Mohon tunggu...
Dany Novery
Dany Novery Mohon Tunggu... -

sedang menyelesaikan Study di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. email: danynovery@yahoo.co.id

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Dibawah Menara Fathimiah: (Part 2)

30 Januari 2017   17:58 Diperbarui: 30 Januari 2017   19:09 248
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Novel. Sumber ilustrasi: PEXELS/Fotografierende

Surga Kecil Indonesia

“Barang siapa bersungguh-sungguh dijalan-Nya, pasti diberi jalan”

Seorang pemuda memanggil kami dengan suara parau. Reaksi alamiah dari sosok yang belum percaya bahwa kami tiba dibandara Internasional Cairo. Wajah merahnya memudar, semburat wajah lega yang baru saja lolos dari malapetaka. Bagaimanapun hidup pemuda separuh cina itu telah diperjudikan andai aku dan Ayash tidak selamat sampai di Cairo. Dialah pencetus ide gila ini. Bang Ilyas.

Ia memeluk kami. Tak lama kemudian datanglah taksi hitam dengan sopir Arab bertubuh samadengan tiga badan kami. Gempal.

“Izzayak[1]!”Ucapnya ramah. Al-Hamdulillah!”  Jawab bang Ilyas.

Tujuan kami adalah Hay el-Asir. Salah satu distrik primadona yang menjadi tempat tinggal mahasiswa Indonesia.

Langit Cairo tampak bersih. Tiada pemandangan yang bisa ditangkap  selain gurun tandus membentang luas dengan udara panas kerontang. Hanya satu-dua puhon zaitun kering dengan sekumpulan burung bertengger kehausan pada tangkainya. Mereka terbang kesana kemari mencari tempat teduh dari ganasnya neraka dunia, atau sekedar genangan air dari sisa pembangunan Imarah[2]. Ketika badai pasir datang mereka menyusun barisan migrasi yang siap terbang kemanapun mencari perlindungan. Kodrat alam yang harus dijalani mahluk mungil setelah ditakdirkan hidup dinegri yang mengalami badai pasir setiap tahunya.

Taksi mengambil rute Zahra dengan alasan tak zahmah atau macet. Sebagai ibukota, Cairo sama halnya dengan Jakarta. Kemacetan adalah masalah klasik yang diselesaikan dengan jalan buntu. Uniknya lalulintas disini sangat rumit untuk diingat. Lampu merah bisa bertanda apa saja. Menyalip, berhenti, atau kebut-kebutan. Polisi lalu lintas tidak punya pekerjaan tetap.

Hay El-Asyir atau tenth district,tempat yang kami tuju merupakan pemukiman padat penduduk yang terletak di Madinat Nasr. Berdekatan dengan Heliopolis atau New Cairo. Heliopolis sendiri merupakan kota peradaban kuno yang dijuluki Kota Matahari pada zaman dulu. Namun karena umur peradabanya yang tak lama, nama ini tetap dikenang oleh Mesir dan dijadikan nama kota hingga hari ini. Hay El-Asyir  berjarak sekitar setengah jam dari Sungai Nil, Tahrir Square, dan lima jam dari kota peninggalan Eropa; Alexandria.

Lebih dari sekedar pemukiman. Hay El-Asyir adalah penjelmaan dari  surga kecil yang menampung hajat hidup ratusan warga Indonesia. Membangun mimpi, menyambung hidup, juga mencari sesuap nasi bagi mereka yang memilih jalan hidup radikal dengan tidak ingin menyusahkan orangtua; bekerja pada restoran dengan segunung piring kotor demi ongkos kuliyah mingguan, atau pekerja part time sebagai tukang sapu vila dengan gaji yang cukup membayar makan namun tidak untuk membeli kitab kuliyah. Sebagian lainya ada yang bekerja disekolah Turki sebagai juru masak mingguan, atau sebulan penuh diliburan musim penas dengan menjaga kucing milik majikan Mesir.

Semua hanya demi  Kuliyah dan bertahan hidup di Mesir.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun