zaldy chan
zaldy chan ASN (Apapun itu, Sing penting Nulis)

cintaku tersisa sedikit. tapi cukup untuk seumur hidupmu

Selanjutnya

Tutup

Novel

Nik | Get Married #8

10 Januari 2019   12:30 Diperbarui: 11 Januari 2019   21:16 134 0 0

aku terkejut! pantas saja tak ada raut wajah asing saat bertemu. aku jadi tahu. ruang dan waktu sore itu. sepenuhnya dibawah kendali ayah. aku juga mengerti. jika penguasaan situasi masih seperti itu. persiapanku pasti buyar. kutatap wajah ayah. hanya sekilas membalas tatapanku.

aku diam. ikuti gerakan ayah. tiga pertanyaan mengusikku. apakah kau sudah bicara pada ayah tentangku? atau kau bicara dengan mamak perihal kedatanganku dan mamak cerita pada ayah? pertanyaan ketiga, hadirku sore itu di rumah sawah, mengusik naluri lelaki seorang ayah?

dua pertanyaan awal terbantahkan. reaksimu saat hadirku menjawab itu. selain aku dan tuhan. tak ada yang tahu. kapan aku ke Ketenong. saat izinmu kudapatkan. untuk temui ayah dan mamak. aku tak bicara waktu datangku padamu. kau hanya tahu. aku pasti datang. karena kau mengenalku. Amak pun tahu usai shubuh. saat pamitku.

'Yah, Aku..."
"Pertama kali ke sini, kan?"
"Eh? Iya, Yah!"
"Jalannya parah, kan? Padahal janjinya dulu. jika Lebong sudah jadi kabupaten. Akan perbaiki!"
"Oh..."
"Sejak dulu! Selalu janji. Tapi realisasinya..."

sosok dihadapku. meraih bungkusan rokok kreteknya.. keluarkan sebatang. segera dinyalakan. belum ada pilihan. kuikuti alur saat itu. kuhempas pelan asap rokokku. aku menunggu. mataku tak lepas dari lawan bicaraku. ayah lempar pandang keluar jendela.

"Biarlah mereka terima resiko! Terlalu mudah berjanji. Janji adalah hutang, kan?"
"Iya..."
"Akibat jalan buruk. Kendaraan jarang masuk. ongkos pun jadi mahal. Semua barang menjadi dua kali lipat harganya
bahkan lebih dibanding Muara Aman! Tapi hasil panen dari Ketenong. Dihargai sama di Muara Aman! Padahal butuh modal besar jika dihitung ongkos! Sedangkan disini, mayoritas petani! Rugi, kan?"
"Iya!"
"Banyak tak bisa lanjutkan sekolah. Tak ada biaya. Tamat dari Madrasah langsung ke sawah atau kebun! Bagaimana mau sekolah? Untuk kebutuhan harian saja tidak cukup?"
"Iya..."
"Makanya anak-anak harus sekolah! Biarlah ayah dan Mamak disini!"

kuraba arah bicara ayah. Tiga kali kata "Iya" keluar dari mulutku. Ayah, pendiri sekaligus kepala Madrasah. Mamak guru di Madrasah. Keduanya biasa di sapa Pak Guru dan Bu Guru. nyaris semua penduduk Ketenong. murid ayah dan mamak. keduanya pun pensiun. dua tahun sebelum wisudamu.

aku mengerti hasrat dari jiwa seorang pendidik. terhadap kondisi masyarakat. apatah lagi melihat keadaan yang diialami mantan anak didiknya. tapi kenapa ujarkan padaku saat itu?

kuraih gelasku. mereguk isinya. kuambil sebatang rokok. yang kedua sejak di rumah sawah. kunyalakan. aku tahu. ayah diam-diam memperhatikanku. tetiba ayah tersenyum. nyaris tertawa.

"Kemana orang di dapur? Kenapa goreng ubi belum datang? Padahal sejak tadi sudah terdengar di goreng?"

nada suara sengaja dikeraskan. ayah tertawa. akupun ikut tertawa. sesaat terdengar kesibukan di dapur. tak lama. kau hadir. tanganmu membawa dua piring ubi goreng. kau hidangkan dihadapku juga ayah. wajahmu tertunduk. kau beranjak ke dapur. saat kudengar suara ayah.

"Gak disuruh makan?"

langkahmu terhenti. segera berbalik badan. wajahmu memerah. kau menatap ayah. kemudian padaku.

"Dimakan, Yah! Mas..."

ayah tertawa. meraih sepotong ubi goreng. aku tersenyum menatapmu. sembari anggukkan kepala. tak lagi ada suaramu. terburu kau berjalan menuju pintu dapur.

"Makan, Nak! Masih hangat..."
"Iya, Yah!"
"Nunik memanggilmu, Mas?"
"Iya..."
"Haha...! Bukan orang Jawa, kan?"
"Padang, Yah!"
"Haha..."
"Alasan Nunik..."
"Ayah tahu! Tiga kakaknya pun, dipanggil berbeda! Ada Kakak, Uda dan Abang!"
"Iya..."
"Kenapa mau di panggil Mas?"
"Nunik yang mau, Yah!"
"Haha..."

#nik

#getmarried