Mohon tunggu...
Wans Sabang
Wans Sabang Mohon Tunggu... anak hilang

Jejak Literasi: Puisi-puisinya pernah dimuat di Koran Sastra Dinamika (Lampung), Radar Bekasi (Bekasi), Buletin Jejak (Majalah Sastra, Bekasi), Buletin Kanal (Majalah Sastra, Semarang) dan Linikini (Tayangan Macro Ad di Commuterline), Koran Jawa Pos dan Koran Tempo.

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Syair Cinta Rumi (Menapaki Jalan Cinta Tuhan)

9 Desember 2012   10:54 Diperbarui: 24 Juni 2015   19:57 2558 2 4 Mohon Tunggu...

Syair Cinta Rumi

Adakah cinta yang lebih cinta dari pada “mabuk” cinta kepada Tuhan?.

Segala cinta yang lain akan pucat pasi, merasa rendah diri dan tak berharga jika dihadapkan pada cinta yang sakral. Kenikmatan cinta yang tak bisa di ungkap kata. Pengalaman cinta yang belum pernah dialami sebelumnya, begitu aneh dan langka. Sering orang menyebutnya sebagai : ekstase, de javu atau perjalanan astral.

Mabuk cinta yang biasa bersembunyi di luar pikiran dan tidak berdimensi tapi ia selalu didudukkan secara istimewa, bebas dari batasan rasa takut dan kekhawatiran. Seolah hiruk pikuk kehidupan tenggelam dalam keheningan dan helaan nafas panjang kala sang pemabuk “bersentuhan” dengan Yang Terkasih.

Mabuk dalam arti jiwa dan kata-kata. Ketika orang lain atau orang yang tidak mabuk akan melihat si pemabuk sebagai suatu pandangan yang tidak biasa dan aneh. Jiwa dan kata-kata si pemabuk seolah mempunyai daya sihir dan magis. Sebenarnya bukan karena terkena sihir atau magis lainnya tapi rasa cinta lah yang telah membuat mereka seperti demikian, seperti sang pemabuk. Mabuk cinta kepada Yang Terkasih karena mereka adalah orang-orang yang sedang menapaki jalan cinta Tuhan.

Oh Tuhan,

Telah ku temukan cinta!.

Betapa menakjubkan, betapa hebat, betapa indahnya…

Kuhaturkan puja-puji

bagi gairah yang bangkit

dan menghiasi alam semesta ini

maupun segala yang ada di dalamnya!. (Rumi).

Rumi lebih dikenal sebagai penyair sufi, sering menjadi sumber inspirasi bagi penyair sufi lainnya. Puisi-puisinya sering diciptakan secara spontan dikala ia menari, memutar-mutar tongkatnya dan kemudian para murid-murid mencatatnya.

Jika kita merasa tergerak untuk ikut menapaki jalan cinta mereka kepada Tuhan. Saking takjubnya, kita akan sering menghela nafas panjang ketika kita menemukan ekspresi mereka melalui kata-kata atau puisi-puisinya. Merenungi kata demi kata maka kita akan di mabuk cinta kepada Tuhan seperti yang sedang mereka rasakan juga.

Wahai para pencari mukjizat, kalian selalu menginginkan tanda-tanda.

Lantas dimanakah tanda-tanda itu?.

Engkau tidur menangis dan bangun pun tetap menangis.

Engkau mengharap yang tak mungkin tiba.

Sampai ia menggelapkan hari-harimu.

Engkau berikan segalanya, bahkan pikiranmu.

Engkau duduk di muka api, ingin jadi abu.

Dan ketika kau jumpai sebilah pedang.

Kau lemparkan dirimu ke arahnya.

Terjebak ke dalam hal-hal gila

tanpa harapan semacam ini…

Engkau akan menemukan tanda.

(Bagaimana Aku Bisa Tahu?, Rumi)

Walaupun mereka telah “hanyut” oleh tarian dan nyanyian para Darwis, para penduduk desa dan murid-murid yang terpesona mengelilingi Rumi masih merasa ragu untuk melemparkan dirinya ke dalam keadaan yang sedemikian gila.

Biarlah para kekasih gila, hina dan ganas.

Mereka yang meributkan hal-hal semacam itu tidak sedang kasmaran.

(Memberi Ruang Bagi Cinta, Rumi)

Tetapi bagi pecinta yang tergila-gila, ia tidak merasa takut. Sekalipun Tuhan Yang Terkasih tidak tampak, jauh dan tidak tersentuh fisik, keadaan mabuk cinta kepada Tuhan membuat ia rela menyerahkan seluruh jiwanya pada bara api yang menyala atau pada sebilah pedang yang terhunus.

Lewat malam hadir sebuah lagu lembut mendayu.

Pada saat aku tak bisa mendengarnya.

Aku akan tiada. (Suara-Suara Malam, Rumi)

Para penari Sema berputar-putar. Rok lebar yang dikenakan para penari berkibar indah, berputar-putar semakin cepat, semakin panjang seirama alunan musik pengiring. Bahwa semua proses kehidupan manusia adalah sebuah perputaran, begitulah makna dari Tarian Sema. Dari ada, lalu tiada. Dari duka, lalu bahagia.

Butir-butir debu dalam cahaya.

Itu tarian kita juga.

Kita tidak menyimak yang ada di dalam untuk mendengar musik.

Tak apa …

Tarian ini terus berlanjut,

dan dalam kebahagiaan sang surya.

Tersembunyilah Tuhan

Yang mengajarkan kepada kita

bagaimana caranya menari. (Tarian, Rumi)

Di tengah-tengah Tari Sema meluncur dari mulut Rumi bait-bait puisi bagai nyanyian suci memuji Tuhan.

Bila tak kunyatakan keindahan-Mu dalam kata,

Kusimpan kasih-Mu dalam dada.

Bila kucium harum mawar tanpa cinta-Mu,

Segera saja bagai duri bakarlah aku.

Meskipun aku diam tenang bagai ikan,

Tapi aku gelisah pula bagai ombak dalam lautan

Kau yang telah menutup rapat bibirku,

Tariklah misaiku ke dekat-Mu.

Apakah maksud-Mu?

Mana kutahu?

Aku hanya tahu bahwa aku siap dalam iringan ini selalu.

Kukunyah lagi mamahan kepedihan mengenangmu,

Bagai unta memamah biak makanannya,

Dan bagai unta yang geram mulutku berbusa.

Meskipun aku tinggal tersembunyi dan tidak bicara,

Di hadirat Kasih aku jelas dan nyata.

Aku bagai benih di bawah tanah,

Aku menanti tanda musim semi.

Hingga tanpa nafasku sendiri aku dapat bernafas wangi,

Dan tanpa kepalaku sendiri aku dapat membelai kepala lagi.

(Pernyataan Cinta, Rumi)

Melalui puisi-puisinya Rumi menyampaikan bahwa pemahaman atas dunia hanya mungkin didapat lewat cinta, bukan semata-mata lewat kerja fisik atau otak semata. Cinta adalah lautan tak bertepi. langit hanyalah serpihan buih belaka. Ketahuilah langit berputar karena gelombang Cinta. Andai tak ada Cinta, Dunia akan membeku. Cinta yang dimaksud adalah cinta Yang Terkasih kepada hambanya.

Jika engkau bukan seorang pencinta,

maka jangan pandang hidupmu adalah hidup

Sebab tanpa cinta, segala perbuatan tidak akan dihitung pada Hari Perhitungan nanti.

Setiap waktu yang berlalu tanpa Cinta,

akan menjelma menjadi wajah yang memalukan dihadapan-Nya.

Burung-burung Kesadaran telah turun dari langit

dan terikat pada bumi sepanjang dua atau tiga hari

Mereka merupakan bintang-bintang di langit

agama yang dikirim dari langit ke bumi

Demikian pentingnya "Penyatuan" dengan Allah

dan betapa menderitanya "Keterpisahan" dengan-Nya.

.. .. .. .. .. .. .. .. .. ..

(Tanpa Cinta, Segalanya Tak Bernilai, Rumi)

Dalam puisinya Rumi juga mengajarkan bahwa hendaklah Tuhan, sebagai satu-satunya tujuan hidup, tidak ada tujuan lainnya yang menyamai.

Wahai angin, buatlah tarian ranting-ranting

dalam zikir hari yang kau gerakkan dari Persatuan

Lihatlah pepohonan ini!.

Semuanya gembira bagaikan sekumpulan kebahagiaan

Tetapi wahai bunga ungu, mengapakah engkau larut dalam kepedihan ?

Sang lili berbisik pada kuncup, “Matamu yang menguncup akan segera mekar.

