Rizal Amri
Rizal Amri

Pengamat barang kerajinan dan rajin mengamati peristiwa politik

Selanjutnya

Tutup

Manajemen

Hebat, Pertamina Hemat, Harga BBM Tetap (yang lain naik)

29 Mei 2015   13:04 Diperbarui: 17 Juni 2015   06:29 106 0 1

Dua SPBU asing, yakni Shell dan Total menaikkan harga jual bahan bakar minyak produknya sejak hari Rabu (27/5/2015). Langkah Shell diikuti SPBU Total yang sejak kemarin juga menaikkan harga BBM-nya. SPBU Shell menaikkan harga per liter BBM jenis Super menjadi Rp 9.100, dari sebelumnya Rp 8.950, V-Power Rp 10.300, naik dari Rp 10.150 dan Diesel Rp 11.800, naik dari Rp 11.550. Sementara itu SPBU Total mamatok harga BBM jenis Performance 92 Rp 9.100/liter, Performance 95 Rp 10.300/liter dan Performance Diesel Rp 11.800/liter.

Kenaikan harga BBM kurang lebih 2 persen tersebut diduga mengikuti harga minyak di pasaran dunia yang juga sedikit naik. Minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli, naik 17 sen menjadi ditutup pada 57,68 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. Minyak mentah Brent North Sea untuk penyerahan Juli, ditutup pada US$62,58 per barel di perdagangan London, naik 52 sen.

Pertamina sampai hari ini masih tetap menjual BBM-nya dengan harga lama, yakni: Pertamax Rp 8.800/liter, Pertamax Plus Rp 10.050/liter dan Pertamax Dex Rp 11.900/liter. Sebenarnya Pertamina sempat berencana menaikkan harga produknya pada hari Kamis pekan lalu (14/5/2015), namun secara mendadak dibatalkan. Saat itu, Pertamina ingin menaikkan harga Pertamax dari Rp 8.800/liter menjadi Rp 9.600/liter.

Bertahannya Pertamina dengan harga lama, diduga terkait dengan hasil penghematan  setelah anak perusahaannya PT Pertamina Energy Trading Limited (Petral), dibubarkan.  Pemerintah mengumumkan pembubaran Petral pada hari Rabu dua pekan yang lalu (13/5/2015). Kemudian, sebagaimana dilansir oleh salah satu media, tanpa Petral, Pertamina berhasil menghemat pengeluaran sebesar Rp.250 milyar per hari (Di sini).

Jika benar Pertamina hemat sebesar Rp. 250 milyar per hari atau sebesar 15 persen dari nilai transaksi Pertamina yang besarnya Rp. 1.7 triliyun per hari itu, memang sepantasnya harga BBM tidak naik. Tidak ada alasan pula bagi Pertamina untuk menaikan harga, mengingat harga minyak dunia naik tidak signifikan, kurang dari 1 persen.

Ketua Komisi VII DPR Kardaya Warnika malah manilai harga BBM semestinya turun usai pembubaran Petral, mengingat penghematan Pertamina yang dikabarkan sangat fantastis itu.

“Kalau ada inefisiensi di Petral kan mengakibatkan biaya pengadaan tinggi. Sekarang Petral dibubarkan, berarti harapan rakyat kalau dibubarkan itu berarti biaya pengadaannya turun kan. Kalau biaya pengadaannya turun, BBM harganya turun,” ujar Kardaya di Jakarta.

Kardaya mendesak pemerintah untuk segera menurunkan harga BBM. Dia menganggap, jika penghematan itu tidak dibarengi penurunan harga BBM, maka tidak ada artinya. Yang terpenting bagi rakyat adalah dampak langsung yang bisa dirasakan.

“Sekarang ya jangan dulu ditepuk tanganin dong, kalau berkat dibubarkannya Petral maka harga BBM turun itu baru kita tepuk tangan,” sindir Kardaya.

Walaupun hemat 15 persen dan tidak menurunkan harga BBM, setidaknya publik boleh bernafas lega karena Pertamina masih menjual dengan harga lama. Jika Pertamina ikut-ikutan menaikkan harga BBM, berarti klaim penghematan yang fantastis tersebut adalah berita bohong. Untuk kebohongan tersebut, jangan-jangan pemerintah saat ini malah memberikan subsidi untuk Pertamax yang banyak dipakai mobil-mobil mewah itu.