Mohon tunggu...
Wuri Handoko
Wuri Handoko Mohon Tunggu... Administrasi - Peneliti dan Penikmat Kopi

Arkeolog, Peneliti, Belajar Menulis Fiksi

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Kedaulatan Pangan Berada di Tangan Petani Milenial

7 November 2021   20:52 Diperbarui: 8 November 2021   07:30 1094
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Data impor beras berdasarkan asal negara dan jumlah dalam hitungan ton (2011-2020). Sumber: BPS
Data impor beras berdasarkan asal negara dan jumlah dalam hitungan ton (2011-2020). Sumber: BPS

Berdasarkan tabel di atas, suka tidak suka, kita harus mengatakan bahwa ketergantungan impor pangan Indonesia dari negara lain masih sangat tinggi. Oleh karena itu, dalam kondisi kekinian, dibutuhkan inovasi dalam hal sektor pertanian, khususnya sektor pangan. 

Bagaimanapun, jaminan atas kedaulatan pangan saat ini ada pada pundak generasi penerus bangsa, yang akan melanjutkan cita-cita Indonesia berkedaulatan pangan. Indonesia yang berswasembada pangan, sebagaimana yang pernah kita lalui pada era beberapa dasawarsa lalu. 

Jika menengok sejarah pangan dan juga perjalanan peradaban yang telah lampau, Nusantara sebagaimana yang sudah saya ulas secara singkat di awal, memiliki sejarah panjang ketahanan dan kedaulatan pangan. 

Sejarah memberi pelajaran berharga, menjadi pengalaman penting dalam proses berkedaulatan pangan. Dalam konteks kekinian, kedaulatan pangan perlu dicarikan solusi dan inovasi baru di sektor pertanian, khususnya sektor pangan. 

Berkaca pada jejak peradaban masa lalu, Nusantara yang berketahanan pangan, maka berbagai inovasi baik dalam instrumen teknologi pertanian, regulasi pertanian, dan juga berbagai kearifan lokal perlu dikonstruksikan kembali dalam kerangka masa kini dan masa depan.

Para generasi muda milenial, para petani milenial adalah harapan di masa depan. Generasi petani milenial, yang cerdas, yang memahami sejarah peradaban pangan nusantara, mampu menarik pelajaran penting dari masa lampau, kemudian mengadaptasikan di masa kini. 

Para petani milenial, dapat dengan cerdas dan kritis melihat peluang di sektor pertanian yang lebih maju. Secara inovatif, mengembangkan lahan-lahan tidur tidak produktif di berbagai wilayah di Indonesia, untuk dibudidayakan kembali. 

Sambil pula oleh pemerintah mendapat dukungan secara regulatif, misalnya membatasi alih fungsi lahan pertanian, untuk kegiatan atau pembangunan yang tidak berpihak kepada sektor publik. 

Dengan mata kepala kita sendiri, kita saat ini dihadapkan pada kondisi pembangunan properti yang terus berkembang, namun banyak kali kita melihat, pembangunan perumahan yang menggusur sawah. Lahan-lahan sawah menjadi menyempit. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun