Mohon tunggu...
Hendra Wardhana
Hendra Wardhana Mohon Tunggu... soulmateKAHITNA

Anggrek Indonesia & KAHITNA | Kompasiana Award 2014 Kategori Berita | www.hendrawardhana.com | wardhana.hendra@yahoo.com | @_hendrawardhana

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Pilihan

Meneropong "Orkestra Borobudur" pada Masa Lampau

11 Mei 2021   20:15 Diperbarui: 11 Mei 2021   20:24 573 8 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Meneropong "Orkestra Borobudur" pada Masa Lampau
Representasi alat-alat musik di relief Candi Borobudur |screenshot www.youtube.com/watch?v=1c9aCENDesI.

Musik Indonesia dalam konteks nasional bisa dikatakan masih berusia muda. Tonggak industrinya baru terpancang pada 1950-an ketika The Indonesian Music Company Limited mulai merekam musik menggunakan piringan hitam.

Sejak saat itu musik Indonesia terus berkembang dengan beberapa akselerasi. Ragam genre musik kemudian tumbuh subur di Indonesia karena masyarakatnya memiliki kecintaan dan selera yang tinggi terhadap musik.

Kini, industri musik Indonesia dianggap sebagai yang terbesar di Asia Tenggara. Pengaruhnya cukup membanggakan. Masyarakat negeri jiran seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam sangat menyukai karya para musisi Indonesia.

Begitu kuatnya daya pikat musik Indonesia hingga membuat Pemerintah Malaysia pernah membatasi pemutaran lagu-lagu Indonesia di radio-radio mereka. Kebijakan tersebut diprotes oleh warga Malaysia sendiri yang menganggap musik serta lagu dari Indonesia lebih enak dinikmati, kekinian, dan tidak membosankan.

Bagaimana Musik Eksis di Masa Lampau?

Sementara itu dalam konteks Nusantara, eksistensi musik di tengah masyarakat diyakini telah berkembang sejak berabad-abad lampau. Ini cukup masuk akal mengingat masyarakat Nusantara pada zaman dulu diketahui telah memiliki tingkat kebudayaan yang tinggi. Tinggalan sejarah seperti candi, perkakas logam, dan situs-situs bekas kerajaan menjadi buktinya.

Semua jejak peninggalan tersebut tidak sepenuhnya bersifat independen. Melainkan merupakan bentuk kebudayaan yang bertalian dengan kemampuan atau kecerdasan untuk mencipta, termasuk mencipta musik.

Secara sederhana dipahami bahwa jika masyarakat masa lampau bisa membuat perkakas dan membangun karya arsitektur, maka mereka pun bisa memproduksi benda-benda kesenian, seperti alat musik. Jika banyak di antara mereka mampu memahat batu, maka sangat mungkin sebagian lainnya punya bakat menabuh instrumen penghasil nada.

Relief di Candi Borobudur menampilkan kegiatan bermusik masa lampau | screenshot www.youtube.com/watch?v=0BFIV5yLQS8
Relief di Candi Borobudur menampilkan kegiatan bermusik masa lampau | screenshot www.youtube.com/watch?v=0BFIV5yLQS8
Jangan lupakan pula bahwa masyarakat Nusantara dikenal religius sejak dulu. Sejak masa pra Hindu-Budha, keyakinan terhadap roh nenek moyang dan kekuatan-kekuatan gaib yang mengatur kehidupan sudah dipegang oleh masyarakat Nusantara. Lalu pada masa Hindu-Budha, pengaruh agama semakin kuat.

Catatan pada prasasti maupun relief candi memperlihatkan bagaimana masyarakat Nusantara telah melakukan banyak ritual pemujaan dan praktik keagamaan. Sebagian bentuk ritual atau pemujaan tersebut masih dijumpai sekarang meski tidak sama persis. Menariknya dalam praktiknya ritual-ritual tersebut sering dibarengi dengan kegiatan memainkan musik.

Diduga kuat bahwa hal itu merupakan warisan dari masa lampau. Artinya sejak dulu kegiatan memainkan atau menabuh benda-benda untuk menghasilkan suara-suara ritmis  dan mistis telah dilakukan sebagai pengiring ritual pemujaan terhadap arwah atau dewa.

Representasi alat musik Keledik di relief Borobudur | screenshot www.youtube.com/watch?v=0BFIV5yLQS8
Representasi alat musik Keledik di relief Borobudur | screenshot www.youtube.com/watch?v=0BFIV5yLQS8
Seiring waktu dan berkembangnya pola kehidupan, masyarakat masa lampau menemukan bahwa menabuh benda-benda bisa jadi media penghibur. Bunyi-bunyian yang teratur dirasakan sebagai keindahan sehingga dengan memainkan atau mendengarnya hati bisa merasa senang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN