zaldy chan
zaldy chan ASN (Apapun itu, Sing penting Nulis)

cintaku tersisa sedikit. tapi cukup untuk seumur hidupmu

Selanjutnya

Tutup

Novel

NIK | Power of Love [14]

8 Februari 2019   11:47 Diperbarui: 8 Februari 2019   12:01 21 3 0

"Di jalan, Abang gak makan?"
"Aku rakus, ya?"
"Hehe..."
"Gegara repot!"
"Repot...?"
"Iya. Mesti makan sambil jalan, kan?"
"Iiih!"

Aku tertawa. Tahu reaksimu jika begitu. Tak ada, ucapan selamat datang di Padang dari dua jarimu. Jarak gagalkan cubitan itu. Kau duduk dihadapku dipisahkan meja kecil. Peralatan makan sudah sejak tadi dibereskan. Tak kau biarkan aku mencucinya.

"Antar Nik balik, yuk?"
"Eh! Mau pulang?"
"Besok, masih mid!"
"Ooh! Aku siap-siap dulu."
"Iya."
"Nik, menunggu di sebelah, mau?"

Kau mengerti maksudku. Masih suasana lebaran. Bershilaturahmi sekaligus menungguku. Kuajak dirimu ke rumah sebelah. Tempat juragan kost. Aku segera bersiap diri.

Kau juga aku. Pergi. Naik angkot jurusan Kalawi-Pasar Raya. Berhenti di kantor pos. Berjalan berdua. Bersisian. Tak langsung pulang. Mampir dulu di Blok A Pasar Raya. Persis di belakang Matahari Mall. Kau mesti membeli. Kebutuhan jahitanmu. Kukira, kau sudah kembali terima order jahitan. Tak lama. Kembali naik angkot putih. Tujuan Labor. Ke rumah kostmu.

Hari ini. Bagiku, kali kedua bertemu kembali ibu kost. Dan kembali bertukar salam. Duduk ditemani ibu kost di beranda depan rumah. Kau segera lenyap. Ke dalam rumah. Dan kembali. Segelas kopi, Kau ajukan dihadapan dudukku. Aku hafal sinyal itu. Kau tak ingin. Aku segera pulang. Aku tersenyum. Menatapmu.

"Cuma satu gelas?"
"Eh?"
"Ibu?"
"Aduuuh, Sebentar!"

Ibu kosmu menjawab tanyaku. Beranjak dari duduk, masuk ke rumah. Dan segera kembali. Tersenyum. Nyaris malu. Membawa bungkusan hitam. Di serahkan padamu.

"Ibu lupa!'
"Hah?"
"Tadi pagi, diantar Abangmu!"

Aku tertawa. Ibu kost melirikku. Untuk segera pamit. Kembali kedalam rumah. Kau menatapku. Kemudian beralih ke bungkusan hitam di tanganmu. Kau membukanya. Dan tertawa melihat isinya.

Itu kebiasaanmu. Membawa bubuk kopi. Khas curup. Sebagai oleh-oleh. Aku tak perlu tahu. Untuk siapa bubuk kopi itu. Aku cuma tahu. Kau terburu-buru. Jelang pulangmu ke Padang. Dan kau takkan memikirkan kopi itu. Kau menatapku. Aku tahu. Kau akan ucapkan sesuatu.

"Tak usah berterima kasih."
"Eh?"
"Udah dibarter Kangkung!"
"Iiih!"

Kali ini, Tak ada meja kecil yang pisahkan jarak. Pinggang kiriku, harus terima cubitanmu.

#Nik

#GetMarried #PowerofLove