian akhir sekolah, rasa bahagia dan sedih menyelimutinya. Di satu sisi, ia merasa bahagia karena bisa menyelesaikan pendidikannya dengan sempurna. Di sisi yang lain, ia merasa sedih karena harapan untuk dapat kuliah belum bisa terwujud. Di saat yang lainnya disibukkan dengan materi ujian tes masuk perguruan tinggi, ia justru malah disibukkan dengan materi ujian tes masuk sekolah yang khusus mendalami kitab kuning.

Hari-hari di tempat itu berbeda dengan sebelumnya, keramaian yang dirasakan pun tak lagi sama, semua dilaluinya dengan penuh keikhlasan demi kebahagiaan orang tuanya. Tak terasa, tiga tahun pun telah berlalu. Rasanya, baru kemarin ia dan keluarga mendatangi tempat itu. Harapan yang dahulu pernah mati, kini mulai hidup kembali. Kali ini tak ada yang bisa menghalangi keinginannya untuk melanjutkan kuliah di perguruan tinggi. Meski sebenarnya, Ibunya menginginkan dia untuk tetap melanjutkan kuliah di tempat itu.

Habis gelap terbitlah terang, kiranya itulah yang sedang dialaminya. Berkat usaha dan doanya setiap waktu, ia berhasil masuk perguruan tinggi yang sejak dahulu memang sudah direncanakan. Segala sesuatu yang bisa meningkatkan kualitasnya, selalu didukung oleh orang tuanya. Apa pun yang dibutuhkannya selama kuliah, selalu dipenuhi juga oleh orang tuanya. Semua itu berlangsung sampai ia memasuki semester dua.

Masalah baru itu pun muncul. Kala itu, libur akhir semester telah tiba. Ini berarti, tak ada lagi tugas kuliah yang harus diselesaikan. Demi memanfaatkan waktu libur yang lumayan panjang, Kang Zein selalu menyempatkan diri untuk membuka kembali beberapa kitab kuning yang pernah dipelajarinya di tempat yang cukup jauh dari tempat tinggalnya. Tak banyak koleksi kitab kuning yang dimilikinya, hanya beberapa kitab yang sekiranya bisa menjadi alat bantu untuk memahami kitab yang lainnya. Semua tersusun rapi di rak buku pemberian Ibunya.

Sore itu, sebelum mentari terbenam. Ia duduk di ruang belajarnya dan membuka semua jendela sambil menikmati indahnya langit sore. Saat itu, ia ingin mencoba mengulang kembali hafalan-hafalan syair yang pernah dikuasainya. Tidak kurang dari lima kitab syair pernah dihafalnya dalam kurun waktu tiga tahun. Setiap dari kitab syair itu ada yang berisi puluhan, ratusan, bahkan sampai ribuan syair.
Alangkah sangat terkejutnya, belum sampai di pertengahan kitab, tiba-tiba hafalannya terhenti. Tak ada yang tergambar sedikit pun dalam ingatannya tentang kelanjutan dari syair itu, semua yang pernah dihafalnya seakan hilang begitu saja bagai ditelan bumi. "Apa yang terjadi? Kenapa bisa sampai lupa seperti ini?" gumamnya dalam hati.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x