Mohon tunggu...
Wuri Handoko
Wuri Handoko Mohon Tunggu... Penikmat Kopi dan Belajar Menulis

Arkeolog, Peneliti, Penikmat Kopi, Pecandu Senja, Pencinta Telaga, Belajar Menulis

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Kepulauan Talaud, Merawat Keindonesiaan di Pulau Terluar

31 Juli 2020   16:35 Diperbarui: 2 Agustus 2020   13:21 385 25 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kepulauan Talaud, Merawat Keindonesiaan di Pulau Terluar
Nyiur Melambai, di sebuah pantai di Pulau Buida, Kepulauan Talaud. Sumber: Balai Arkeologi Sulut

Orang Talaud yang jauh berada di pulau terpencil di wilayah perbatasan dengan wilayah Filipina itu, sangat bersahaja. Seorang Indonesia tulen dan cinta tanah airnya, cinta pulau dan segala kekayaannya, juga sangat mencintai budayanya. Saya dapat melihat dan belajar langsung bagaimana Orang Talaud merawat budayanya, jati dirinya, merawat Keindonesiaannya.

Suatu saat, saya yang baru setahun bertugas di Manado, diundang oleh organisasi dewan adat, Pantua Adat Banua, untuk menyampaikan hasil-hasil penelitian arikeologi, warisan budaya di Talaud. 

Sebagai orang yang baru bekerja di wilayah Sulawesi Utara, tentu saja saya minim pengetahuan tentang Sulawesi Utara, apatah lagi tentang Talaud. Namun kesempatan itu membuat saya banyak belajar. 

Pertemuan dengan Pantua Adat Banua, Dewat Adat Kep. Talaud. Sumber: Dok Pribadi/Balar Sulut
Pertemuan dengan Pantua Adat Banua, Dewat Adat Kep. Talaud. Sumber: Dok Pribadi/Balar Sulut
Lembar demi lembar laporan penelitian arkeologi di wilayah Talaud, yang disiapkan oleh senior peneliti Ipak Fahriani, saya pelajari. Sambil tentu saja saya menganalisa, aspek-aspek kebudayaan Talaud lainnya, yang perlu saya kaji lebih dalam lagi, jika memungkinkan. Juga, memperlajari berbagai artikel imiah arkeologi, yang menyinggung soal Talaud.

Namun, kedatangan saya ke Talaud, tentu saja bukan hanya menyampaikan materi tentang potensi warisan budaya Orang Talaud. Sebaliknya, justru saya banyak belajar dari mereka. Budaya mereka, kesahajaan mereka dan cara mereka merawat rasa cinta dan kepedulian terhadap budayanya. 

Saya memahami sungguh, melihat Talaud dari seluruh penjuru nusantara, maka yang terlihat adalah pulau nun jauh di utara Pulau Sulawesi, atau di sebelah utara Sulawesi Utara yang ratusan kilometer jaraknya. 

Meskipun jauhnya jarak, bukan lagi halangan, mengingat moda transportasi laut dan udara tersedia setiap harinya. Namun cara masyarakatnya memahami dirinya sebagai bagian dari Keindonesiaan, adalah pelajaran yang sangat penting bagi saya sendiri.

Kabupaten Kepulauan Talaud terdiri dari 19 (Sembilan belas) kecamatan, dimana kecamatan terluas adalah Kecamatan Beo Utara (144.85KM2) dan kecamatan terkecil adalah Kecamatan Miangas (2.39KM2). 

Kabupaten Kepulauan Talaud merupakan pemekaran dari Kabupaten Kepulauan Sangihe (pada saat itu masih Kabupaten Kepulauan Sangihe Talaud), berdasarkan Undang-Undang No.8 Tahun 2002. Sebagai daerah kepulauan, Kabupaten Kepulauan Talaud merupakan daerah bahari dengan luas lautnya sekitar 37800 km2 dan luas wilayah daratan 1251.02 Km2.

Situs Gua Buide, Pulau Melonguane, Kep. Talaud. Sumber: Balar Sulut
Situs Gua Buide, Pulau Melonguane, Kep. Talaud. Sumber: Balar Sulut
Kita tahu, mungkin setiap harinya, hubungan antara orang-orang Talaud, dengan orang Filipina bagian selatan, setiap harinya dapat saja terjalin. Bahkan konon, banyak pula komoditi barang dari Filipina, dengan mudah masuk ke wilayah Talaud. 

Saya menjumpai, beberapa kenyataan, bahwa beberapa minuman beralkohol, dengan lebel made in Filipina, bisa dijumpai dengan mudah disana. Meski demikian, semua itu sama sekali tidak mempengaruhi cara Orang Talaud memahami dirinya, memahami budayanya, bahwa masyarakat Kepulauan Talaud adalah bagian satu kesatuan dari Indonesia, yang beribukota di Jakarta, yang berjarak ribuan kilometer dari Talaud.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x