Mohon tunggu...
Yose Revela
Yose Revela Mohon Tunggu... Freelancer - Freelance

YNWA. Wonosobo, 14 Juli 1992 yoserevela@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Menunggu Godot Covid-19

28 Maret 2020   09:08 Diperbarui: 28 Maret 2020   09:09 224
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi: Tribunnews.com

Seiring merebaknya pandemi COVID-19 belakangan ini, banyak orang di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, berada dalam situasi tak pasti. Himbauan pemerintah untuk bekerja di rumah, disusul penutupan sementara sejumlah tempat umum, seperti rumah ibadah, perkantoran, sekolah, dan pusat perbelanjaan, membuat gambaran situasi serba tak pasti ini terlihat begitu nyata.

Boleh dibilang, kita semua seperti sedang melakoni drama "Menunggu Godot", karena pandemi COVID-19 sudah membuat situasi serba tak pasti. Tapi, ini adalah "drama kehidupan", karena situasinya memang benar-benar sedang kita alami bersama.

Dalam bahasa Indonesia, frasa "Menunggu Godot", biasa diartikan sebagai; "Menunggu sesuatu yang tidak pasti". Ungkapan ini, sebenarnya adalah judul drama, karya Samuel Beckett (Sastrawan Irlandia), yang pertama kali dipentaskan tahun 1953.

Diceritakan, sepasang sobat karib, bernama Vladimir, dan Estragon, sedang menunggu kedatangan Godot, teman mereka. Tapi, setelah menunggu berhari-hari, berbulan-bulan, dan bertahun-tahun, sampai rambut mereka memutih, Godot tak juga datang. Dari kisah inilah, ungkapan "Menunggu Godot" muncul.

Dalam konteks situasi saat ini, pandemi COVID-19 memaksa kita untuk "Menunggu Godot", karena kita masih belum tahu pasti, kapan situasi ini akan berakhir.

Bagi para pelajar atau mahasiswa, situasinya mungkin tidak terlalu menggantung, karena sekolah atau kampus mereka menerapkan kebijakan belajar di rumah sampai akhir semester genap. Kalaupun ada penyesuaian, itu banyak berhubungan dengan uang saku yang sementara ditiadakan, jumlah uang kiriman (bagi anak kost) yang disesuaikan, atau upah kerja yang disesuaikan (bagi mahasiswa yang punya kerja sampingan).

Bagi mereka yang bekerja, situasinya sedikit lebih rumit. Selain menghadapi ketidakpastian waktu dan situasi, mereka juga akan menghadapi ketidakpastian dalam hal biaya. Apalagi, jika di tengah situasi seperti sekarang, ada yang harus menerima penyesuaian gaji, setidaknya sampai situasi kembali kondusif, entah sampai kapan.

Jika para pekerja ini masih tinggal bersama orang tua, mungkin penyesuaian gaji bukan masalah besar, kecuali mereka adalah tulang punggung keluarga. Jika para pekerja ini hidup sendiri di perantauan, atau menjadi tulang punggung keluarga, bisa dipastikan, mereka akan pusing tujuh keliling.

Maklum, semua kebutuhan harian harus ikut disesuaikan, tanpa melupakan biaya-biaya tetap, seperti uang sewa kost atau kontrakan, cicilan rumah atau kendaraan, plus tagihan listrik, atau pulsa. Belum lagi jika sumber pemasukannya bersumber dari upah kerja harian, tentu situasinya akan semakin rumit.

Di satu sisi, penyesuaian gaji memang menjadi satu langkah logis, supaya perusahaan tak kolaps dalam situasi seperti sekarang. Masalahnya, biaya semua kebutuhan hidup sehari-hari tetap seperti biasa, bahkan cenderung dinaikkan dari waktu ke waktu.

Dalam situasi seperti ini, mengandalkan uang tabungan memang solusi ideal untuk jangka pendek. Opsi lainnya ada dalam bentuk mencari penghasilan tambahan, tapi, dalam situasi "Menunggu Godot" seperti sekarang, tak banyak pilihan tersedia, mengingat sedang seretnya kondisi perekonomian akibat pandemi COVID-19.

Maka, supaya situasi "Menunggu Godot" ini tak menghasilkan krisis lanjutan, pemerintah dan semua pihak terkait harus bisa memastikan, kesejahteraan masyarakat, terutama rakyat kecil, tak dikorbankan dalam situasi "Menunggu Godot" ini. Kita semua jelas tak ingin situasi seperti tahun 1998 kembali terjadi.

Jika perlu, pemerintah harus memberikan contoh, dengan ikut melakukan penyesuaian gaji kepada para pejabat, wakil rakyat, pegawai BUMN dan pegawai negeri, dari tingkat tertinggi sampai terendah tanpa kecuali. Jika masih kurang, uang sitaan KPK dari perkara kasus korupsi bisa turut digunakan. Dengan harapan, neraca APBN tidak defisit di tengah situasi seperti sekarang, dan dana yang berasal dari penyesuaian gaji ini bisa lebih berguna untuk rakyat banyak. Jadi, selain aspek kesehatan, aspek sosial juga dapat tetap tertangani dengan baik.

Lagipula, jika pemerintah masih peduli dengan citra baik, langkah "penyesuaian gaji" ini seharusnya bisa dimanfaatkan untuk memperbaiki image kurang baik negara kita, sebagai salah satu negara terkorup di dunia, sambil mulai membangun kesadaran hati para wakil rakyat. Bagaimanapun, tak elok jika para wakil rakyat ini minta gaji tetap, bahkan naik, di saat gaji rakyat, yang notabene menjadi sumber penghasilan mereka, sedang mengalami penyesuaian, kalau tak mau dibilang pemotongan, akibat imbas pandemi COVID-19.

Situasi "Menunggu Godot" seperti sekarang memang membosankan, karena semua masih serba tak pasti, kecuali penyesuaian gaji. Maka, selain tetap bekerja dan mengisolasi diri di rumah, mari berharap, pemerintah dan semua pihak terkait tidak lantas mengabaikan aspek sosial (dan semua aspek kehidupan masyarakat), hanya karena terlalu memperhatikan aspek kesehatan. Bagaimanapun, kesehatan lahir batin masyarakat hanya akan terjamin, jika semua aspek kehidupan mereka selalu diperhatikan dan ditangani maksimal setiap saat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun