Mohon tunggu...
Agung MSG
Agung MSG Mohon Tunggu... Wiraswasta - Selalu saja ada satu cara yang lebih baik, dan lebih baik lagi dengan berbagi

Hidup untuk mengasihi, menyayangi, berbagi, dan berkarya mulia. @agungmsg #haiedumain

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Curang, Kecurangan dan Kepemimpinan: Mengurai Dilema Moral

21 Maret 2024   14:30 Diperbarui: 21 Maret 2024   14:30 51
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pemimpin harus membawa kebaikan, bila tidak itu akan mengundang kekacauan | Image: ideogram

"Kepemimpinan yang sesungguhnya bukanlah tentang kekuasaan, melainkan tentang integritas dan keadilan."

Curang, sebuah kata yang mencerminkan pengkhianatan terhadap keadilan, ketauhidan, dan keimanan. Lebih dari sekadar perbuatan tidak jujur, curang menandai ketidaklurusan hati dan ketidakadilan dalam tindakan.

Dalam konteks kepemimpinan, curang bukan hanya menghancurkan kepercayaan, tetapi juga mencederai fondasi moral sebuah bangsa.

Ketika kita memandang kecurangan dalam hubungan, itu adalah pelanggaran terhadap kesetiaan yang dijanjikan. Begitu pula dalam urusan jual beli, di mana kecurangan menciptakan ketidakadilan dalam urusan harta benda. Namun, curang juga merayap dalam hati manusia, menyebabkan ketergantungan dan ketidakbertanggungjawaban.

Penyebab curang bermacam-macam. Mulai dari faktor bawaan lahir hingga tekanan ekonomi dan pengaruh lingkungan. Namun, di balik alasan-alasan tersebut, terselip ambisi toksik dan obsesi akan kesempurnaan yang memicu perilaku curang. Dalam konteks kepemimpinan, tekanan politik dan sosial sering menjadi katalis untuk tindakan curang.

Tanda-tanda kecurangan tidak selalu terlihat jelas, tetapi keterbatasan kemampuan, manipulasi informasi, dan penipuan adalah beberapa indikator yang dapat dideteksi. Namun, dampak dari tindakan curang jauh lebih luas, menghilangkan keberkahan, melemahkan kepercayaan, dan menciptakan kerugian dalam semua aspek kehidupan masyarakat.

Ketika pemimpin terlibat dalam kecurangan, kerugian yang ditimbulkan bukan hanya terbatas pada keuangan atau hukum, tetapi juga mencakup kerugian moral, sosial, dan politik. Percayaan publik terhadap pemerintah terkikis, dan fondasi moral masyarakat tergoncang.

Korupsi, sebagai bentuk ekstrem dari kecurangan, melibatkan penyalahgunaan kekuasaan dan uang demi kepentingan pribadi. Akibatnya, kerugian yang ditimbulkan meliputi kerugian finansial negara, kerugian kepercayaan, dan kerugian moral yang mendalam.

Kepemimpinan yang kuat bukan hanya tentang kekuasaan, tetapi juga tentang integritas dan keadilan. Hanya dengan menanamkan nilai-nilai moral dan mengutamakan kepentingan bersama, kita dapat menghindari jebakan kecurangan dan membangun masyarakat yang adil dan bermartabat. Sebuah kepemimpinan yang membawa berkah, kepercayaan, dan peeubahan, bukan kecurangan dan kerugian.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun