zaldy chan
zaldy chan ASN (Apapun itu, Sing penting Nulis)

cintaku tersisa sedikit. tapi cukup untuk seumur hidupmu

Selanjutnya

Tutup

Novel

Nik | Get Married #9

12 Januari 2019   05:30 Diperbarui: 12 Januari 2019   05:31 170 1 2

sore itu. lewati jam liima. suasana ruang duduk rumah sawah mulai cair. hanya ada aku dan ayah. tak lagi kudengar suara aktifitas di dapur. dan tak pula kulihat mamak. kau pun tak kunjung bergabung. kusimpan tanya tentang itu padamu.

sejak tadi. kusimak dan kudengar berbagai kisah ayah. sejak muda. merantau. menjadi guru. hingga mengisi masa pensiun sebagai petani. sesekali aku bertanya dan ditanya. tentang politik, organisasi masyarakat. hingga diskusi kecil. perbedaan penetapan idul fithri. kuikuti arus waktu berlalu.

dari jendela. kulihat mendung. udara mulai terasa dingin. kopi di gelas bersisa sedikit. beberapa saat. seisi ruang tersaji hening. kunikmati rokokku. ayah pun begitu. kukira waktuku untuk bicara. kuangkat wajahku. mata ayah menatap lurus mataku.

"Dimana kenal Nunik?"
"Di MTs, Yah!"
"Oh!"
"Terpisah saat tamat. Bertemu lagi waktu..."
"Mau hujan!"

ucapanku terhenti. ayah tak menatapku. tapi melihat langit di ujung jendela. perlahan mata tenang itu. menatapku.

"Pulanglah!"

hanya satu kalimat singkat. dengan nada tenang. menikam jantungku. sejak dulu. kulalui alur waktu. agar bisa temui sosok dihadap dudukku. tanpa sempat kuujarkan maksud. kalimat itu hadir untukku. dalam hati kuulangi kalimat pendek itu. kubalas tatapan ayah.

"Aku tak..."
"Ajak Mamak dan Nunik! Nanti keburu hujan..."

nada itu tak berubah. masih tenang. fikiranku berkecamuk amuk. semampuku. kutata emosi. sibuk memilih dan memutuskan. tindakan yang harus kulakukan.

"Maaf, Yah! Aku datang hari ini. Meminta izin. Jika Aku dan... "
"Ayah sudah tahu!"

tak ada senyuman. tak ada nada tekanan. pun tak bisa kutafsirkan. tiga kata itu meluncur lugas dan tegas. tetiba ayah berdiri. tapi diam menatapku. naluriku bergerak cepat. ayah menunggu. akupun berdiri dihadapan ayah.

"Nanti Ayah pulang ke rumah!"

tak lagi bicara. ayah berjalan pelan menuju dapur. aku berdiri dalam diam. tak lama. kau keluar dari pintu dapur. tak bicara. kau bereskan dua gelas kosong di lantai. sedikit lama. kau hadir lagi temuiku. yang masih berdiri diam. diikuti mamak di belakangmu. dua pasang mata menatapku.

"Yuk! Pulang, Mas!"

mamak mendahului. lewati pintu. turuni tiga anak tangga. sedikit berteriak. pamit pada ayah. kau tersenyum menatapku. anggukkan kepala. kuraih bungkus rokokku. bergegas ikuti mamak. kau dibelakangku.

gerimis mulai turun. mamak sudah jauh di depan. kau ikuti langkahku. pematang sawah mulai licin. tepat di titik perhentian saat datang tadi. kurasakan dari belakang. tanganmu menyentuh lenganku. aku berhenti. tak segera berbalik. aku menatap mamak. yang bergerak cepat. lalui pematang. memilih jalur berbeda. dan menghilang di rindang pepohonan.

kau bergerak mendahuluiku. tapi berhenti tepat dihadapku. kupandang rumah sawah. kulihat ayah. berjalan memutari rumah. kualihkan mataku padamu.

"Nik! Ayah..."
"Masukkan ayam sama itik ke kandang!"
"Maksud Mas..."
"Gerimis! Mas gak bawa baju ganti, kan?"
"Gak! Mas gak nginap!"
"Haha..."

kau tertawa. tak lagi bicara. kau berjalan pelan. meniti pematang. ikuti jalur mamak. kuikuti langkahmu.

"Berhenti dulu!"
"Mau hujan!"
"Nik!"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2