Mohon tunggu...
Wikan Widyastari
Wikan Widyastari Mohon Tunggu... A proud mom of 3

Ibu biasa yang bangga dengan 3 anaknya. Suka membaca, menulis,nonton film, berkebun.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Bencilah Ayahmu karena Dia Layak untuk Kau Benci

24 Oktober 2020   06:30 Diperbarui: 24 Oktober 2020   06:58 42 3 1 Mohon Tunggu...

Hujan masih menyisakan basah di halaman rumahku pagi itu.Pucuk-pucuk daun berkilau tertimpa matahari pagi yang muncul dengan malu-malu. Semalu Arissa, yang tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu pagar rumahku. 

"Selamat pagi, tante, boleh saya masuk?" Anak ini akhir-akhir ini memang suka berkunjung ke rumahku. Kadang hanya sekedar ngendon di ruang perpustakaan rumah kami, sambil membaca buku yang tersedia di sana. Kadang dia membantuku bersih-bersih rumah, jika memang ada yang harus dibersihkan, tak jarang aku mengajaknya makan, kalau saatnya makan siang dan dia belum ingin pulang.

Arissa, selalu kuterima dengan tangan terbuka di rumahku. Kehadirannya tak pernah mengganggu. Malah kalau tak ada yang dikerjakan untuk membantuku, aku suka lupa bahwa dia masih ada di perpustakaan. Perpustakaan  rumahku memang nyaman. 

Banyak buku tersedia di sana, mulai dari fiksi sampi yang lebih serius. Dan Arissa suka sekali membaca koleksi buka karangan Enid Blyton yang sudah kukoleksi sejak aku SMP, dan masih ada sampai sekarang. Kadang dia bahkan bisa seharian di rumahku. Dari pagi sampai sore.. Apalagi di masa pandemi ini. Kadang dia bisa seharian menggunakan wifi di rumahku untuk mengikuti PJJ sekolahnya.

Pagi ini  ku rasa, dia tak sekedar ingin menyepi dan membaca buku di rumahku, karena kulihat matanya sembab. Jadi ku ajak dia masuk dan kubuatkan teh  dan kusuguhi pisang goreng yang masih hangat. Lalu kutunggu sampai dia selesai minum dan makan. Kami hanya duduk diam, dan aku mencoba untuk tidak bertanya. 

Aku cukup tahu betapa kacau keluarganya. Ayah dan Ibunya sudah lama bercerai. Mereka sudah tidak tinggal serumah. Tapi ayahnya masih suka mengatur-ngatur ibunya. Mencampuri urusannya, mengganggu hidupnya. mencemburuinya, bahkan memukuli ibunya jika mereka bertengkar. Tak peduli dijalan, di depan banyak orang. 

Kalau ayahnya marah, dia akan mengirim wa ke semua kontak ibunya berisi foto ibunya yang sudah ditulis kalimat tak senonoh yang merendahkan mantan istrinya. Kadang saya berpikir, orang ini sudah memperlakukan ibu dari anak-anaknya sendiri seperti sampah. Seperti budak yang harus menuruti apa maunya. Memukulinya jika tidak menurut, bahkan untuk alasan yang lebih sering tak masuk akal. 

Tapi yang bikin kesal, si istri ini mau aja diperlakukan seperti itu. Tetap aja dia menemui suaminya dna bahkan tetap melakukan hubungan suami istri. Kalau lagi berantem nangis-nangis lalu pergi sembunyi beberapa hari, sampai anak-anaknya bingung mencarinya. Habis reda lupa lagi, akur lagi kumpul lagi, lalu bernatem lagi, dipukuli lagi, begitu terus nggak berhenti-henti. 

Sudah banyak yang menasehati agar dia berhenti menemui mantan suaminya dan memulai hidup baru demi anak-anaknya. Namun tak satupun nasehat  itu dia gubris. Kalau ditanya apa nggak malu, dipukuli di jalan, di depan banyak orang. Dia malah jawab"" Sudah biasa". Huh...aku sampai tak tahu lagi harus bicara apa.

Jadi, ya, kalau sekarang dihadapanku  ada anak remaja yang baru gede datang dengan muka kusut dan mata sembab, aku menyiapkan diri untuk menjadi pendengar. Mendengar keluh kesahnya dan berempathy padanya. Rupanya, semalam ketika diajak ibunya ke rumah ayahnya, dia harus melihat ayah ibunya bertengkar lagi dan melihat ayahnya memukuli ibunya sampai babak belur. 

Teriakkannya tak digubris dan malah dia juga menjadi sasaran pukulan ayahnya. Hatinya sakit tak tertahan. dan malu luar biasa pada tetangga yang datang merubung. Dia merasa seperti tak ada harganya lagi. Menjadi anak yang terbuang dan tak dinginkan. Anak perempuan, yang seharusnya bisa dengan bangga berkata kepada kawan-kawannya. Ayahku cinta pertamaku. Kelak aku ingin punya suami sebaik dan se keren ayahku.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN