Mohon tunggu...
Widi Kurniawan
Widi Kurniawan Mohon Tunggu... Pegawai

Pengguna angkutan umum yang baik dan benar.

Selanjutnya

Tutup

Transportasi Artikel Utama

Halte Transjakarta Dibakar, Stasiun MRT Dirusak, Terlalu!

8 Oktober 2020   21:25 Diperbarui: 9 Oktober 2020   16:09 756 28 11 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Halte Transjakarta Dibakar, Stasiun MRT Dirusak, Terlalu!
Suasana Halte Transjakarta Bundaran HI yang terbakar di Jalan M.H Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (8/10/2020)(KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG)

Jakarta memanas pada Kamis, 8 Oktober 2020. Hal ini dipicu aksi beberapa elemen masyarakat, terutama pelajar, mahasiswa dan buruh, yang melakukan aksi turun ke jalan untuk menolak Undang-undang Cipta Kerja.

Saya tidak hendak mengomentari tentang kontroversi Undang-undang Cipta Kerja, yang sudah banyak sekali dibahas, baik secara kritis akademis maupun secara kasar disertai caci maki. Saya justru akan menyoroti kekhawatiran awal saya yang kemudian terbukti, bahwa aksi demo bakal berujung pada tindakan anarkis.

Sore hari, sekitar pukul 16.00 WIB, saya keluar dari tempat saya bekerja. Sebagai pekerja rendahan, saya memang tidak ikut-ikutan demo, dan masih bekerja di hari ini. Sama halnya dengan banyak pekerja lainnya.

Seperti biasa saya menggunakan transportasi umum MRT Jakarta terlebih dahulu untuk menuju Bundaran Senayan, tempat di mana saya biasa menunggu bus PPD untuk menuju ke Cibinong. 

Saat masuk stasiun MRT, petugas menanyakan tujuan saya dan memberitahukan bahwa MRT hanya jalan sampai Stasiun Dukuh Atas karena situasi demo yang makin memanas.

Sesampainya di halte bus Bundaran Senayan, saya membaca gelagat tidak mengenakkan ketika raut muka gelisah terlihat di wajah-wajah calon penumpang, bahkan calo bus yang biasa membantu menaikkan penumpang.

"Nggak tahu ini Bang, cuma ini saja yang jam segini baru kelihatan," ujar si calo itu menjawab pertanyaan saya sembari menunjuk ke arah sebuah bus berwarna biru tujuan Bekasi.

Biasanya di halte tersebut, bus-bus andalan para pekerja dari Bekasi, Cikarang hingga Bogor selalu datang dan berangkat tepat waktu. Tapi demo membuat para calon penumpang yang notabene para pekerja yang tak memiliki kendaraan pribadi, menjadi panik karena terancam tak bisa pulang.

Ah, sempat saya berpikir tak apalah, sesekali ini karena ada sesuatu lebih besar yang tengah diperjuangkan demi kesejahteraan buruh.

Tapi pemikiran itu kemudian saya tarik lagi perlahan-lahan ketika melihat satu per satu orang yang menunggu di halte tersebut. Beberapa di antaranya saya perkirakan telah berumur di atas 50 tahun. 

Betapa di balik sosok terlihat ringkih serta beruban tersebut, saya bisa melihat gambaran bahwa selama berpuluh tahun mereka bekerja dan tetap naik angkutan umum hingga menjelang masa tuanya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x