Mohon tunggu...
dora melisa
dora melisa Mohon Tunggu... Pustakawan - just an ordinary people

Librarian

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

New Normal: Titik Balik Perpustakaan

29 Juni 2020   19:03 Diperbarui: 29 Juni 2020   18:54 112
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Kemampuan literasi virtual masyarakat masih terbilang rendah terlebih di daerah- daerah yang tidak terjangkau oleh akses teknologi informasi. Kondisi ini harus menjadi concern/perhatian pemerintah khususnya dinas perpustakaan.

Tantangan Baru Literasi 

Selama ini sudah banyak perpustakaan yang melakukan kegiatan literasi dengan memanfaatkan berbagai media. Namun hal itu masih bersifat offline atau dilakukan secara tatap muka dalam pertemuan-pertemuan. Kini, dengan adanya pandemi COVID-19 yang grafiknya belum menunjukkan penurunan signifikan tentunya kegiatan literasi offline tidak dapat dilaksanakan. 

Dibalik musibah pandemi COVID-19, ada banyak hikmah dan peluang tercipta. Bagi perpustakaan, inilah momentum untuk lebih fokus menggerakkan literasi secara virtual. Sudah saatnya revolusi 4.0 dimanfaatkan secara maksimal untuk melakukan kegiatan-kegiatan pemberdayaan masyarakat.          

Perpustakaan harus merubah pola pelayanan. Jika sebelumnya masyarakat yang datang ke perpustakaan untuk mencari koleksi dan menikmati fasilitas lainnya, kini sudah saatnya perpustakaan yang mendatangi setiap rumah warga. Caranya bagaimana? Perpustakaan harus melakukan digitalisasi koleksi, beralih dari koleksi fisik ke koleksi digital. 

Dengan demikian perpustakaan dapat diakses kapan dan di mana saja. Sepertinya hal ini sudah dimulai oleh Perpustakaan Nasional dan beberapa perpustakaan khusus, umum maupun perguruan tinggi. 

Dalam sebuah diskusi online/webinar berjudul "Bangkit Dari Pandemi dengan Literasi", kepala Perpustakaan Nasional, Muhammad Syarif Bando mengatakan Perpusnas sudah mulai melakukan proses digitilaisasi koleksi. Perpusnas juga membeli copyright dari pemilik koleksi agar tidak melanggar hak cipta. Pada sebuah webinar lainnya di Perpustakaan Kementerian Pertanian, disampaikan bahwa Perpustakaan Kementan juga sudah melakukan transformasi perpustakaan. 

Beberapa produk layanan di perpustakaan khusus tersebut juga sudah berbasis android/digital. Perpustakaan ini juga sudah siap dengan konsep virtual literasi "Go Virtual" agar semua produk perpustakaan dapat diakses 24 jam. 

Sambil menunggu konsep literasi virtual siap diluncurkan secara menyeluruh, perpustakaan mungkin bisa kerjasama dengan aplikasi tranportasi online seperti antar atau pinjam buku ke rumah pemustaka sehingga kebutuhan akan informasi masyarakat tetap dapat dipenuhi disaat pandemi COVID-19. 

Mungkin ini baru beberapa contoh keseriusan perpustakaan bersiap menghadapi revolusi 4.0, sebab melek digital sudah menjadi sebuah keniscayaan untuk saat ini. Momentum ini menjadi titik balik bagi perpustakaan dan juga pustakawan tentunya sebagai sumber daya pengelolanya. Bagaimana menjadikan "dunia dalam genggaman" itu benar-benar dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.   

Berdaya untuk Sejahtera

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun