Mohon tunggu...
Yumahest
Yumahest Mohon Tunggu... Penulis - Penulis

CEO Penerbit Halim Pustaka Media. Wattpad, KaryaKarsa, Kaskus, Kwikku, gwp.id, Storial: @yumahest IG: @yumahest_writer & @yumahest

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Modal Nekat [Part 2 - Termakan Omongan]

17 Mei 2019   08:59 Diperbarui: 17 Mei 2019   09:04 10
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Novel. Sumber ilustrasi: PEXELS/Fotografierende

"Pandai-pandailah menyaring dan memilah ucapan orang. Bisa saja perkataan mereka merupakan salah satu cara supaya kau juga terjatuh di jurang yang sama dengannya."

---------------------------------

Peperangan hampir dimulai. Hari menjelang pertempuran yang membuat jantung tak bekerja normal setiap saat. Ya, hari ujian telah tiba.

Kali ini, Mama yang mengantarku karena Papa harus bekerja, menyiapkan uang untuk pendidikanku nanti jikalau aku lulus. Terlebih lagi, Mama hanya ibu rumah tangga yang tak memiliki banyak kesibukan.

Sehari sebelum tes, aku tak banyak belajar. Boro-boro belajar, melihat sampul bukunya saja aku sudah bosan. Rasanya semua soal sudah kucicipi.

Aku memang tak mau menjejalkan materi-materi itu sekaligus. Apalagi dalam waktu kurang dari 24 jam. Bisa-bisa besok otakku langsung nge-blank saat melihat soal-soal yang disajikan. Jadi, aku malah merilekskan otakku menjelang ujian ini.

Jangan berpikir kalau aku menghabiskan waktu untuk jalan-jalan atau bersenang-senang. Aku hanya sharing dengan kakak tingkatku melalui pesan singkat, yang kebetulan dia juga tetanggaku.

Beberapa support kudapatkan murni dari hati untuk menyemangatiku. Setelah kuakhiri berkirim pesan dengannya. Kuberandai-andai membayangkan jika aku berhasil lulus dan sekolah di SMA Unggulan. Kubayangkan diriku yang sedang memasuki gerbang sekolah menggunakan seragam khasnya kemeja putih dibalut dengan jas berwarna biru dongker dan rok panjang berwarna biru dongker yang menjuntai sampai di bawah mata kaki, juga dasi berwarna merah maroon yang bertengger rapi di lehersembari membawa beberapa buku paket yang kudekap di depan dada dengan satu tangan. Ah, membayangkan hal manis seperti itu membuatku senyum-senyum sendiri, sampai-sampai tak dengar ucapan Mama yang menyuruhku tidur.

***

Keesokan harinya, aku sudah berdiri bersama pendaftar lain di lapangan upacara, melakukan upacara pembukaan sebelum tes dimulai. Dipandu kepala sekolah dan beberapa siswa dari sekolah itu.

Sesaat kemudian upacara dibubarkan, siswa-siswi mengarahkan kepada pendaftar supaya memasuki ruang ujian sesuai kelompok masing-masing. Satu kelompoknya didampingi tiga kakak pendamping dari SMA itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun