Mohon tunggu...
Wati Herawati
Wati Herawati Mohon Tunggu... Guru - Mengajar di SMP Bunga Bangsa dan SMP Mutiara 1 Bandung. Aktif menulis di Majalah Pendidikan Kota Bandung (Majalah Geliat Gemilang), Menulis Kumpulan Puisi Guru SMP Bunga Bangsa, dan Menulis Novel Riak-riak Renjana.

Hobi jalan-jalan ke tempat yang indah bernuansa alam dan menulis apapun yang sedang terpikirkan saat itu. Bahkan pernah ada yang bilang sedang menulis cerpen padahal balas chat hehehe...

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Pilihan

Tips "On Time" ala Jepang

25 Agustus 2021   08:47 Diperbarui: 11 September 2021   10:36 205 3 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Tips "On Time" ala Jepang
finansialku.com

Management waktu sulit dilakukan jika kita tidak memiliki komitmen. Di Indonesia masih banyak yang belum disiplin waktu. Beda dengan negara Jepang. Orang Indonesia bisa terlambat dalam hitungan jam. Mereka tidak merasa bersalah dan sudah dianggap biasa. 

Sedangkan orang Jepang baru dua tiga menit saja terlambat. Mereka merasa bersalah dan dihujat dianggap tidak punya sopan santun. Mengapa bisa begitu? Nah, jika kita ingin seperti Jepang. Maka berikut ada tips on time ala Jepang.

Pertama, sebelum mendisiplinkan orang lain kita harus disiplin. Jika negara Indonesia ingin seperti negara Jepang maka orang yang memberikan kebijakan, memberi aturan, atau memberikan perintah harus disiplin. Contohnya Jepang sebelum Restorasi Meiji orang Jepang justru orang yang dianggap paling tidak disiplin waktu. 

Tapi, Era Meiji mengakhiri era samurai di Jepang dan banyak Samurai (militer pada zaman itu) beralih profesi menjadi guru karena sistem shogun (sistem feodal dimana tuan tanah yang mempekerjakan Samurai memegang kendali) telah dilarang. Karena peristiwa tersebut maka guru-guru Jepang rata-rata mantan militer. 

Tidak diragukan lagi kedisiplinan mereka. Termasuk disiplin waktu. Arahan dari Menteri Pendidikan Jepang mengharuskan siswa datang 10 menit sebelum pelajaran dimulai setiap harinya. Jika tidak mereka akan menerima hukuman atas keterlambatan dari guru mereka yang mantan samurai. Hal tersebut membantu mengajarkan ketepatan waktu pada generasi baru.

Kedua, adanya ketegasan dalam menjalankan aturan. Tidak membeda-bedakan antara yang satu dengan yang lain. Misalkan si kaya dengan si miskin atau pejabat dengan rakyat biasa. Jika ada yang salah siapapun tetap harus diberikan sangsi yang sama tanpa pandang bulu. 

Contohnya di Jepang ketika Menteri Penanggung Jawab Olimpiade, Yoshitaka Sakurada terlambat tiga menit dalam sebuah rapat parlemen. Menteri tersebut didesak untuk meminta maaf kepada seluruh masyarakat Jepang. Bahkan diminta untuk mengundurkan diri. Bukan hanya itu tapi semua yang tidak tepat waktu. Seperti tokoh publik, layanan publik, pegawai perkantoran, dan institusi-institusi di Jepang sangat mencela keterlambatan.

Ketiga, disiplin waktu harus ditanamkan sejak dini. Untuk selalu disiplin waktu tidak mudah. Harus sejak dini dibiasakan dalam lingkungan keluarga. Jika sudah dibiasakan setiap hari. Maka mereka akan terbiasa tepat waktu di sekolah atau dimanapun mereka berada. Sama halnya di Jepang  karena tepat waktu sudah tertanam sejak masa sekolah. Hal tersebut terbawa hingga dunia kerja.

Keempat, menumbuhkan rasa bersalah jika terlambat. Contoh di Indonesia misalkan pejabat datang terlambat. Apakah dia tidak merasa bersalah pada orang yang telah lama menunggu? Apakah waktu tidak akan terbuang sia-sia? Apakah agenda akan berjalan dengan lancar? Ketepatan waktu adalah hal yang sangat penting bagi orang Jepang. Ketepatan waktu dianggap sebagai salah satu patokan sopan santun. Selain itu

ketepatan waktu berpengaruh terhadap perekonomian. Keterlambatan menyebabkan pekerja menjadi kurang produktif di tempat kerja dan hal tersebut menghambat pencapaian perusahaan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan