Mohon tunggu...
Raden Muhammad Wisnu Permana
Raden Muhammad Wisnu Permana Mohon Tunggu... Lainnya - Akun resmi Raden Muhammad Wisnu Permana

Akun resmi Raden Muhammad Wisnu Permana

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Martabak Manis, Kamu Jahat Tapi Enak!

29 Januari 2022   15:31 Diperbarui: 29 Januari 2022   15:40 160 5 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilustrasi martabak manis(Shutterstock/Rizvisual)

Martabak manis merupakan sejenis kue atau roti isi yang biasa dimakan di saat santai sebagai makanan ringan. Gak cuma disajikan sebagai makanan ringan, martabak manis sering digunakan banyak orang sebagai bentuk oleh-oleh ketika bertamu ke rumah seseorang, terutama rumah calon mertua. Sejak kecil, saya sering mendengar jokes yang bilang, "Kalau mau apel (kencan) ke rumah pacar, pastikan bawa martabak untuk bapaknya biar kamu direstui pacaran!"

Membawa martabak manis buat calon meruta seolah jadi budaya tersendiri karena saya sering menyaksikan banyak teman saya yang membawakan martabak manis untuk calon mertuanya di malam minggu sebelum mengajak anak gadis mereka jalan-jalan. Martabak manis seolah-olah jadi "bayaran" yang harus dibayar seorang lelaki supaya anak gadisnya diizinkan buat diajak jalan-jalan di malam minggu.

Sungguh, menikmati martabak manis yang dilengkapi secangkir kopi susu atau teh hangat adalah nikmat dunia yang sesungguhnya. Apalagi ditemani tontonan kesukaan kita di malam minggu seperti siaran langsung Liga Inggris maupun nonton Netflix. Tapi tahukah kamu, martabak manis adalah penjahat? Di balik kehangatannya, martabak manis menyimpan bahaya buat tubuh kalian dan tubuh calon mertua kalian, lho?

Jadi begini, satu potong martabak manis kandungan kalorinya adalah sekitar 300 kalori. Maka, satu loyang/satu dus martabak manis dengan isi 10 potong kandungan kalorinya adalah sekitar 3000 kalori. Jumlah kalori yang saya sebutkan bisa saja lebih banyak jika martabak manis tersebut diberi toping tambahan seperti selai strawberry, kacang-kacangan, hingga keju. Membayangkannya saja sudah bikin seram, karena kebutuhan kalori harian rata-rata orang dewasa adalah sekitar 2000 s/d 2500 kalori saja.

Kenapa saya sebut jahat? Untuk membakar 300 kalori, kita harus berolahraga setidaknya selama tiga puluh menit dalam bentuk lari santai sejauh lima kilometer. Bakar 300 kalori itu susahnya bukan main, harus lari sejauh lima kilometer dalam waktu setengah jam, sedangkan untuk mengkonsumsi 300 kalori, gak sampai satu menit dalam bentuk satu potong martabak manis. Bayangkan kalau martabak manis yang kamu atau calon mertuamu konsumsi sebanyak setengah loyang atau satu loyang seorang diri, harus lari berapa kilometer untuk membakar itu semua?

Kelebihan kalori dengan banyak mengkonsumsi martabak manis seperti yang saya sebutkan bisa memicu penumpukan lemak pada tubuh yang bisa menyebabkan obesitas. Obesitas bukanlah akhir dari segalanya, tapi awal dari segala jenis penyakit degeneratif seperti penyumbatan pembuluh darah, penyakit jantung, hingga diabetes. Apalagi kalau kalian banyak mengkonsumsi martabak manis setiap hari dalam jumlah yang banyak selama bertahun-tahun dibarengi dengan pola makan tinggi karbohidrat seperti pola makan masyarakat Indonesia pada umumnya. Bisa fatal!

Hal tersebut diperparah dengan semakin magernya masyarakat Indonesia untuk beraktivitas fisik mulai dari berjalan kaki, bersepeda, maupun bela-belain meluangkan waktu buat olahraga di gym atau jogging di pagi hari sehingga kalori berlebih yang kita dapatkan dari konsumsi martabak manis tersebut menumpuk jadi lemak karena gak dibakar tubuh sama sekali. Niatan makan martabak sebagai self healing malah jadi self harming kan? Niatan martabak manis buat bikin bahagia calon mertua, malah memicu penyakit buat mereka.

Jadi, yang jahat itu bukan cuma alkohol doang seperti penggalan lirik yang dibawakan Sisitipsi, "Alhokol kamu jahat tapi enak", martabak manis juga sama jahatnya. Saya gak melarang kalian buat makan martabak manis atau melarang kalian buat membawakan martabak manis untuk kerabat, calon mertua, atau buat konsumsi pribadi. Makan martabak manis boleh-boleh saja, asal jangan ngabisin satu loyang seorang diri dengan alasan self healing.

Yang ada, itu masuknya self harming! Kalau sudah selesai makan martabak, ya sadar diri jangan dibarengi dengan minum teh manis maupun minuman lainnya, nanti kamu bisa diabetes, lho. Terakhir, jangan lupa, kalau sebelum atau sesudah makan martabak manis, setidaknya olahraga gitu lho biar setidaknya, kalori tinggi yang barus aja kamu konsumsi gak menumpuk jadi lemak.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Kesehatan Selengkapnya
Lihat Kesehatan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan