Jefri Hidayat
Jefri Hidayat lainnya

domisili di Sumbar, lajang, 30 tahun. Twitter @jefrineger

Selanjutnya

Tutup

Politik featured highlight

Dilema Ahok dan FPI

14 November 2014   00:20 Diperbarui: 4 November 2016   15:11 7711 11 35

Berita di Media Tempo online cukup membuat kaget. Laporan berjudul “Rizieq : Dia Ajak Berunding. Kami Mau Ahok Turun.” Rizieq yang dimaksud tentu ketua FPI yang saat ini tengah berseteru dengan Plt Gubernur Dki Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama. Perseteruan tersebut terus meruncing lantaran dua kubu ini sering melontarkan pernyataan yang cukup panas. Provokasi media menambah hubungan kedua belah pihak berada di ujung tanduk.

Melihat kengototan dua kubu ini dan merasa sama-sama benar membuat kedua belah pihak sulit didamaikan. Tapi membaca pernyataan Rizieq yang dikutip dari laporan Tempo sepertinya Ahok, panggilan Basuki Tjahaya Purnama tengah mengupayakan jalan damai.

“Ahok itu goblok dan arogan. Dia mengajak kami berunding. Emang kita mau berunding? Kami mau Ahok turun,”kata Rizieq yang dilansir dari Tempo. Co. Namun, klaim Rizieq ini apakah sepihak atau tidak penulis kurang tahu. Sebab setelah dipantau dari berbagai media belum terdapat pernyataan Ahok yang menginginkan jalur perundingan.

Tapi sepertinya memang iya, sebab pada hari yang sama Ahok tengah berpidato di Rakerda MUI Jakarta. Dalam forum tersebut berulang kali Ahok menyampaikan permintaan maafnya kepada komunitas alim ulama tersebut khususnya, dan umat Islam pada umumnya. Bahkan Ahok meminta diminta tidak dimusuhi karena saat ini ia merasa dibenturkan oleh pihak tertentu dengan umat Islam.

Ahok pun menjelaskan isu-isu yang menyangkut dirinya yang selama ini berada dalam posisi terpojok dan diasumsikan sebagai musuh Islam. Seperti pelarangan pemotongan hewan kurban, pembongkaran masjid dan isu krusial lainnya yang membuat dia merasa dimusuhi oleh umat islam.

Jalur Diplomasi Adalah Cara Yang Efektif Untuk Mendamaikan Ahok dengan FPI.

Jika benar kubu Ahok ingin mengajak berunding tentu sangat bagus bagi situasi sosial politik Jakarta. Perseteruan dua kubu ini tentu membuat situasi Jakarta tidak tenang sehingga berdampak juga terhadap pembangunan. Apalagi yang diserang FPI adalah Ahok sendiri, kandidat pengganti Jokowi sebagai Gubernur.

Menurut saya keputusan Ahok yang merekomendasikan pembubaran FPI adalah blunder. Sebab, cara tersebut tidak akan meredam aksi-aksi FPI. Bahkan, FPI mendapatkan energi baru dan semakin militan dalam mengorganisir masa untuk menggulingkan Ahok. Andai pun dibubarkan FPI bisa saja berganti baju dengan memakai nama baru.

Serangan-serangan pun yang kini tengah ditujukan kepada FPI juga tidak akan membuat ormas Islam tersebut patah semangat. Sebab, doktrin dan idelisme yang mereka anut membuat FPI semakin yakin apa yang ia lakukan adalah benar, terlepas pendapat orang yang mengatakan bahwa FPI itu anrkis, sering berbuat onar dan biang kerusuhan.

Kekuatan FPI yang bertumpu pada proses kaderisasi itu membuat mereka bertahan dari berbagai gempuran media. Bahkan, meski mendapat protes disana-sini dalam demontrasi terakhir FPI berhasil mengumpulkan ribuan masa dan tidak tertutup kemungkinan pada demo selanjutnya masa FPI semakin banyak.

Kemenangan FPI adalah membawa isu agama. Jakarta memang Kota metropolitan tapi kaum Islam Konservatif masih banyak terdapat di pusat Ibukota tersebut. fakta tersebut dapat terlihat dalam perolehan suara PKS dan PP serta partai islam lainnya. Hal ini tidak bisa disepelekan oleh Ahok. Apalagi, yang tidak memilih Jokow-Ahok pada Pemilukada 2012 kemaren lebih dari 40 persen. Jangankan ribuan, andaikan FPI berhasil mengumpulkan 20 persen dari orang yang tidak menyukai mmemilih Ahok dapat dipastikan posisi bekas Bupati Babeltim itu berada diujung tanduk.

Ahok Jangan terpancing Media.

Menurut saya Ahok tidak usah terprovokasi oleh media-media yang berkembang selama ini. Sebab, haluan media nasional berseberangan dengan FPI sehingga media-media cendrung menyerang FPI. Saya lihat, Ahok ikut terprovokasi makanya keluar surat rekomendasi pembubaran ormas tersebut. saya yakin upaya Ahok ini tidak akan berhasil.

Cara yang baik bagi Ahok adalah meminta MUI memfasilitasi perdamaian tersebut. FPI tidak taku dengan peluru, pembubaran ataupun serangan beragam media. Tapi komunitas tersebut lebih menyegani para ulama. Dan Ahok menggunakan celah ini meredakan situasi yang semakin memanas. Ide tersebut cukup efektif apabila mengikuti wacana-wacana pembubaran yang tengah dikampanyekan media selama ini.

Andaikan pertemuan itu terlaksana Ahok tinggal menyampaikan rencana kerja pemerintah DKI di bidang keagamaan (Islam) yang menjadi program-program Ahok. Juga dijelaskan kepada mereka bahwa isu-isu yang berkembang selama ini tidak benar dan isu tersebut harus diklarifikasi sendiri oleh Ahok.

Isu-isu yang harus diklarifikasi adalah pelarangan takbir keliling, penjualan hewan kurban, pembongkaran salah satu masjid dan isu lainya yang dianggap FPI merupakan bentuk ketidksukaan Ahok pada Islam.

Jika pertemuan itu terjadi dan Ahok melakukan klarifikasi serta menjamin bahwa kedepan Pemerintah DKI akan lebih menyuarakan aspirasi umat islam yang selama ini memang telah diterapkan oleh Ahok tapi soal Takbir keliling yang merupakan tradisi lebaran kok dilarang. Sedangkan perayaan tahun baru dan ivent seremonial lainnya dibolehkan. Ini lah pangkal mulanya kalangan konservatif mulai tidak menyukai Ahok.

Sebagai pemimpin itu baiknya Ahok memperhatikan aspirasi semua masyarakat. Dan dalam persoalan ini sebaiknya Ahok menurunkan ego dan menempuh cara yang cukup cerdas. Kata orang api tidak bisa dilawan dengan api dan mengalah bukan untuk kalah. Mudah-mudahan sebagai negarawan Ahok dapat mengambil sebuah keputusan yang cukup bijak. Jika tetap mengikuti nafsu amarah seperti saat ini maka Ahok karir Ahok akan tamat di Jakarta apalagi hubungan Ahok dengan legislatif juga cukup buruk.