Sebab engkau telah merasakan bagaimana Nikmatnya Kebaikan.”

Di manapun, jalan untuk mencapai Kesucian Hati

adalah melalui Kerendahan Hati.

Hingga dia akan sampai pada jawaban “Ya” dalam pertanyaan,

"Bukankah Aku ini Rabbmu ?”

(Tanpa Cinta, Segalanya Tak Bernilai, Rumi)

Sang pemabuk cinta adalah seseorang yang telah tergugah hati nuraninya. Berani disebut "beda" karena pada dasarnya ia telah "terbebaskan". Merdeka dari belenggu hawa nafsunya. Memandang dunia dan seisinya tidak lebih berharga dibandingkan sepasang sayap seekor lalat.

Seorang Rumi menyadari bahwa sehebat-hebatnya manusia di mata Tuhan-Nya, tak lebih dari sekedar hamba faqir, hamba hina, hamba yang tak berdaya dan tidak memiliki kuasa apa pun di hadapan Sang Maha Besar,

Puncak percintaan antara sang kekasih dengan Yang Terkasih adalah meleburnya diri dan ke-akuan sang kekasih kepada Sang Khalik. Tanpa meleburkan diri, sirna dan fana' kepada-Nya hijab makrifat Allah akan mustahil tersingkap.

Betapa tak ’kan sedih aku, bagai malam,



tanpa hari-Nya serta keindahan wajah hari terang-Nya?
Rasa pahit-Nya terasa manis bagi jiwaku:

semoga hatiku menjadi korban bagi Kekasih yang membuat pilu hatiku!




Aku sedih dan tersiksa karena Cinta demi kebahagiaan Rajaku yang tiada bandingnya.
Titik air mata demi Dia adalah mutiara, meski orang menyangka sekedar air mata.
Kukeluhkan jiwa dari jiwaku, namun sebenarnya aku tidak mengeluh: aku cuma berkisah.
Hatiku bilang teriksa oleh-Nya, dan kutertawakan seluruh dalihnya.




Perlakukanlah aku dengan benar, Oh Yang Maha Benar,

Oh Engkaulah Mimbar Agung, dan akulah ambang pintu-Mu!





Di manakah sebenarnya ambang pintu dan mimbar itu?.

Di manakah sang Kekasih, di manakah “kita” dan “aku”?
Oh Engkau, Jiwa yang bebas dari “kita” dan “aku”,

Oh Engkaulah hakekat ruh lelaki dan wanita.





Ketika lelaki dan wanita menjadi satu,

Engkau-lah Yang Satu itu; ketika bagian-bagian musnah, Engkau-lah Kesatuan itu.





Engkau ciptakan ”aku” dan ”kita” supaya memainkan puji-pujian bersama diri-Mu,
Hingga seluruh ”aku” dan ”engkau” dapat menjadi satu jiwa serta akhirnya lebur dalam sang Kekasih.

(Cinta Dalam Ketiadaan, Rumi)






Kemesraan sang kekasih dengan Yang terkasih bukan hanya upaya sang kekasih dalam meleburkan diri dan ke-akuannya semata. Tanpa fadhal dan rahmat-Nya jua, seorang hamba hanya akan menapaki jalan-jalan sepi dan sunyi. Kering kerontang dalam kebimbangan dan keraguan. Resah dalam kegelisahan. Karena lezatnya iman belum terasakan. Wallahu'alam.

.. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. ..

Bagaimana buih dapat melayang tanpa ombak?.



Bagaimana debu terbang ke puncak tanpa angin?
Bila kaulihat debu, lihatlah pula Sang Angin.

Bila kau lihat buih, lihat pula Sang Samudra Tenaga Penciptanya.




Mari perhatikanlah, karena penglihatan batinlah satu-satunya yang paling berguna dalam dirimu.

Selebihnya adalah keping-keping lemak dan daging, pakaian dan pembungkus tulang dan nadi.





Leburkanlah seluruh tubuhmu ke dalam Penglihatan Batin: lihat, lihat, lihatlah!
Sekilas hanya sampai pada satu dua depa jalan.

Pandangan cermat akan alam duniawi dan spiritual menyampaikan kita pada Wajah Sang Raja.

(Duka Cita Kematian, Rumi)

*****



Menapaki Jalan Cinta Tuhan ; Syair Cinta Rumi, 061212



VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x